infosawit

Apes, Saat Panen Perdana PSR Harga TBS Sawit Malah Ambles



Apes, Saat Panen Perdana PSR Harga TBS Sawit Malah Ambles

InfoSAWIT, BENGKULU – Pada 2019 lalu, Karman dan para petani sawit swadaya lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Muda, Desa Marga Bhakti, Kecamatan Pinang Raya, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, begitu bersemangat mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Bayangan masa depan cerah hinggap di benak para petani sawit itu, apalagi melihat harga tandan buah segar (TBS) sawit yang terus mengalami kenaikan secara bertahap. Apalagi mereka juga melihat para petani di daerah lainnya juga menerapkan program peremajaan sawit rakyat.

Namun sayangnya setelah menunggu tiga tahun kebun sawitnya menghasilkan, justru kondisi harga TBS Sawit terus merosot. Petani sawit ini bisa dibilang apes, lantaran tatkala kebun sawitnya baru menghasilkan namun harga TBS sawitnya justru mesorot tajam.

"Kemarin lahan sawit yang di replanting mengikuti Program PSR seluas 185 hektar, dan sekitar 50 persen sudah mulai panen perdana. Tapi saat panen itu harga TBS sawit kami malah ambles, cuma Rp 1.050 sampai Rp 1.150 per kilogram," kata Ketua Poktan Muda, Karman (39), kepada InfoSAWIT, kemarin.

Saat itu mereka menjual TBS sawit ke toke sawit. Sebab, para petani belum memiliki kerjasama dengan perusahaan sawit mana pun di Kecamatan Pinang Raya.

"Karena itu penjualan TBS sawit kami diserahkan masing-masing ke petani mau jual ke mana. Jadi, kami masing-masing masih jual ke toke-toke yang ada di situ. Tapi ya sekitar begitu harga TBS sawit kami," kata Karman.

Lebih lanjut tutur Karman, karena mengetahui harga TBS sawit yang terus merosot membuat para petani malas merawat kebun, sehingga memengaruhi kualitas TBS sawit nya.

"Untunglah para toke-toke sawit itu baik hati, sehingga buah sawit kami dioplos para toke dengan buah sawit yang besar-besar saat dijual ke pabrik sawit," kata Karman.

Karman mengakui ia dan rekan-rekannya di Poktan Muda lemas melihat kenyataan pahit itu. Bahkan sebagian diantara mereka, kata Karman, tidak lagi melakukan perawatan kebun sawit mereka.

"Biaya perawatan sangat mahal, terutama biaya untuk beli pupuk. Sebagian lain merawat kebun seadanya saja, enggak maksimal. Kami enggak tahu gimana nanti teman lainnya yang belum panen," kata Karman.

Ia tak tahu sampai sampai situasi ini berlangsung, namun berharap pemerintah memberi perhatian terhadap nasib yang dialami petani sawit. (T5)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit