infosawit

Harga CPO Akan Terus Meroket



Foto: Hendra_sawitfest 202
Harga CPO Akan Terus Meroket

InfoSAWIT, JAKARTA - Harga jual CPO sejak akhir tahun 2020, terus mengalami kenaikan. Harga yang meroket, berhasil mendampuk harga tertinggi pada RM 5160/ton atau sekitar US$ 1.241/ton. Meroketnya harga CPO, menjadi indikasi kuat, akan besarnya permintaan pasar global akan kebutuhan konsumsi minyak sawit yang digunakan sebagai minyak makanan dan non makanan.

Fluktuasi harga CPO yang kerap dialami, seringkali dihubungkan dengan keberadaan biodiesel yang digadang-gadang akan menjadi sumber energi alternatif di masa depan. Keberadaan biodiesel, kerap menjadi bagian dari kunci sukses pembangunan industri hilir nasional. Alhasil, pemberdayaan industri hilir berhasil mengolah CPO menjadi produk hilir yang memiliki nilai tambah tinggi bagi negara.

Keberadaan biodiesel sawit, seolah-olah juga menjadi bagian dari pertikaian minyak nabati global, dimana perkembangan minyak nabati berawal sebagai bahan baku minyak makanan. Dalam pertumbuhannya, industri minyak nabati bersama-sama dengan minyak hewani dikonsumsi manusia sebagai minyak dan lemak yang memiliki kegunaan utama sebagai minyak makanan.

Kemudian minyak nabati juga digunakan sebagai bahan baku minyak non makanan yang penggunaannya masih terbatas, sebagai bahan baku alternatif bagi berbagai produk kebersihan yang dikenal sebagai surfactan (Surface Active Agent) dan berbagai produk kosmetik. Dengan memiliki keunggulan utama sebagai produk ramah lingkungan dan terbarukan.

Dengan meluasnya kegunaan produk turunan minyak nabati inilah, maka keberadaan minyak sawit juga menjadi bagian didalamnya. Alhasil, berbagai turunan minyak nabati ini, juga dapat menggunakan minyak sawit sebagai bahan bakunya. Hingga, minyak nabati pun menjadi bahan baku minyak bio energi yang dikenal sebagai biodiesel. Hingga menimbulkan kegaduhan besar dan pertikaian global akan kegunaan minyak nabati sebagai minyak makanan atau minyak bahan bakar.

Pertikaian dunia akan keberadaan minyak nabati untuk minyak makanan dan energi semakin menjadi. Lantaran permintaan CPO untuk minyak makan dari India dan Cina terus mendaki. Di sisi lain, pasar Uni Eropa kian berang akan keberadaan CPO yang kian populer dikalangan masyarakatnya. Hingga posisi CPO yang terus menguat paska referendum lalu.

Pasar global seolah terbagi menjadi dua bagian besar. Lantaran, sebagian ingin terus mengonsumsi minyak sawit mentah (CPO) sebagai minyak makanan, sedangkan sebagian lainnya, ingin menggunakan CPO sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Wajar, bila kemudian, pasar global selalu bergejolak akibat tingginya permintaan konsumen akan minyak sawit yang kian populer.

Kini mata konsumen dunia, seolah-olah memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Indonesia. Pasalnya, sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, Indonesia berhasil menjadikan minyak sawit dan produk turunannya sebagai produk berkualitas dan berkelanjutan yang menghasilkan devisa besar bagi negara.

Sejak mengalahkan produksi Malaysia pada 2006 silam, dengan konsisten dan berkelanjutan, Indonesia terus meningkatkan produksi CPO yang berasal dari perkebunan kelapa sawit nasional. Produksi CPO Indonesia juga kian mendaki, meninggalkan Malaysia yang mengalami stagnasi pertumbuhan produksinya. Lantaran, tak memiliki lahan perkebunan dan tenaga kerja yang mencukupi untuk mengembangkan industri sawit di negaranya.

Di sisi lain, produksi CPO di Indonesia juga mengalami perlambatan, akibat lahan yang kian terbatas dan rumitnya regulasi yang seringkali tumpang tindih. Alhasil, produksi CPO kian melambat, sedangkan konsumsi pasar global kian meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan penduduk di suatu negara.

Potensi dari meningkatnya kebutuhan konsumsi pasar global inilah, yang menjadi biang keladi dari terus bertumbuh pesatnya luasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Lantaran, pertumbuhan konsumsi pasar globa, hanya mampu dipenuhi melalui produksi minyak sawit terutama dari Indonesia. Pasalnya, produktivitas yang tinggi dan rendahnya penggunaan lahan, menjadi bagian dari kunci sukses pembangunan minyak nabati dunia.

Tanpa kehadiran minyak sawit, maka planet bumi akan kian rusak digunakan sebagai lahan perkebunan minyak nabati lainnya yang notabene memiliki produktivitas rendah. Sehingga, wajar jika pilihan konsumen global kepada minyak sawit yang mampu menjadi satu-satunya minyak nabati berkelanjutan dunia.

 Tentunya, dunia sangat berharap kepada negara Indonesia, untuk terus mengembangkan perkebunan kelapa sawit, guna memenuhi permintaan pasar global. Seiring berbagai upaya mewujudkan minyak sawit berkelanjutan, maka pasar global juga menyambutnya dengan peningkatan konsumsi yang setiap tahunnya selalu meningkat.

Merujuk seruan Presiden Jokowi yang memberikan isyarat akan mengehentikan ekspor CPO ke luar negeri, seruan ini, juga sebagai pengingat kepada konsumen global terutama negara-negara maju, untuk mau mengikuti jejak langkah industri minyak sawit yang sudah berhasil menjadi minyak nabati berkelanjutan , berdasarkan prinsip dan kriteria berkelanjutan yang berlaku universal.

Kendati banyak pihak terkejut dengan seruan ini, namun seruan Presiden Jokowi ini, juga dapat menjadi peringatan bagi pasar ekspor CPO di luar negeri, terutama pasar Uni Eropa akan adanya kemungkinan pembatasan hingga larangan bagi pasar ekspor CPO. Lantaran, akan menimbulkan turbulensi pasokan pasar global dan keterbatasan, yang mengakibatkan melonjaknya harga jual CPO.

Sebab itu, seruan larangan ekspor CPO dari Presiden Jokowi ini, harus menjadi warning bagi negara pengimpor CPO yang selalu menggangu lalu lintas perdagangannya. Jangan sampai, ketika CPO Indonesia tidak lagi bisa di ekspor, maka negara tersebut akan mengalami krisis minyak makanan hingga minyak non makanan.

Jika menilik data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2021 lalu, maka potensi akan larangan ekspor CPO Indonesia sangat mungkin terjadi. Lantaran, pada tahun 2020 lalu, ekspor CPO hanya sebesar 7,2 juta ton. Sedangkan ekspor produk turunan CPO  telah mencapai 34 juta ton. Disisi lain, serapan pasar domestik juga kian bertumbuh, mencapai 17,3 juta ton, dan masih akan bertumbuh, sejalan akan pertumbuhan jumlah penduduk dan mandatori biodiesel di Indonesia.

Hasilnya, harga CPO akan terus meroket dan bersaing dengan harga minyak nabati lainnya di pasar global. Sebab itu, negara pengimpor CPO harus segera bergegas melakukan diplomasi politik, guna mengamankan keberadaan CPO bagi negaranya.  

Editorial Majalah InfoSAWIT Edisi Oktober 2021


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit