infosawit

Ini Koreksi ISPO Sepanjang Periode 2011-2017



Ini Koreksi ISPO Sepanjang Periode 2011-2017

InfoSAWIT, JAKARTA - Belum lama ini Forest Watch Indonesia (FWI) telah melakukan kajian terhadap pelaksaan sertifikat ISPO di Indonesia, dalam kajian ini menunjukkan bahwa selama enam tahun berlakunya, sejak 2011, tercatat ISPO belum menunjukkan kinerja yang memadai dalam kaitan pencapaian tujuan pembangunannya sebagai sebuah sistem sertifikasi menuju perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Penerapan ISPO merujuk kajian FWI, dianggap belum mampu merespon dampak-dampak negatif yang ditimbulkan akibat pembangunan kelapa sawit selama ini, terutama pada aspek lingkungan dan sosial. Sistem sertifikasi yang diharapkan menjadi pintu masuk perbaikan tata kelola kebun dan lahan, dirasakan hanya sebatas sebuah instrumen untuk mendapat pengakuan di pasar internasional.

Bahkan sampai saat ini pun, para pemangku kepentingan masih terus memperdebatkan apakah ISPO mampu menjadi jawaban terhadap tuntutan pemenuhan prinsip-prinsip keberlanjutan atau tidak. Dalam konteks yang lebih luas, sebagian pihak juga meragukan ISPO akan mampu menyentuh akar persoalan demi mendorong perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Indonesia.

 

Terlebih minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) telah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia bersama dengan migas, batubara, dan industri pariwisata. Akan tetapi, selama beberapa tahun terakhir ini, dari catatn FWI, penerimaan pajak dari perkebunan kelapa sawit terus mengalami penurunan. Melemahnya perkebunan kelapa sawit nampaknya adalah salah satu indikasi bahwa pasar dunia masih mengkhawatirkan aspek sosial dan lingkungan CPO Indonesia, yang diproduksi oleh konsesi-konsesi yang kebanyakan bermasalah.

 

Kekhawatiran inilah yang diharapkan akan dijawab dengan kehadiran ISPO sebagai sebuah instrumen untuk keberlanjutan sosial dan lingkungan di 11,6 juta hektare area perkebunan sawit di Indonesia, dengan total produksi lebih dari 34 juta ton CPO per tahun 20161.

 

Instrumen ISPO diharapkan akan mampu memastikan CPO yang ada di Indonesia sudah ramah lingkungan, bersumber dari lahan yang clean and clear, terbebas dari deforestasi dan konflik tenurial. Pada akhirnya ISPO sebenarnya menjadi andalan untuk mengembalikan kepercayaan publik, meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia, dan menjaga komitmen Indonesia dalam penurunan emisi global.

 

Dikatan Direktur Eksekutif FWI, Soelthon G. Nanggara, jika memang ISPO merupakan skim berkelanjutanuntuk sektor kelapa sawit, apakah kebijakan ini sudah begitu kuat. Berdasarkan penilaian Soelthon, kendati ISPO diterapkan, tetapi persoalan deforestasi tetap saja muncul, misalnya dari tahun 2009 hingga 2013 ditengarai ada sekitar 500 ribu ha hutan alam yang tergusur. “Lantas ada sekitar 127 pelanggaran di pengadilan di sektor perkebunan. Itu berdasarkan data dari reforma pembaruan agraria,” katanya. (T2)

 

Lebih lengkap baca InfoSAWIT Edisi Juli 2017


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit