infosawit

Kami Petani Sawit Butuh Partner



Kasban Tokoh Masyarakat Desa Sungai Melayu
Kami Petani Sawit Butuh Partner

InfoSAWIT, SUNGAI MELAYU - Menjadi petani kelapa sawit telah jadi pilihan Kasban (52) asal Jepara. Tahun 1991 lalu dirinya langsung menerima tawaran program PIR-Trans, dan mendapatkan kebun sawit di Sungai Melayu, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Awalnya proses kemitraan plasma dengan perusahaan kelapa sawit, saat itu sebelumnya dengan Benua Indah Group (BIG) berjalan lancar, namun pada 2008 mulailah petaka itu muncul, kata Kasban, perusahaan koleps dan tidak mampu membayar gaji petani yang bekerja di perusahaan. “Hasil panen juga tidak dibayar,” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini di Sungai Melayu.

Lebih Lanjut tutur Kasban, semenjak 2008 hingga 2015 tidak ada kepastian, lantaran petani untuk menjual buah sawitnya mesti menempuh jarak yang tidak dekat. “Misalnya kami jual ke pabrik kelapa sawit perusahaan lain yang jaraknya tidak dekat,” katanya.

Namun dengan masuknya Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group, tahun 2015 lalu, telah mendorong kegiatan ekonomi di desanya. Kasban pun mengakui, pihaknya butuh partner, sehingga semua kegiatan budidaya kelapa sawit milik petani berjalan dengan baik. Contohnya selepas BIG koleps, kondisi petani plasma memprihatinkan. “Kami petani sawit butuh partner, apalagi sebelumnya partner petani kolpes, pendapatan masyarakat tidak bisa ditentukan per bulan,” cerita Kasban.

Dengan bermitra dengan BGA Group, kembali muncul gairah untuk membudidayakan perkebunan kelapa sawit yang sebelumnya tidak terurus dengan baik. “Persiapan kemitraan ini dengan maksimalkan cara budidaya yang baik supaya bisa berproduksi tinggi,” tandas Kasban. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit