infosawit

Penerapan Biodiesel sawit 40% (B40) di 2022, Ini Strateginya



Dok. InfoSAWIT
Penerapan Biodiesel sawit 40% (B40) di 2022, Ini Strateginya

InfoSAWIT, JAKARTA  – Sebelumnya Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, pemerintah telah menetapkan sebanyak 22 Badan Usaha (BU) BBN untuk pengadaan biodiesel dalam program penyaluran BBN tahun depan pada 14 Oktober 2021 lalu.

Sementara untuk Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BBM), Direktorat Jenderal (Ditjen) Minyak dan Gas (Migas) telah mengusulkan sebanyak 18 BU Bahan Bakar Minyak (BBM) di tanggal 23 Oktober 2021. Rencananya, volume penyaluran biodiesel tahun depan berjumlah 10,1 juta kiloliter (KL). “Keputusan Menteri ESDM untuk program penyaluran BBN tahun depan, masih diproses,” ujar Dadan kepada wartawan.

Sementara itu upaya peningkatan kualitas green diesel yang digagas Pertamina mash terus berlangsung, bahkan diungkapkan Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional Djoko Priyono, proses peningkatan kualitas treated distillate hydro treating (TDHT) sedang dilakukan.

Proses peningkatan kualitas pemroses kilang Cilacap tersebut ditargetkan rampung pada Desember tahun 2021. “Kami sedang ekspansi Kilang Cilacap per 1 November 2021 kemarin, upgrade kilang TDHT sampai Desember 2021, Januari 2022 bisa produksi D100 sebanyak 3.000 barel per hari. Nanti berikutnya akan kami kembangkan menjadi 6.000 barel per hari,” jelasnya dalam webinar belum lama ini dihadiri InfoSAWIT.

Lantas diungkapkan Sub-Koordinator Pelayanan dan Supervisi Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM, Herbert Wibert Victor Hasudungan, upaya penerapan campuran biodiesel 40% atau tren disebut B40 akan tetap dilakukan, namun skenario yang dilakukan bisa saja tidak seluruh menggunakan biodiesel dari esterifikasi, atau FAME.

Namun akan di kombinasi dengan penggunaan green diesel, yang sudah dilakukan di Plaju Cilacap. “Bisa saja skenario B40 itu adalam penggunaan biodiesel dari esterifikasi Sebanyak 30% dan sebanyak 10% berasal dari Hydrogenated Vegetable Oil (HVO), namun ini masih dalam proses pengkajian,” katanya.

Ini dilakukan lantaran pencampuran minyak solar berbasis fosil dengan FAME, tidak semudah yang dibayangkan lantaran banyak pertimbangan teknis yang harus diperhatikan. Kata Herbert Wibert, usulan 10% berasal dari HVO lantaran teknologi ini dianggap mampu menghasilkan minyak solar yang persis sama dengan minyak solar berbasis fosil. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit