infosawit

Konflik Dua Peta HGU, Petani Harapkan Solusi



Konflik Dua Peta HGU, Petani Harapkan Solusi

InfoSAWIT, JAKARTA - Disaat petani mulai memperoleh kekuatan untuk kembali membudidayakan perkebunan kelapa sawit yang sempat terbengkalai, muncul kabar tidak sedap yakni tersiar adanya dua peta situasi lampiran HGU dari lahan inti eks BIG. Kejadian ini tidak hanya membuat kaget BGA Group selaku pemenang lelang, pihak petani pun mengalami hal serupa.

Kemunculan peta situasi lampiran HGU dari Kantor Wilayah BPN Provinsi Kalimantan Barat pada awal 2017 lalu, membuat petani tidak habis pikir, lantaran peta yang disampaikan tumpang tindih dengan lahan perkebunan plasma milik masyarakat. Apalagi fakta dilapangan hampir seluruh lahan kebun sawit petani plasma itu telah memiliki sertifikat hak milik (SHM).

Dikatakan Ketua Wadah Kerja Antar Kelompok (WKAK) Desa Biansak, Nandirin, munculnya peta situasi lampiran dari HGU PT Wahana Hijau Sawit (eks PT SLA) dari BPN Provinis Kalimantan Barat jelas tumpang tindih dengan lahan kebun sawit milik petani, kondisi ini juga membuat petani yang terkena tumpang tindih merasa khawatir. “Kami harap lahan kami yang sudah memiliki SHM tidak terganggu,” katanya kepada InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Nandirin, sepengetahuan dirinya dari pertama memperoleh penempatan kebun sawit program PIR-Trans tahun 1992/1993, masyarakat tidak pernah dihadapkan adanya kasus tumpang tindih dengan lahan perkebunan inti milik perusahaan, yang sebelumnya dikelola BIG.

Sebab itu petani mengharapkan adanya keterbukaan informasi sekaligus menentukan dari dua peta itu mana peta situasi  yang benar. Diakui, Nandirin, sebelumnya pada tahun 2012 ada kegiatan penanaman pohon sawit di lahan inti perusahaan eks BIG yang terlantar dilakukan oleh perusahaan lain. Kegiatan itu dibiarkan lantaran tidak ada informasi ke masyarakat. “Bisa jadi dapat ijin dari pihak lain, namun yang pasti kami harapkan kasus ini ada solusi tuntas,” tandas Nandirin.

Sementara dikatakan Camat Sungai Melayu Raya, Erstyo Hadi Purwo, sewaktu melakukan sosialisasi paska BGA group menang lelang, masyarakat sudah paham bahwa yang akan menjadi mitra adalah perusahaan lain sehingga tidak ada kewajiban membayar hutang dari kasus pailitnya BIG.  Saya pesan ke masyarakat jangan asal bertindak tapi dilihat terlebih dahulu, bagaimana kepedulian terhadap lingkungan, apalagi hubungan  perushaaan ke masyarakat juga sudah baik saat ini,” katanya.

Lebih lanjut kata Erstyo Hadi, jangan sampai kendala ini membuat masyarakat menjadi korban. Dirinya mengaku tidak berpihak, namun tetap menyuarakan yang benar adalah benar.

Sebagai Camat, Erstyo berprinsip hanya akan mementingkan kondisi di wilayahnya aman, demikian juga investasi jalan, dan masyarakat nyaman “Saya lihat BGA Group serius, infrastruktur jalan yang rusak diperbaiki, maka itu sudah luar biasa, masyarakt untung kita pun aman,” tandas Erstyo. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit