infosawit

Replanting Sawit Petani Butuh Kerjasama Perusahaan Perkebunan



Suhar, petani plasma sawit
Replanting Sawit Petani Butuh Kerjasama Perusahaan Perkebunan

InfoSAWIT, JAMBI - Kegigihan dan kerja keras kedua orangtuanya masih berbekas di dalam ingatannya. Keputusan berani yang diambil kedua orangtuanya untuk hijrah ke Provinsi Jambi sebagai peserta PIR Trans, merupakan simbol kerja keras dari orangtuanya. Provinsi Jawa Tengah sebagai kampung halamannya, memang tetap menjadi kenangan indah masa kecilnya.

Kedua orangtuanya berasal dari Kebumen, Jawa Tengah yang ingin merubah nasibnya menjadi petani kelapa sawit melalui program PIR Trans waktu lalu. Bermodalkan keberanian, kedua orangtuanya meninggalkan kampung halamannya, untuk menjadi peserta transmigrasi yang dikirim ke Provinsi Jambi.

Lantaran hanya bekerja sebagai buruh padi di kampungnya, keberadaan ekonomi orangtuanya juga sangat memprihatinkan. Pasalnya, mereka sudah memiliki tiga orang anak yang harus mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak.

“Jika ingat waktu itu, saya sering menangis sendirian, karena meninggalkan kampung halaman. Terlebih daerah yang kami datangi, masih sangat sepi dan terpencil,” katanya menjelaskan kepada InfoSAWIT.

Usaha gigih orangtuanya untuk mengembangkan kebun sawit miliknya, melibatkan Suhar sebagai anak tertua yang sudah menginjak usia remaja. Dirinya berjibaku membantu kedua orangtuanya untuk mengembangkan kebun sawit yang dikelola orangtuanya. Hingga, dirinya tertarik pula untuk menjadi petani kelapa sawit.

Melakoni hidupnya sebagai petani kelapa sawit, Suhar yang tahun ini berusia 43 tahun, menilai banyak manfaat yang bisa didapat. Selain keuntungan ekonomi, kesejahteraan sosial dan lingkungan juga didapat. Terlebih, kesejahteraan hidup keluarganya yang berasal dari kebun sawit, mampu menyekolahkan adik-adiknya hingga tamat perguruan tinggi.

Suhar sendiri, tetap memilih melanjutkan profesi kedua orangtuanya sebagai petani kelapa sawit. Lahan kebun sawit yang berada di wilayah SP 2, merupakan bagian dari Kelompok Tani Harapan jaya yang memiliki anggota sebanyak 28 Kepala keluarga petani. Kelompok tani ini, juga menginduk sebagai bagian dari KUD Subur Makmur.

Berawal dari program PIR Trans tahun 1993 silam, kedua orangtua Suhar, baru terlibat paska konversi tanaman kelapa sawit pada tahun 1995 lalu. Dengan mendapatkan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 2 hektar, dengan total lahan perkebunan kelompoknya seluas 56 hektar. Kini perkebunan kelapa sawit milik kedua orangtuanya sudah masuk masa replanting.

Memang, tidak semua keluarga yang ikut PIR Trans mampu bertahan, di kelompok tani orangtuanya sebanyak dua keluarga, memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Seiring berjalannya waktu, banyak penggantian yang terjadi, hingga kini, hanya menyisakan 8 keluarga termasuk dirinya, yang masih tetap bertahan dan dilanjutkan anak-anaknya.

Pola kerjasama PIR Trans yang bermodalkan pinjaman dari pihak perbankan sendiri, mampu diselesaikan kedua orangtuanya dalam waktu sekitar 6 tahun. Waktu penyelesaian ini, jauh lebih cepat dari tenor waktu yang diberikan perbankan selama 10 tahun. Pasalnya, kelompok tani mereka mendapatkan banyak bantuan dari mitra mereka yaitu perusahaan perkebunan kelapa sawit.

PT Inti Indosawit Subur selaku mitra petani kelapa sawit, sejak awal selalu membantu semua kebutuhan yang diperlukan petani kelapa sawit. Dari praktek budidaya sawit, melalui program Tim Unit Semprot (TUS), pemupukan dan pemeliharaan pokok tanaman selalu dibantu pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Dahulu, pendapatan yang mereka terima berkisar Rp 1-2 juta/bulan/kavling. Seiring berjalannya waktu dan peningkatan harga jual hasil panen Tandan Buah Segar (TBS), maka penghasilan terkini yang dapat mereka terima sebesar Rp 6-7 juta/bulan/kavling. Dimana harga setiap kilogram TBS sekitar Rp 2 ribu.

Besarnya pendapatan dari penjualan hasil panen TBS ini, menurut Suhar merupakan rejeki yang harus disyukuri. Lantaran, keberhasilan pengelolaan perkebunan kelapa sawit milik keluarganya, mendapatkan mitra perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sangat membantu para petaninya. Sebab itu, menurut Suhar, kerjasama petani dengan perusahaan perkebunan harus terus ditingkatkan.

Selama hampir 25 tahun mengelola kebun sawit keluarganya, orangtua Suhar selalu mendapatkan bimbingan dan penyuluhan serta bantuan teknis dari perusahaan perkebunan selaku mitra petani kelapa sawit. Hingga saatnya, kebun sawit milik petani harus dilakukan replanting.

“Kami sedang menunggu waktu replanting dari perusahaan, supaya masih mau bekerjasama dengan kelompok tani kami membangun kebun sawit supaya lebih produktif,” ujarnya menerangkan. (T1)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit