infosawit

10 Perusahaan Sawit Dengan Lahan Belum Dikelola Terluas



10 Perusahaan Sawit Dengan Lahan Belum Dikelola Terluas

InfoSAWIT, JAKARTA – Semenjak 2013 lalu para pelaku refineri, trader CPO, telah mengumumkan pemasok pihak ketiga CPO yang diterima. Merujuk penelitian yang dilakukan Chain Reaction Research diperkirakan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Indonesia terdapat sebanyak 900 unit. Sumber buah sawit yang didapat bisa berasal dari kebun sawit sendiri, pemasok pihak ketiga dan petani kelapa sawit (plasma).

Hingga saat ini luasan konsesi perkebunan kelapa sawit di Indonesia sulit untuk mendapatkan angka yang pasti, ini lantaran adanya anggapan bahwa lahan konsesi sawit termasuk dalam kerahasiaan negara. Masih merujuk hasil penelitian dari Chain Reaction Research yang bekerjasama dengan Aidenvironment, dikompilasikan konsesi kelapa sawit di Indonesia diprediksi seluas 21 juta ha.

Kalimantan tercatat menjadi wilayah dengan lahan konsesi kelapa sawit terluas, mencapai sekitar 12 juta ha, disusul wilayah Sumatera seluas 5,3 juta ha, lantas Papua sekitar 3,1 juta dan terakhir wilayah Sulawesi seluas 491 ribu ha.  

Namun demikia ada juga hasil penelitian lain yang menyatakan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia seluas 15 juta ha, tidak termasuk lima tahun terakhir dan area kebun sawit yang ditanam pekebun kecil (petani).

Tercatat sebanyak 95 group perusahaan memliki rata-rata sekitar 1000 ha yang belum dikelola (tidak ada kegiatan penanaman) untuk perkebunan kelapa sawit, dimana diantaranya sebanyak 35 perusahaan adalah perusahaan terbuka.

Berikut paparan hasil Chain Reaction Research, pada awal tahun 2017 ini, yang melansir terdapat 10 perusahaan dengan lahan terluas yang telah diberikan izin hanya saja belum dikelola (tidak ada kegiatan pananaman) di lahan tersebut.

Pertama, konsesi lahan kelapa sawit yang dimiliki Pacifik Inter-Link, Tadmax dan Menara: Tanah Merah yang memiliki proyek di Papua. Tanah Merah memiliki proyek di Papua dengan 7 lahan konsesi. Perusahaan ini kerjasama antara investor dari Malaysia, Kuwait dan Indonesia, termasuk didalamnya melibatkan pihak kepolisiaan dan tentara nasional Indonesia.

Proyek pengembangan kebun sawit ini akan berbentuk perusahaan kecil menengah dimana pengelolaan buah sawit akan dilakukan refineri yang dimiliki Pacifik Inter-Link. “Dimana perusahaan ini belum peduli terhadap lingkungan dan aspek sosial,” catat Chain Reaction Research.

Luas lahan yang belum dikelola pihak Tadmax Resources  mencapai 76.292 ha, Pacifik Inter-Link seluas 159.239 ha dan Tanah Merah sekitar 38.607 ha. Dengan demikian total lahan yang belum dilakukan kegiatan namun sudah mendapat izin seluas 246.531 ha atau sekitar (90%) dari total landbank seluas 273.394 ha.

Kedua, diduduki Korindo, yang merupakan perusahaan kelapa sawit investasi dari Korea Selatan. Perusahaan ini awalnya fokus ke pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veener pada tahun 1979, memproduksi kertas koran di 1984, perkebunan kayu di 1993 dan terakhir mengembangkan perkebunan kelapa sawit tahun 1995. Catatan Chain Reaction Research, luas lahan yang belum dikelola perusahaan ini dikisaran mendekati 150 ribu ha yang didalamnya ada lahan hutan, gambut dan hutan gambut.

Ketiga, terdapat PT Astra Agro Lestari, Perusahaan ini aadalah anak perusahaan Astra Internasional (ASII) yang tercatat tahan terpaan badai. Sempat mencuat kasus adanya kepemilikan saham Dana pensiun norwegia, hingga ditariknya dana pensiun norwegia tersebut, tidak membuat kondisi perusahaan bergoyang. Lantaran, dana yang ditarik itu, juga masuk kembali melalui kelompok usaha Jardine.

Melalui bendera Jardine Strategic Holdin, Ltd., yang bermarkas di Bermuda, pula membentuk perusahaan investasi di Singapura yang bernama Jardine Cycle & Carriage Ltd., dari perusahaan itulah, jardine berhasil memiliki saham sebesar 50,11% dari PT Astra Internasional Tbk., yang merupakan induk usaha Astra Agro Lestari Tbk., dengan porsi saham sebesar 79,68%.

Berdasarkan data yang bersumber dari website resmi perusahaan, PT Astra Agro Lestari Tbk., melakukan ekspansi lumayan besar, dibandingkan perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional lainnya. Anehnya, ekspansi lahan yang dilakukan, justru kian membesar sejak tahun 2011. Dimana tahun tersebut, merupakan penerapan Inpres Moratorium Hutan dan Gambut.

Luas lahan inti dan plasma PT Astra Agro Lestari Tbk., cenderung stagnan sebelum tahun 2011. Hal ini bisa dilihat, pada pertumbuhan lahan inti yang dimiliki perusahaan, dimana tahun 2010 cenderung berkurang sebesar 0,755 hektar. Di sisi lain, lahan plasma perusahaan juga tidak bertambah sama sekali.

Merujuk informasi yang didapat InfoSAWIT, belu lama ini, tahun 2011, ketika Moratorium pembukaan hutan dan gambut diberlakukan, perusahaan mulai melakukan ekspansi lahan inti yang hanya sebesar 0,537 hektar. Namun, penambahan lahan plasma perusahaan mampu mencapai 2,888 hektar di tahun yang sama.

Puncak ekspansi lahan terbesar PT Astra Agro Lestari Tbk., terjadi pada tahun 2014, dimana ekspansi lahan inti perusahaan menembus angka 15,290 hektar. Sedangkan lahan plasma tumbuh sebesar 0,911 hektar. Tahun 2014 lalu, perusahaan melakukan ekspansi lahan hingga mencapai 16,201 hektar.

sementara merujuk catatan Chain Reaction Research, dari luasan yang dimiliki lahan yang dikelola atau belum ada kegiatannya mencapai lebih dari 125 ribu ha dimana lahan gambut hampir mendominasi sekitar lebih dari 50%, sisanya dalah lahan hutan serta lahan hutan gambut. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit