infosawit

“Juq Kehje Swen” Pulau Untuk Orangutan



Foto Dok. Yayasan BOS
“Juq Kehje Swen” Pulau Untuk Orangutan

InfoSAWIT, WAHAU - Pulau seluas 82,84 ha baru saja diresmikan sebagai kegiatan pra pelepasliaran orangutan. Pemanfaatan pulau pra pelepasliaran ini terwujud atas kerjasama Yayasan BOS dan PT Nusaraya Agro Sawit (NUSA), anak perusahaan Palma Serasih Group. Peresmian ditandai dengan dilepasliarkannya 10 orangutan di pulau Juq Kehje Swen. 

Sebagai salah satu satwa yang dilindungi, keberadaan orangutan terus menjadi perhatian masyarakat dunia. Banyaknya keberadaan orangutan yang terpinggirkan dari hutan tempat tinggalnya, kerap kali dikaitkan dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Padahal sebetulnya, tudingan itu tidak bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Toh, kendati perkebunan kelapa sawit kerap dituding sebagai penggusur orangutan dari “rumahnya” bukan berarti kemudian pengembangan perkebunan kelapa sawit acuh terhadap pelestarian orangutan.

Buktinya, di Kecamatan Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, sebuah pulau bernama “Juq Kehje Swen” dalam bahasa Dayak, atau dalam bahasa Indonesia berarti Pulau untuk Orangutan telah dibuka.

Pulau seluas 82,84 ha itu secara resmi dibuka tanggal 6 September 2017 untuk kegiatan pra pelepasliaran orangutan atas kerjasama Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOSF) dengan PT Nusaraya Agro Sawit (NUSA), anak Perusahaan Palma Serasih Group, beserta dengan  Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Rencananya kawasan konservasi ini akan dijadikan pulau pra-pelepasliaran bagi para orangutan yang sebelumnya direhabilitasi di Pusat Reintroduksi Orangutan Yayasan BOS, Samboja Lestari. Berdasarkan hasil survey yang telah dilaksanakan oleh Yayasan BOS sebelumnya di pulau Juq Kehje Swen menunjukkan bahwa pulau ini memiliki hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, cukup ketersediaan pakan orangutan, cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi dan sosialisasi, , serta mampu menampung sekitar 40 orangutan.

Jelas, keberadaan kawasan konservasi ini menjadi sangat penting bagi tahapan orangutan untuk beradaptasi sebelum akhirnya akan dilepasliarkan ke habitatnya di hutan. Merujuk informasi dari Yayasan BOS, orangutan yang menjalani proses rehabilitasi bisa membutuhkan waktu sekitar 7-8 tahun sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya di hutan.

Proses rehabilitasi dimulai pada tahapan Nursery dan melalui tingkatan yang mirip seperti sekolah manusia.  Cara demikian dirancang untuk mengembangkan keterampilan dasar bertahan hidup di habitat aslinya. Bagian akhir proses ini membutuhkan keberadaan pulau alami dan kesempatan bagi orangutan untuk hidup di lingkungan yang menyerupai habitat alaminya di hutan, terjaga, namun tetap terpantau perkembangan proses adaptasinya.

Sekaligus guna menandai dibukanya pulau pra pelepasliaran ini Yayasan BOS juga melakukan pemindahan 10 orangutan dari Pusat Reintroduksi Orangutan Yayasan BOS di Samboja Lestari (Samboja Lestari) ke pulau ini, dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk menjadi kandidat pelepasliaran ke Hutan Kehje Sewen di tahun 2018 mendatang.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite mengungkapkan, dilapangan faktanya masih  membutuhkan sejumlah areal untuk pra pelepasliaran, apalagi Yayasan BOS masih merehabilitasi lebih dari seratus orangutan di Samboja Lestari yang siap untuk dilepasliarkan. Kondisi demikian mendorong Yayasan BOS untuk segera mempercepat siklus rehabilitasi termasuk pra-pelepasliaran dan pelepasliaran dengan cara menyiapkan kawasan-kawasan konservasi khusus dengan daya dukung yang baik bagi orangutan.  (T2)

Lebih lengkap Baca InfoSAWIT edisi September 2017

Http://www.store.infosawit.com


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit