infosawit

Saatnya Mendongkrak Kinerja PTPN III Holding



Saatnya Mendongkrak Kinerja PTPN III Holding

InfoSAWIT, JAKARTA - Kendati telah digabung menjad holding, perusahaan perkebunan pelat merah masih dianggap belum mampu berlari cepat. Segudang masalah dan perbaikan tata kelola jadi agenda utama. Perbaikan pun dilakukan, utamanya meningkatkan kinerja dan produktivitas.

Tiga tahun silam pemerintah telah sepakat untuk menggabungkan pengelolaan perusahaan perkebunan miliknya menjadi satu kesatuan (holding). Dibawah kepemimpinan pengelolaan PT Perkebunan Nusantara III sebagai induk usaha.

Lewat implementasi Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2014 tanggal 17 September 2014, tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara III, Perusahaan menjadi perusahaan induk (holding) bagi PT Perkebunan Nusantara I, II, dan IVsampai dengan XIV.

Penyertaan modal pun dilakukan pemerintah dengan melakukan penambahan penyertaan modal ke dalam modal saham PT Perkebunan Nusantara III (Persero) sebesar 90% berasal dari pengalihan saham milik Negara Republik Indonesia sejumlah Rp 10,19 triliun.

Cara demikian diyakini bakal mampu memacu kinerja peruahaan perkebunan milik pemerintah untuk memberikan hasil maksimal, dibandingkan sebelumnya yang kerap kinerjanya dianggap selalu mencapat cap merah.   

 

Namun sayang, justru pada tahun kedua perusahaan holding perkebunan milik pemerintah dibentuk justru menghadapi situasi yang kurang baik. Pada semester I-2016 lalu PTPN III Holding memiliki utang sebanyak Rp 33,24 triliun. Utang ini merupakan konsolidasi dari 13 PTPN di bawah PTPN III. Kabarnya bila tak dibereskan, utang ini bisa mengganggu kinerja ke depannya.

 

Kondisi ini bahkan mengancam keberadaan beberapa PTPN bila tidak segera dibereskan serta dilakukan penanganan dengan baik. Terlebih kala itu PTPN III Holding pun mencatat rugi Rp 823,43 miliar pada semester I-2016.

 

Angka kerugian ini tercatat semakin meninggi dibanding tahun 2015 yang mencapai Rp 613,27 miliar. Sedangkan pendapatan di semester I-2016 lalu, holding BUMN kebun ini meraup 13,36 triliun.

 

Jika ditahun 2016 lalu kondisi keuangan PTPN III Holding bisa dibilang morat marit, dengan pengelolaan yang konsisten, perusahaan perkebunan pelat merah yang memiliki aset hingga Rp 109,72 triliun itu pun mulai menampakkan kinerja yang membaik.

 

Pada kuartal I-2017 kinerja PTPN III Holding mencatat laba bersih sebanyak Rp 488 milyar. Jumlah tersebut tumbuh 181% dibandingkan periode yang sama pada 2016 yang mengalami kerugian senilai Rp 604 milyar.

 

Direktur Utama PTPN III Holding, Dasuki Amsir, mengatakan, pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang peningkatan penjualan karena dampak meningkatnya produktivitas tanaman dan upaya efisiensi untuk menekan harga pokok serta didorong oleh kenaikan harga komoditas. “Fokus perkebunan tidak ada yang berubah dengan meningkatkan produktivitas lantas menerapkan kultur teknis pada pengelolaan kebun dan pengolahan,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta.

Lebih lanjut kata Dasuki, pengurangan biaya pokok masih bisa dilakukan hanya saja untuk biaya sumber daya manusia (personalia) tidak bisa dilakukan. Pengurangan biaya pokok dilakukan penurunan sekitar 30% hingga 35%.

 

Sejatinya pengurangan biaya pokok ini telah dilakukan semenjak 2014, dimana kala itu biaya pokok mencapai Rp 31 triliun, kembali turun di 2015 menjadi hanya sekitar Rp 27 triliun, pada 2016 menjadi hanya Rp 25 triliun, serta per April 2017 biaya pokok hanya sekitar Rp 7,6 triliun atau lebih rendah dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai Rp 6,5 triliun pada periode yang sama. 

 

Dijelaskan Dasuki, pupuk dan personalia menjadi beban tertinggi perseroan, dimana pupuk dan personalia berkontribusi pada ongkos produksi hingga 70%. “Makanya people-nya harus produktiv dan menghasilkan profit, sementara pupuk harus dilakukan dengan baik dan benar,” katanya. (T3)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit