infosawit

Saatnya Melihat Sawit Dengan Hati



Foto: Nggi Praditha Septiany/SawitFest 2021
Saatnya Melihat Sawit Dengan Hati

InfoSAWIT, JAKARTA - “Kalau sudah berbuah kebun sawit kita ini nanti, masa depanmu akan aman.” Sepertinya Ayah menangkap raut malas yang terpancar di muka Saya. Dengan lengan yang sangat berat Saya letakkan bibit sawit yang Saya papah ke tepi lubang yang sudah digali Ayah. Bibit itu kemudian tenggelam di dalam tanah dan dirawat dengan sepenuh hati oleh Ayah dan Ibu.

Kala itu pertengahan tahun 2000, dan Saya baru kelas tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs). Soal pentingnya sawit buat masa depan sama sekali tidak menggema di benak Saya. Sebab bagi Saya pendidikan Saya di Kota Jambi selama ini lancar saja dengan uang hasil kebun karet.

Tapi insting Ayah tidak meleset. Tahun 2007 harga karet runtuh ke angka Rp 3.500 per kilogram, dan tidak pernah naik lagi ke harga sebelumnya yang mencapai Rp 20.000. Pendidikan Saya di kota Jambi pun dilanda kesulitan dan ketidakpastian.

Di tanah kelahiran Saya kondisinya tidak jauh berbeda. Muka-muka lesu tak berdaya Saya jumpai di setiap sudut kampung. Pasar yang biasanya penuh sesak oleh manusia, apa lagi menjelang lebaran, menjelma menjadi kota mati.

Lebih satu dekade waktu berlalu, keadaan di kampung Saya kini sudah jauh berubah. Ekonomi masyarakat sudah menggeliat lagi. Wajah yang dulu murung kini dihiasi senyum. Sulit disangkal, kehidupan yang lebih baik ini tak lain berkat sawit yang telah memberikan jalan keluar dari buntunya ekonomi komoditas karet.

Jika menilik data, sawit telah merevolusi sektor perkebunan di Jambi yang selama berabad-abad bergantung dengan karet. Dalam kurun waktu 2007-2017 luas tanaman perkebunan sawit di Jambi mengalami kenaikan signifikan, dari 430.610 hektar ke 497.984 hektar. Di kabupaten Saya, Tebo, kenaikannya juga cukup tajam, dari 34.510 hektar ke 59.468 hektar. Bahkan untuk 2021 Jambi masuk di antara tujuh provinsi di Indonesia dengan luas perkebunan sawit di atas satu juta hektar.

Tren serupa juga terjadi di banyak wilayah Indonesia, dari Sumatera sampai Papua. Luas area tanam sawit di tujuh kabupaten di Riau, provinsi dengan lahan sawit terluas di Indonesia, bahkan jauh lebih masif dari perkebunan dan tanaman pangan lain, dengan rerata dominasi di atas 80%.

 

Resiliensi dan Kontribusi

Tingginya preferensi masyarakat terhadap sawit, selain karena jatuhnya harga karet, adalah ingatan kolektif akan resiliensi lintas zaman komoditas unggulan ini. Rontoknya ekonomi nasional akibat jatuhnya nilai tukar rupiah di krisis moneter 1998 lalu tidak serta merta meluluhlantakkan sendi perekonomian.

Di daerah penghasil sawit dengan sektor perkebunan yang sudah berkembang krisis dapat tertahan. Bahkan pada periode 1999-2000, atau setahun setelah krisis, hasil penjualan produk Crude Palm Oil (CPO) Indonesia kian membesar di pasar global. Karena alasan resiliensi ini, sawit kemudian dinobatkan sebagai penyelamat ekonomi nasional di masa krisis 1998. Resiliensi yang sama ditunjukkan sawit saat krisis finansial 2008, dengan tetap kokoh menyumbang 1,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Di tahun-tahun selanjutnya sektor sawit kian menunjukkan kekuatannya terhadap perekonomian Indonesia. Dalam periode 2012-2019, atau sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan nilai net ekspor non migas Indonesia terus mengalami defisit. Defisit ini ditutup oleh pertumbuhan devisa sawit dan produk turunannya sehingga neraca perdagangan non migas pun bisa surplus.

Di tengah terpaan badai pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian nasional resesi CPO sawit justru menunjukkan kenaikan harga cukup signifikan. Pada Agustus 2020 CPO Indonesia dihargai US$ 700 per ton di pasar internasional. Nilai ini secara rata-rata lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Komoditas sawit dan turunannya juga terus mengalami kenaikan permintaan di dalam negeri.

Di periode awal Covid-19 (Januari-Juni) permintaan tercatat sebesar 8,6 juta ton, lebih tinggi dari tahun sebelumnya secara year-on-year. Kenaikan ini dipicu oleh besarnya konsumsi minyak goreng dalam negeri dan banyaknya produk, dari kosmetik sampai kesehatan, yang membutuhkan sawit sebagai bahan baku. Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri sawit juga menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor sebesar 22.97 miliar dolar (2020), atau tumbuh sebesar 13.6% dari 2019.

Resiliensi sawit ikut dirasakan oleh keluarga dan masyarakat kampung Saya. Kekhawatiran akan terulangnya tragedi anjloknya harga karet seperti di masa silam tidak terjadi. Bahkan efek ekonomi selama pandemi sama sekali tidak terasa. Tidak ada PHK, pengurangan gaji, maupun penutupan perkebunan dan pabrik. Semua berjalan seperti biasa, dan harga sawit terus menjulang tinggi.

Dengan luas total tutupan lahan sawit mencapai 16.38 juta hektar dan rata-rata produksi CPO 45 juta ton per tahun (2019), lebih dari 65% kebutuhan minyak sawit dunia ditopang oleh Indonesia. Permintaan dan konsumsi minyak sawit asal Indonesia di Uni Eropa juga meningkat cukup signifikan dalam dua dekade terakhir.

Pentingnya komoditas sawit dan besarnya pangsa pasarnya di dunia internasional inilah yang sepertinya mendorong Uni Eropa untuk membatasi impor sawit Indonesia melalui kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II. Sawit menghadirkan ancaman serius terhadap industri minyak nabati beberapa negara anggota Uni Eropa. Terlebih pasar minyak nabati di Eropa sangat  kompetitif, di mana minyak sawit sebagai komoditas pendatang merupakan salah satu pemain utama.

Oleh karena itu, isu pembatasan ini sejatinya hanya perang dagang yang dilancarkan Uni Eropa. Indikasi persaingan dagang itu kian kentara dengan enggannya Belanda mengikuti aturan RED II, mengingat posisinya sebagai negara produsen minyak sawit, melalui kerjasama dengan Indonesia. Indikasi lainnya adalah ulasan media di Eropa yang membingkai sawit dengan pengrusakan hutan dan merekomendasikan minyak nabati lain sebagai solusi.

Dalam teori framing ilmu media, ini merupakan strategi media untuk mempengaruhi pembaca dengan menyusupkan pandangan tertentu terhadap suatu isu. Tujuannya adalah merusak citra sawit dan menaikkan pamor komoditas pengganti. Tapi meski demikian,tetap saja sawit perkasa. Riset menemukan bahwa pembatasan impor minyak sawit oleh Uni Eropa tidak begitu berdampak atas geliat industri sawit dan perekonomian Indonesia.

 

Tetap Jadi Tumpuan

Dengan resiliensi yang teruji zaman dan kontribusi luar biasa terhadap perekonomian nasional, tidak berlebihan mengatakan jika sawit akan tetap menjadi andalan serta harapan. Sawit merupakan komoditas yang mudah dibudidaya, tidak sama dengan karet yang harus disadap setiap hari. Sawit hanya membutuhkan pemupukan dan perawatan berkala. Setelah itu panen bisa dilakukan secara reguler. Ini belum lagi dengan harga sawit yang relatif stabil, sebagaimana yang ditunjukkannya dalam beberapa tahun terakhir. Maka tidak heran jika banyak masyarakat di Jambi, termasuk di kampung Saya berlomba-lomba menanam sawit karena komoditas ini telah terbukti menggerakkan roda ekonomi.

Ini juga yang menjadi alasan mengapa warga di daerah Saya banyak yang menolak kerjasama Perhutanan Sosial dengan perusahaan bubur kertas. Bagi mereka akasia tidak menguntungkan dan hasilnya tidak bisa diraup per bulan karena akasia baru bisa dipanen setelah lima tahun. Realita ini tentu tidak masuk dalam hitung-hitungan mereka yang harus menghidupi keluarga setiap hari. Maka banyak dari mereka sampai hari ini berjalan sendiri menanam sawit, alih-alih mengikuti kehendak perusahaan bubur kertas.

Sawit juga bisa menjadi solusi lapangan kerja untuk kaum milenial dan Generasi Z, baik melalui jalur formal di perusahaan maupun sebagai petani mandiri. Khusus untuk yang terakhir, sudah banyak buktinya di antara teman-teman Saya yang kini menjadi bos muda karena memiliki beberapa hektar kebun sawit.

Sudah belasan tahun masa berganti sejak Saya tertatih-tatih membantu Ayah menanam sawit dulu. Sawit-sawit itu kini menjulang tinggi seperti pohon kelapa. Sebagai ungkapan rasa syukur, setiap pulang kampung Saya selalu mengunjungi mereka. Bagi Saya mereka adalah saksi sejarah dengan jasa yang tiada ternilai. Andai tidak ada kebun sawit sepetak itu sudah pasti Saya terhenti di bangku sekolah yang artinya Saya tidak akan bisa menulis esai ini. Berkat kebun sawit sepetak itu juga Saya bisa kuliah, yang kemudian memberikan jalan kepada Saya untuk memenangi berbagai beasiswa ke luar negeri.

Tapi tentu saja jasa sawit bukan untuk Saya sendiri. Jutaan anak bangsa lain, terutama pemuda-pemudi dari daerah Saya, juga menikmati kebaikan sawit sehingga mereka bisa menjadi sarjana, dokter, guru, atau bidan.

Oleh karena itu, melihat Indonesia dari sawit tidak cukup menggunakan mata saja, tetapi harus disertai dengan hati. Sebab, sebagaimana yang diungkapkan H. Jackson Brown, Jr., penulis kenamaan Amerika, “Sometimes the heart sees what is invisible to the eye”, kadang hati bisa melihat apa yang luput oleh mata. Ya, bagi Saya dan jutaan putra-putri petani sawit lainnya, sawit bukan sekedar pohon biasa tetapi pahlawan dengan jasa yang tiada tara. (*)

Penulis: Muhammad Beni Saputra

Nominator Sawit Fest 2021 Kategori Lomba Esai / tulisan esai ini telah melalui proses editing, lebih lengkap di SAWIT FEST 2021  

 

Tentang Sawit Fest :

Sawit Fest 2021 mendukung peningkatan literasi sawit bagi masyarakat pada umumnya dan generasi muda pada khususnya guna memberikan gambaran utuh mengenai keberadaan industri minyak sawit. Sekaligus, bertujuan memberikan pemahaman yang benar mengenai keberadaan dan kontribusi minyak sawit, bagi negara, sosial dan lingkungannya.

Sawit Fest 2021 mendapatkan dukungan pendanaan Badan Pengelola DanaPerkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Bumitama Gunajaya Agro Group, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asian Agri Group, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk, dan PT Cisadane Sawit Raya Tbk., dengan mitra strategis Media InfoSAWIT dan Palm Oil Magazine.

Sawit Fest pula merangkul para seluruh pemangku kepentingan minyak sawit seperti pemerintah, pelaku usaha, periset, organisasi, aktivis sosial dan lingkungan serta pihak lainnya, untuk berdiskusi membangun minyak sawit Indonesia berkelanjutan.

Apabila membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami, Ignatius Ery Kurniawan, melalui Handpone WA : 081284832789, email : sawit.magazine@gmail.com


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit