infosawit

Anggapan Keliru Tentang Budidaya Hutan, Antara Sawit dan Tanaman Hutan (Sambungan)



Dok. InfoSAWIT
Anggapan Keliru Tentang Budidaya Hutan, Antara Sawit dan Tanaman Hutan (Sambungan)

InfoSAWIT, JAKARTA – Sederhanakah usulan memasukkan sawit dalam tanaman hutan hanya berdasarkan beberapa alasan yang telah disampaikan pada artikel sebelumnya?

Padahal, masih perlu diperdebatkan lebih panjang lagi dan belum melihat dari sisi mendasar lain seperti budidaya hutan (silvikultur), regulasi, pemahaman data dan lingkungan (ekologis/hidrologis, emisi karbon). Mari kita bahas satu persatu dari sisi lain tersebut.

Melanjutkan tulisan sebelumnya, yang perlu dipetimbangkan adalah setelah memahami komposisi kawasan hutan baca link  https://www.infosawit.com/news/11676/anggapan-keliru-tentang-budidaya-hutan--antara-sawit-dan-tanaman-hutan.

Maka Kedua, secara budidaya hutan (silvikultur), core bisnisnya adalah kayu yang berkualitas tinggi, bukan hasil hutan non kayu (hasil hutan ikutan). Sementara untuk tanaman sawit core bisnisnya adalah buah sawit (Tandan Buah Segar/TBS) sementara kayu sawit sebagai hasil ikutannya saja.

Secara bisnis perkayuan, kayu tanaman sawit tidak mempunyai nilai ekonomis yang menguntungkan. Dengan jarak tanam 9 x 9 m, yang dalam luasan satu hektare hanya terdiri dari 123 batang tanamam dengan tinggi kayu yang tidak lebih dari 15 meter, maka dalam satu hektare tanaman dapat dipastikan kayu dari pohon sawit yang dapat diperoleh kurang dari 25 kubik.

Padahal dalam hutan alam saja satu hektar dapat diperoleh kayu sebesar 40 – 50 meter kubik kayu per hektare dengan sistem silvikultur tebang pilih tanam Indonesia (TPTI), sementara pada hutan tanaman dalam satu hektar hutan tanaman mampu diperoleh kayu lebih dari 100 m kubik per hektare. Bahkan dalam hutan tanaman industri jenis Acasia mangium dan daur 8 tahun, mampu menghasilkan kayu bulat sebesar  165,89 m3  per hektar.

Ketiga, seandainya tanaman sawit dapat digolongkan sebagai tanaman hutan, maka aturan budidaya hutan harus diberlakukan yakni pengaturan jarak tanaman dengan penjarangan dan pemangkasan cabang dan ranting pohon sawit untuk mendapatkan kayu yang berkualitas tinggi, mungkinkah?.  Jelas tidak mungkin, karena pemangkasan dan penjarangan tanaman akan mempengaruhi hasil tandan buah segar sawit sebagai hasil utama tanaman sawit.

Keempat, definisi hutan tidak sekedar lahan dalam luasan tertentu yang ditutupi tanaman tetapi lebih dari itu harus mampu menciptakan iklim mikro.  Definisi sawit sebagai tanaman hutan biasanya mengacu pada definisi hutan dari Badan Pangan Dunia. Pada 2010, FAO mendefinisikan hutan sebagai suatu hamparan lahan dengan luas lebih dari 0,5 hektare yang ditumbuhi oleh pepohonan dengan tinggi lebih dari 5 meter dan dengan penutupan tajuk lebih dari 10% atau ditumbuhi oleh pohon-pohon yang secara alami (asli) tumbuh di tempat itu dengan tinggi pohon dapat mencapai lebih dari 5 meter.

Sementara yang terbaru, definisi menurut Peraturan Menteri Kehutanan digabungkan ke dalam “definisi kerja” UNFCCC Indonesia untuk melaksanakan Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) yang dibakukan dalam Tingkat Emisi Rujukan Deforestasi dan Degradasi Hutan Nasional Indonesia (FREL). Menurut definisi baru ini hutan adalah suatu areal lahan lebih dari 6,25 hektare dengan pohon lebih tinggi dari 5 meter pada waktu dewasa dan tutupan kanopi lebih dari 30%.

Apakah sawit masuk dalam kriteria ini? Dengan jarak tanam 9 x 9 meter, dalam satu hektare lahan akan berisi sebanyak 123 batang sawit. Jika setengah hektare, maka hanya ada 62 batang sawit. Iklim mikro apa yang bisa diciptakan dari habitat sekecil ini?

Kelima, dari aspek lingkungan, hutan tanaman, karena ia pohon, masih punya fungsi hidrologis menyimpan air karena sistem perakaran yang dalam. Meski sawit bukan tanaman rakus air dibandingkan tanaman lain, akarnya yang pendek membuat ia tak mampu menyimpan air dalam jumlah banyak seperti pohon, apalagi setara dengan ekosistem rawa gambut. Fungsi hidrologis tanaman perkebunan juga buruk. Bahkan penelitian di Chile menyebutkan bahwa tanaman monokultur, bahkan jika ia pohon, tak baik sebagai pengendali iklim. Tanaman monokultur sedikit menyerap karbon karena mereka bersaing memperebutkannya, tidak saling berbagi seperti halnya hutan alam yang menyimpan keragaman hayati tinggi.

Kesimpulannya adalah sebaiknya diurungkan saja niat untuk memperluas tanaman sawit di kawasan hutan non tutupan hutan yang tersisa tidak lebih dari dua juta hektare (bukan 41 juta hektare sebagaimana yang dimaksud Teguh Patriawan). Lagian telah ada 3,1 -3,4 juta hektare yang sudah terlanjur masuk dalm kawasan hutan sebagai sawit ilegal yang sementara diselesaikan oleh pemerintah dengan PP 24/2021. Disarankan  apabila ingin memperluas kebun sawit darahkan dalam kawasan APL non tutupan hutan yang masih cukup luas yakni 60,3 juta hektare sebagai jalan tengah.

(Penulis: Pramono Dwi Susetyo / Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Penulis Buku “Seputar Hutan dan Kehutanan: Masalah dan Solusi”)

(Tamat)

 


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit