infosawit

Ekspansi Perkebunan Sawit: Berdamai dengan Perbedaan



Tokoh Desa Laman Satong, Yohanes Terang
Ekspansi Perkebunan Sawit: Berdamai dengan Perbedaan

InfoSAWIT, LAMAN SATONG – “Hutan-hutan yang lebat hampir habis terbabat, Binatang-binatang yang ada, tak sedikit disikat Hukum–hukum yang mengikat dengan mudah diloncat Akibat di antara kita kebanyakan ikut terlibat”

Sepenggal bait puisi diatas menjadi salah satu coretan dari keprihatinan Yohanes Terang terhadap tumbuh berkembangnya industri berbasis sumber daya lahan di Laman Satong, Ketapang, Kalimantan Barat.

Dari hasil coretan puisi, yang kini dibukukan oleh penerbit ternama di Jakarta, seolah menjadi media bagi Yohanes untuk menucurahkan rasa kekhawatirannya atas perubahan situasi di sekitar desanya, akibat kian gencarnya pengembangan sektor tambang dan perkebunan kelapa sawit.

Termasuk keprihatiannya terhadap perkembangan kedepannya Kabupaten Ketapang, terutama mengenai kondisi sosial masyarakat dan lingkungan di wilayah tersebut. Apalagi Yohanes, merupakan Kepala Desa Laman Satong pertama. Sejak 1979, Yohanes sudah menetap di Kampung Manjau, jauh sebelum Desa Laman Satong berdiri.

Desa Laman Satong sendiri baru berdiri pada 1987, dari penyatuan sejumlah kampung, yakni Nekdoyan, Kepayan, dan Manjau, ketiga kampung tersebut dilebur menjadi satu dan membentuk pemerintahan baru bernama Desa Laman Satong.

Dari sikap yang ditunjukkan Yohanes Terang, tentu saja akan sangat bertolak belakang dengan pelaku dari sektor industri. Lantaran, pria paruh baya itu lebih memilih untuk mengembangkan sektor pertanian yang dianggap tidak merusak alam. Semisal mengembangkan tanaman hutan dan buah-buahan.

Ini nampak dari kebun buah yang dibangun Yohanes persis dibelakang rumahnya, dan berdampingan langsung dengan areal Taman Nasional Gunung Palung.

Alasan Yohanes mengambil sikap demikian lantaran dikhawatirkan pengembangan sektor berbasis lahan itu akan dilakukan secara membabi buta, apalagi dia mencontohkan pengembangan perkebunan kelapa sawit dianggap sudah sedemikian luas. “Berjuta-juta lahan sudah terbuka, tidak ada air sungai lagi,” dalihnya kepada InfoSAWIT belum lama ini.

Yohanes pun menganggap banyak perusahaan yang memiliki kepatuhan tetapi tidak menerapkan kepatutan atau sebaliknya. Hanya saja Ia menilai, untungnya masih ada perusahaan yang mampu menjaga kepatuhan dan kepatutan. Seperti salah satu perusahaan perkebunan kelapas sawit yang ada di sekitar wilayahnya.

Perusahaan perkebunan ini tutur Yohanes, bisa dikategorikan sebagai perusahaan yang memikiki kepatuhan dan kepatutan, ini bisa dilihat dari cara pengembangan perkebunan kelapa sawit yang juga memerhatikan lingkungan dengan cara membuka areal konservasi. “Bagaiman mereka mengikuti aturan dengan patuh dan patut,” katanya.

Selain itu, ada yang menarik dari tulisan Yohanes yang terdapat dalam buku “Menjaga yang Tersisa, Sajak dan Renungan dari Laman Satong”, pada pengantar buku yang ia tulis tersebut, Yohanes mencatat setiap orang pasti memerhatikan alam sekitar dan memiliki kesan masing-masing tentang pengamatan atau pengalaman itu.

Diakui Yohanes, setiap pengalaman dan pengamatan pada kejadian atau objek yang sama dapat memberikan pesan atau kesan yang berbeda. “Saya hargai perbedaan itu,” catatnya.

Lebih lanjut dirinya meyakini bahwa setiap orang ada keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang baik bagi generasi yang akan datang. Perbedaan mungkin muncul karena orang bisa saja memilih cara yang berbeda untuk meninggalkan warisan itu. “Kita bisa belajar untuk saling menghormati perbedaan. Kemudian secara bersama bisa dapat mencari solusi untuk masa depan yang baik bagi keluarga, anak cucu serta anak cucu mereka,” catanya. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit