infosawit

Tiga Keunggulan Substansial Kelapa Sawit, Karunia Untuk Indonesia



Foto: Rafi Brata Alfanu/Sawitfest 2021
Tiga Keunggulan Substansial Kelapa Sawit, Karunia Untuk Indonesia

InfoSAWIT, JAKARTA - Sudah sejak pagi saya mencoba telepon teman-teman sesama anggota koperasi tani di Jambi. Produksi kebun sawit kami sudah membaik, karena pemeliharaan juga kami utamakan.  Tidak lama kemudian HP bergetar dan segera kusapa “Assalamualaikum, halo Bang apa kabar? Semoga tetap sehat”.  “Berapa harga TBS hari ini?” “Alhamdulillah baik, naik lagi dibanding minggu lalu.  Selain harganya bagus, tandan sawit kita memang juga bagus”.

Bersyukur kami menanam sawit, dapat sebagai bekal pensiun sebagai passive income, begitu kata orang kota.  Karunia sawit yang kami rasakan tentu juga dirasakan oleh semua petani sawit, pekebun dan perusahan kelapa sawit.  Rejeki juga mengalir kepada siapa saja yang berkaitan dekat dengan kelapa sawit, baik itu dekat secara fisik maupun keterikatannya.  Tentu saja, pihak yang banyak menanam tanaman pesaing kelapa sawit di manca negara akan dapat menuduh sawit merusak bumi atau membuat berita yang menyesatkan.  Mungkin mereka belum ikhlas untuk menerima bahwa sawit memang lebih unggul, atau karena mereka tidak dapat menanam kelapa sawit di negaranya.

Dari banyak penelitian, berita di media sosial, dan pengalaman melihat sendiri, kelapa sawit merupakan komoditas yang menjadi andalan penghasilan petani dan penopang ekonomi penduduk negara-negara berkembang, termasuk Indonesia pada situasi apa saja.  Terbukti, ekspor sawit salah satu penyumpang devisa

negara yang masih dapat diandalkan saat pandemi Covid 19.   Berita tentang sawit selalu menjadi sorotan, satu berita membahas keunggulan kelapa sawit dari bidang agronomi – sisi hulunya, sedangkan sos-med lain dari manfaat minyak sebagai bahan industri, sisi hilirnya.

Mari kita coba rangkum keunggulan sawit yang subtansial yang dapat menjelaskan mengapa kelapa sawit menjadi minyak no 1 di dunia, yang menggoyang kedudukan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, bunga matahari dan minyak rapa.  Ternyata keunggulan substansial sawit ada tiga, yaitu, pertama, karakter pohon sawit yang sangat istimewa, kedua, tanaman sawit yang efisien input, dan ketiga, produk minyak sawit yang sehat dan serba guna.

Membicarakan karakteristik pohon sawit yang istimewa, barangkali membutuhkan zoom meeting 10 sesi, mulai dari katagorinya sebagai tanaman tahunan, pengaturan posisi pelepahnya yang dikenal dengan phyllotaxis berbentuk spiral, bentuk pohon yang kompak dibandingkan dengan produksinya, dan pembentukan tandan buahnya.

Singkatnya demikian, seorang pekebun akan sangat berhati-hati untuk memulai menanam kelapa sawitnya, karena sawit ditanam sekali untuk 25 tahun, atau lebih. Di banyak tempat, pekebun enggan untuk melakukan replanting karena pohon sawit tuanya yang berumur 27 tahun masih berproduksi 30 ton.  Sekali dalam 25 tahun mengandung implikasi bahwa bibit hanya dibeli sekali, menanam sekali, mengolah tanah satu putaran, dan menunggu hasilnya juga sekali pada saat TBM (Tanaman Belum Menghasilkan).  Setelah itu pohon sawit berbuah terus dan

terus.  Berbeda dengan tanaman semusim seperti jagung dan kedelai, dimulai dari mengolah tanah, tanam, panen dan musim berikutnya mengolah tanah lagi, menanam dan kemudian panen, dan terus berulang.

Mengapa pengolahan tanah dipermasalahkan?  Menurut beberapa peneliti, saat ini lebih diutamakan zero tillage atau minimum tillage1, 2, 3) pada tanaman semusim. Selain itu, mengolah tanah dapat diartikan membakar energi yang sama artinya dengan pengeluaran biaya.  Konotasi lainnya, pengolahan tanah membuka akses bahan organik tanah terekspos udara, yang kemudian menjadikannya proses dekomposisi yang berlanjut, CO2 lepas ke udara.  Membicarakan kebun kelapa sawit tanpa menyebut sumber bahan organik tanah, terasa tidak lengkap.

Pendapat bahwa kebun sawit adalah sebuah contoh self-sustainability dalam hal pemenuhan bahan organik tanah perlu mendapat perhatian.  Kita ketahui bahwa kadar bahan organik tanah akan terus menurun karena proses dekomposisi secara alamiah4, 5), yang menjadikan tanah kurang subur dan kurang sehat.  Di sisi lain, kebun sawit menghasilkan pelepah hasil penunasan, dan akar kelapa sawit tumbuh dan berganti, kebun sawit juga menghasilkan tandan kosong kelapa sawit.  Jika semua bahan organik tersebut dikembalikan ke tanah, maka setiap tahun bahan organik lahan tersebut akan bertambah 0,36%).  Jumlah yang sangat besar.

Mengapa pohon sawit dikatakan bentuknya kompak dibandingkan dengan produksinya?...  

Penulis: Witjaksana Darmosarkoro

Juara 1, Sawit Fest Award 2021

Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi Desember 2021


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Atau IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit