infosawit

Uni Eropa Meregulasi Pasar Minyak Sawit Secara Ketat



Uni Eropa Meregulasi Pasar Minyak Sawit Secara Ketat

InfoSAWIT, JAKARTA - Lantaran memiliki modal sebagai kawasan dengan pangsa pasar besar dan aktraktif, semisal perdagangan minyak nabati termasuk minyak sawit, membuat negara lain banyak berminat mengakses pasar Uni Eropa, namun harus mengikuti standar di kawasan tersebut. Awalnya Uni Eropa melakukan global norm setting dan menjelma menjadi global regulatory power.

Modal itu berupa single market dari 27 negara anggota Uni Eropa  dengan 516 juta populasi, GDP terbesar ke 2 di dunia senilai US$ 17 triliun dan GDP per-kapita sejumlah US$ 40.900, share untuk Gross National Income global lebih dari 20%, serta menjadi  importir barang dan jasa terbesar ke 2 di dunia.

Untuk saat ini Uni Eropa bahkan menerbitkan kebijakan yang mengancam perdagangan yakni kebijakan European Green Deal (EGD), merupakan kesepakatan negara-negara Uni Eropa mencapai net zero emission di tahun 2050. Kebijakan ini lantas dirangkum dalam kebijakan Fit for 55 merupakan aturan implementasi EGD dalam bentuk 13 proposal paket kebijakan (8 revisi kebijakan & 5 kebijakan baru) dalam rangka capai tujuan pengurangan emisi hingga 55% pada 2030. Kebijakan ini ditengarai bakal berdampak pada semua sektor, termasuk pasar minyak sawit.

Bahkan beberapa negara yang kepentingannya di pasar Eropa bakal terancam, sudah bersiap-siap mengajukan gugatan ke WTO. “Ini akan ramai, seperti banyak negara lainnya, Indonesia pun akan terkena dampak EGD,” kata Duta Besar RI untuk Brussel, Andri Hadi, dalam sebuah webinar yang dihadiri InfoSAWIT, pertengahan September 2021 lalu.

Kebijakan ini mendorong perdagangan minyak sawit mesti sesuai EU Forest Strategy mereka, yang menetapkan syarat traceabillity atau keterlacakan rantai pasok mulai dari hulu sampai hilir. Begitu pula dengan ketentuan tentang “produk hijau” di mana Uni Eropa akan memperketat persyaratan bila komoditas-komoditas kategori Forest and Ecosystem Risk Commodities ingin masuk ke pasar Uni Eropa.

Isu deforestasi juga jadi penghalang perdagangan minyak sawit Indonesia. “Aktivitas ekonomi dan investasi di pasar Eropa harus bebas dari isu deforestasi, lingkungan hidup, dan HAM,” tegas Andri Hadi.

Namun, meskipun serangan terhadap industri minyak sawit nasional sangat terasa, tampak ada dikotomi antara minyak sawit sebagai produk pangan di satu sisi dan produk energi di sisi lain. Hambatan ditujukan pada biodiesel dari sawit .

”Tetapi produk kelapa sawit tetap mereka impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ini terjadi karena produk minyak nabati lain seperti rapeseed, soya, sun flower tidak akan pernah bisa menggantikan sawit. Saya yakin ini,” katanya.

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Oktober 2021


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit