infosawit

Konservasi Orangutan di Sawit Dijaga Eks Pembalak Liar



Konservasi Orangutan di Sawit Dijaga Eks Pembalak Liar

InfoSAWIT, LAMAN SATONG -  “Biar saya saja yang didepan, supaya jalan di dalam areal konservasi ini bisa dispersiapkan, khawatir ada pohon atau semak yang menghalangi jalan”

Sepenggal kalimat itu dilontarkan Matius Amat (54) sesaat tidak jauh setelah masuk berada di areal konservasi orangutan milik perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Kayung Agro Lestari (KAL), anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Areal konservasi itu memang nampak asri dan belum ada perubahan, diisi dengan beragam pohon alam sesuai ciri khas hutan hujan tropis di wilayah Kalimantan Barat.

Sepanjang perjalanan di areal konservasi tersebut, dengan setia Matius Amat atau yang akrab dipanggil Pak Kumis, lantaran memiliki kumis yang lebat, menemani para tamu, peneliti atau pihak perusahaan yang sengaja ingin melihat langsung areal konservasi tersebut.

Jalanan di dalam areal konservasi memang seperti layaknya hutan hujan tropis, tidak teratur terkadang ada tanah yang amblas lantaran sebagai besar lahan di areal tersebut termasuk lahan gambut. Bila salah langkah bisa jadi perjalanan akan terganggu lantaran kaki bisa terjerembab atau terlilit semak.

Untungnya Matius Amat sebagai penjaga areal konservasi itu dengan sigap mempersiapkan jalan dengan baik, dengan parang yang jadi teman setianya kerap menghalau ranting, dahan atau semak yang mengganggu jalan.

Sebagai penjaga areal konservasi Matius Amat sangat paham seluk beluk areal tersebut secara detil. Ternyata kepiawaiannya dalam membuka jalan tersebut didapatkan saat dirinya masih menjadi pembalak liar.

Cerita Matius, keputusannya menjadi pembalak liar lantaran tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi tidak pula dibekali dengan tingkat pendidikan yang layak. Maka semenjak tahun 2003 lalu, Matius Amat pun datang ke Desa Laman Satong sebagai pencari kayu ilegal. “Sebenarnya asal saya dari Desa Balai Karangan, yang lokasinya dekat dengan Entikong, wilayah perbatasan dengan Malaysia,” katanya, belum lama ini.

Menjadi pembalak liar dilakoni Matius Amat cukup lama sekitar 9 tahun, pendapatan menjadi pembalak liar memang cukup besar sekitar Rp 3 juta per bulan, hanya saja sehari-hari kerap dirundung kekhawatiran ditangkap petugas, bahkan tutur Amat, dirinya pernah sekali dikejar polisi akibat pekerjaannya yang ilegal. ”Pekerjaan itu terpaksa saya lakukan karena hanya itu yang bisa kami lakukan,” katanya

Kegiatan pembalakan liar di sekitar Desa Laman Satong tercatat memang pernah ramai dari tahun 2003 hingga 2006, namun semenjak itu pula kegiatan penebangan liar kian menurun dan tepatnya pada tahun 2009 pekerjaan pembalakan liar pun sudah hilang sama sekali, seiring dengan dibangunnya perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit