infosawit

Akhirnya Taymur, Bayi orangutan Kembali Ke Kalimantan



ilustrasi orangutan
Akhirnya Taymur, Bayi orangutan Kembali Ke Kalimantan

InfoSAWIT, NYARU MENTENG - Satu bayi orangutan jantan yang dipulangkan dari Kuwait berkat kerja sama KLHK dan Kemenlu sebagai perwakilan pemerintah Republik Indonesia bersama Yayasan BOS, akhirnya kembali ke habitatnya di Kalimantan.

Bayi orangutan itu bernama Taymur, pejantan berusia sekitar 3 tahun yang pada bulan April lalu berhasil direpatriasi dari Kuwait akhirnya tiba di Program Reintroduksi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng (Nyaru Menteng), tempatnya menjalani proses rehabilitasi. Penyelamatan Taymur terwujud berkat kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait, Kebun Binatang Kuwait, dan Yayasan BOS.

Setibanya di Bandar Soekarno-Hatta Cengkareng pada tanggal 17 April lalu, Taymur segera dibawa ke fasilitas karantina Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Di sana, Taymur menjalani tes kesehatan dan DNA untuk menentukan provinsi asalnya. Setelah 4 bulan di karantina Taymur menunjukkan perkembangan kesehatan yang baik, sementara hasil tes DNA menunjukkan Taymur memiliki subspesies Pongo pygmaeus wurmbii, berarti ia berasal dari Kalimantan Tengah. Maka dari itu, Taymur diputuskan akan menjalani proses rehabilitasi di Nyaru Menteng.

Dikatakan CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite, upaya konservasi orangutan dan habitatnya kerap panjang dan berliku. Seperti perjalanan hidup Taymur ini, di usia yang sangat muda ia diselundupkan ke luar negeri, menurut berita dicekoki narkoba, dibawa kembali ke Indonesia, dikarantina di Cisarua, dan kini akhirnya kembali ke Kalimantan. Perjalanan hidup yang luar biasa bagi orangutan yang usianya bahkan belum mencapai 3 tahun. Di alam liar, orangutan seusianya masih sangat tergantung pada induknya. Bisa kita bayangkan betapa kesepian dan besar trauma yang Taymur rasakan saat ini.

Menolong satu individu orangutan seperti Taymur ini butuh upaya dan biaya yang besar, serta melibatkan kerja sama dengan banyak pihak. Apakah kita akan mampu menempuh hal seperti ini terus-menerus? “Apakah tidak lebih baik jika kita perketat pengawasan di perbatasan dan gerbang internasional, sementara kita juga perberat sanksi hukum bagi pelaku tindak kriminal kasus konservasi? Saya yakin jika kita fokus di pencegahan dibarengi komitmen penindakan hukum, hasilnya akan lebih cepat terlihat. Mari kita bekerja bersama menuju kekayaan alam Indonesia yang lebih lestari,” tutur Jamartin dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT.

Sementara dikatakan, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Adib Gunawan, upaya pelestarian orangutan di Kalimantan Tengah ini merupakan tanggung jawab bersama, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat. “Kami di Balai KSDA Kalimantan Tengah sebagai perpanjangan tangan Pemerintah dalam penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, pengelolaan kawasan konservasi serta konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar kawasan konservasi bekerja sama erat dengan seluruh pemangku kepentingan di Bumi Isen Mulang ini. Kami di BKSDA sangat menghargai upaya konservasi yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi termasuk Yayasan BOS yang berperan signifikan dalam membantu memulangkan dan merehabilitasi tujuh orangutan hasil repatriasi dalam 3 tahun terakhir,” katanya.

Upaya penyelamatan bayi orangutanutan ini disambut baik Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, lantaran pemulangan Taymur ke Kalimantan Tengah sebagai upaya mengembalikan salah satu aset penting provinsi ini. Lebih lanjut kata dia, orangutan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kami di Kalimantan. “Kami semua bahagia bisa menerima kembali si Kecil Taymur di rumahnya. Dia adalah simbol dari kekayaan alam yang harus kita jaga dan lestarikan. Orangutan tidak dilahirkan untuk tinggal di kandang atau hidup sebagai hewan peliharaan. Mereka wajib hidup liar dan bebas di habitatnya, di hutan. Saya beserta jajaran di pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah siap mendukung program konservasi yang dilaksanakan bersama seluruh organisasi dan lembaga konservasi. Mari kita bergandeng tangan untuk menjaga hutan kita dan seluruh kekayaan alam yang kita miliki,” tandas Suagianto Sabran.

Sekadar info, perdagangan ilegal satwa liar merupakan ancaman terbesar setelah kerusakan habitat dan perburuan serta masuk ke dalam 4 besar tindak pidana terbesar di dunia, di bawah narkoba, pemalsuan uang, dan perdagangan manusia (Global Risk Insights, 2017). Untuk itu, komitmen dan tindakan nyata aparat penegak hukum sangat dibutuhkan dalam wujud pencegahan jangka panjang dan pengusutan berbagai tindakan terkait tindak pidana yang melibatkan perdagangan satwa liar dan tindak pidana korupsi. Seluruh pemangku kepentingan perlu terlibat aktif dalam hal ini. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit