infosawit

Munculnya Dua Peta Situasi HGU, Ganggu Masyarakat



Nandirin, Ketua Wadah Kerja Antar Kelompok (WKAK) Desa Biansak
Munculnya Dua Peta Situasi HGU, Ganggu Masyarakat

InfoSAWIT, SUNGAI MELAYU - Nandirin (49) asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sepakat menjadi petani PIR-Trans di Desa Biansak, Kecamatan Sungai Melayu Raya, Kabupaten Ketapang, Kalimatan Barat semenjak 1991 lalu. Diawal menjalani sebagai petani plasma mitra Benua Indah Group, Nandirin memperoleh pendapatan lumayan baik.

Namun seiring berjalannya waktu, tahun 2008, perusahaan koleps, disaat beramaan harga buah sawit petani terjun bebas, ibarat peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Mulai tahun itu, cerita Nandirin yang menjabat sebagai Ketua Wadah Kerja Antar Kelompok (WKAK) Desa Biansak, kondisi petani pun morat-marit.

Saat ada kabar, Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group sebagai pemenang lelang atas aset (BIG), tahun 2015 lalu, disambut baik petani, apalagi perusahaan serius bermitra dengan petani diawali dengan membangun beberapa infrastrukut desa, sehingga akses transportasi menjadi lebih mudah.

Namun sayang, kata Nandirin, pihaknya melihat sesuatu yang kurang wajar, apalagi tahun 2017 lalu  muncul peta situasi dari Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Barat, yang dilapangan tumpang tindih dengan lokasi kebun petani plasma. “Lahan kami sudah memiliki sertifikat hak milik, kok bisa tumpang tindih dengan peta situasi itu,” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini di Sungai Melayu.

Diakui Nandirin, bila ini dibiarkan maka akan memunculkan masalah, sebab bila ada peta situasi lampiran HGU yang tumpang tindih dengan lahan petani yang telah bersertifikat bakal memunculkan gejolak di lapangan. Sementara peta situasi lainnya bertumpang tindih dengan perijinan perusahaan lain. “Tidak akan masalah bila yang membeli BIG adalah PT ABP, namun sekarang aset BIG diambil alih BGA, maka akan jadi maslah,” katanya.

Lebih lanjut tutur Nandirin, pihaknya meminta tidak mengganggu hak masyarakat berupa lokasi lahan kelapa sawit yang telah memiliki sertifikat hak milik (SHM). “Kami harapkan masalah ini ada solusinya,” tutur Nandirin.

Terlebih dengan dibukanya kemitraan ini maka akan memutus penderitaan masyarakat paska koleps nya BIG. “Kami berharap kemitraan ini akan menguntungkan petani,” tandas Nandirin. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit