infosawit

Yayasan BOS dan PT NAS, Bangun Kawasan Konservasi Orangutan



Pulau “Juq Kehje Swen” yang artinya “pulau orangutan”.
Yayasan BOS dan PT NAS, Bangun Kawasan Konservasi Orangutan

InfoSAWIT, WAHAU - Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) pada Rabu (6/9) secara resmi memulai kegiatan di sebuah pulau pra-pelepasliaran baru seluas 82,84 hektar di Kecamatan Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Pemanfaatan pulau pra-pelepasliaran ini terealisasi berkat kerja sama antara Yayasan BOS dengan PT. Nusaraya Agro Sawit (PT. NAS) anak usaha Palma Serasih Group. Kawasan konservasi rencananya akan dijadikan pulau pra-pelepasliaran bagi para orangutan yang sebelumnya direhabilitasi di Samboja Lestari. Orangutan menjalani proses rehabilitasi yang lamanya bisa mencapai 7-8 tahun sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya di hutan.

Proses rehabilitasi dimulai di Nursery dan melalui tingkatan mirip seperti sekolah manusia, yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan dasar bertahan hidup di habitat aslinya. Bagian akhir proses ini membutuhkan keberadaan pulau alami dan kesempatan bagi orangutan untuk hidup di lingkungan yang menyerupai habitat alaminya di hutan, terjaga, namun tetap terpantau perkembangan proses adaptasinya.

Dalam kesempatan ini, Yayasan BOS juga melakukan pemindahan 10 orangutan dari Samboja Lestari ke pulau pra-pelepasliaran baru tersebut dan mempersiapkan mereka menjadi kandidat pelepasliaran ke Hutan Kehje Sewen di tahun 2018 mendatang.

Dikatakan CEO Yayasan BOS, Jamartn Sihite, perlu mempercepat siklus rehabilitasi termasuk pra-pelepasliaran dan pelepasliaran, dengan menyiapkan kawasan-kawasan konservasi khusus dengan daya dukung yang baik bagi orangutan, terlebih masih ada sekitar lebih dari seratus orangutan yang ada di tempat rehabilitas Samboja Lestari yang mesti segeradilepasliarkan.

Dengan adanya pulau “Juq Kehje Swen” yang artinya “pulau orangutan” dalam bahasa Dayak ini, ditambah beberapa pulau pra-pelepasliaran baru yang sebagian sudah digunakan di Samboja Lestari. “Kami yakin kami bisa segera mempercepat proses pelepasliaran orangutan yang kini masih berada di pusat rehabilitasi,” katanya dalam rilis yang diterima InfoSAWIT.

Sementara dikatakan Direktur PT NUS, Martusin Yapriadi, adanya kerja sama dengan organisasi konservasi besar seperti Yayasan BOS adalah kesempatan baik menunjukkan komitmen perusahaan terkait upaya pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan di  Kalimantan Timur. “Kami menjunjung tinggi kaidah tata kelola lingkungan yang lestari dan karenanya, berkomitmen untuk mendukung upaya Yayasan BOS untuk menyediakan habitat bagi orangutan rehabilitasi sebagai satu tahap akhir sebelum mereka dilepasliarkan ke hutan,” katanya.

Pemanfaatan pulau pra-pelepasliaran orangutan di Wahau, Kabupaten Kutai Timur ini merupakan hasil nyata kolaborasi Yayasan BOS dengan para pemangku kepentingan, dan dukungan besar dari BKSDA Kalimantan Timur dan PT. NAS, yang telah membantu terlaksananya upaya pemanfaatan pulau pra-pelepasliaran ini. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit