infosawit

Pertumbuhan Sawit di Liberia Lambat



Pertumbuhan Sawit di Liberia Lambat

InfoSAWIT, MONROVIA -  Saat pemerintah Liberia melakukan serangakaian kesepakatan kontrak dengan pelaku perkebunan kelapa sawit paska perang saudara yang berlarut-larut, disambut baik oleh masyarakat sebagai upaya perbaikan kondisi ekonomi Liberia saat itu, untuk membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan pajak negara serta bisa untuk memperbaiki infrastruktur jalan dan pelabuhan.

Kendati demikian, ada sebagian masyarakat menilai tindakan yang dilakukan pemerintah Liberia tersebut justru mengakibatkan terjadinya “perebutan lahan”. Tulis mongabay.com, setelah satu dekade berlalu sejak kesepakatan pengembangan perkebunan kelapa sawit dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit asal Malaysia, Sime Darby tahun 2009, saat ini baru bisa menanan kelapa sawit di lahan seluas 10 ribu ha. Padahal merujuk kontrak, Sime Darby memiliki ijin konsesi seluas 165 ribu ha, dan rencananya selama 15 tahun pertama sekitar  75% dari ijin konsesi bakal dibangun perkebunan kelapa sawit.

Merujuk hasil riset Chain Reaction Research, kondisi serupa juga dialami perusahaan multi nasional Golden Agri Agri melalui LP Verdant Fund yang berbasis di New York, dan berencana menanam seluas 30.000 hektar. Namun buktinya, setelah menandatangani kontrak pada 2011 lalu, baru sekitar setengah dari jumlah tersebut yang telah ditanami kelapa sawit.

Kondisi ini ditengarai adanya kampanye hak asasi manusia dan perlindungan lingkungan, akhirnya memaksa pihak perusahaan melakukan penyesuaian terhadap praktik bisnis dan rencana pengembangan kebun sawit mereka ke depan. (T3)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit