infosawit

Pabrik Sawit Rampung, Berharap Pendapatan Melonjak



Kepala Desa Pengatapan Raya, Toro
Pabrik Sawit Rampung, Berharap Pendapatan Melonjak

InfoSAWIT, SUNGAI MELAYU - Saat pertama kali perkebunan kelapa sawit dibangun di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, cerita Toro (42) asal Desa Pengatapan Raya, umurnya masih muda dan masih duduk di bangku sekolah. Tidak aneh bila kemudian Toro yang saat ini telah menjabat sebagai Kepala Desa Pengatapan Raya paham betul perjalanan perkebunan kelapa sawit di daerahnya.

Tahun 1995 lalu, tutur Toro, untuk pertamakalinya Benua Indah Group (BIG) -yang saat ini asetnya telah diambil alih Bumitama Gunajaya Agro (BGA) group dari hasil lelang- mengamalami kondisi kesulitan finansial. Namun kemudian kembali membaik pada periode 1997/1998. “Saya paham dengan kejadian itu, hanya saja saya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran masih duduk dibangku sekolah,” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini.

Barulah di tahun 2006, ketika perusahaan kembali tidak bisa menghindari kesulitan finansial yang kedua lantaran gagal bayar kredit ke Bank Mandiri. Alhasil yang terjadi seluruh aset perusahaan eks BIG disita Bank Mandiri. Kala itu tutur Toro dirinya sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mulai memperjuangkan agar aset eks BIG bisa dikelola perusahaan lain. “Saat itu saya masuk tim 10 dan kerap melakukan konsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), harapannya ada investor yang mau mengambil alih aset eks BIG untuk dikelola kembali,” katanya.

Catatan Toro, ada sekitar 19 investor yang telah ditawarinya untuk mau mengambil alih aset perkebunan kelapa sawit eks BIG. Sayangnya dari puluhan investor itu tidak ada satupun yang cocok untuk mengambil alih aset eks BIG, dengan alasan masih tingginya masalah sosial.

Di tahun 2015 akhirnya aset eks BIG, dibeli BGA Group, dengan perusahaan ini Toro berharap akan bisa mengembalikan kondisi petani kelapa sawit di daeranya seperti sediakala, dan dirinya memastikan bahwa akan mendukung setiap program yang akan diterapkan perusahaan. “Kami paham bahwa aset ini sangat penting, kami akan dukung asal ada komunikasi dan jangan sampai ada intrik,” katanya.

Lebih lanjut tutur  Toro, bila dikalangan masyarakat masih timbul kecurigaan, kondisi ini dianggap wajar lantaran masyarakat pernah dihadapkan pada kondisi sulit saat masih di kelola BIG. Namun Toro memastikan, itu terjadi lantaran masyarakat belum sepenuhnya paham, dan dirinya berusaha untuk melakukan sosialisasi keseluruh desa. “Kami mendapati sekitar 99% masyarakat mendukung,” katanya.

Bahkan dengan telah beroperasinya pabrik pengolahan kelapa sawit di perkebunan eks BIG, berharap bisa menampung seluruh produksi buah sawit masyarakat dan harapannya bisa dibeli dengan harga yang sesuai dengan penetapan harga dari pemerintah.

Toro memastikan, dengan hadirnya pabrik pengolahan ini bakal mendongkrak pendapatan petani. “Dengan terpangkasnya ongkos transportasi pengiriman buah sawit maka pendapatan petani diyakini bakal lebih tinggi,” tandas dia. (Atep Y)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit