infosawit

Sawit Lindungi Orangutan, Caranya Bangun Areal Konservasi



Sawit Lindungi Orangutan, Caranya Bangun Areal Konservasi

InfoSAWIT, JAKARTA - Selain mempertahankan bukit yang memiliki nilai konservasi tinggi, faktanya di dalam areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan tersebut juga masih terdapat areal konservasi lainnya.

Areal konservasi ini ditetapkan tatkala proses pembukaan kebun sawit PT KAL baru saja dilakukan. Kala itu tutur Manager Konservasi Wilayah Barat PT ANJ Tbk., Nardiyono, kepada InfoSAWIT, belum lama ini, para pekerja pembukaan kebun sawit tanpa sengaja menemukan sarang orangutan, tepatnya di areal konsesi sebelah barat berbatasan langsung dengan areal Desa Kuala Satong. Sebelumnya lokasi itu bakal dijadikan areal perkebunan inti dan plasma.

Sejak saat itu, areal seluas 657 ha pun sepakat dijadikan areal konservasi untuk rumah bagi orangutan. Penetapan areal konservasi untuk orangutan itu nyatanya tidak hanya satu lokasi, lantaran areal di selatan konsesi perusahaan juga ditetapkan sebagai areal konservasi untuk orangutan, dengan luasan sekitar 2.330 ha.

Hingga saat ini pada areal konservasi seluas 657 ha diperkirakan terdapat orangutan sebanyak 48 individu, sementara di areal 2.330 ha, merujuk survey yang dilakukan Yayasan Internasional Animal Rescue Indoensia (YIARI), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ketapang dan pihak perusahaan diakhir 2015 lalu, diperkirakan terdapat 102 individu orangutan.

Lantas dalam upaya melindungi individu orangutan, perusahaan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ketapang dan Yayasan Internasional Animal Rescue Indoensia (YIARI), telah pula melakukan translokasi sebanyak 11 orangutan dari lahan masyarakat.

Sebagai bentuk keseriusan dalam mengelola areal konservasi bagi orangutan, dikatakan Nardiyono, pihaknya bakal menjadikan areal konservasi seluas 2.330 ha itu sebagai Kawasan Ekosistem Essensial (KEE), dan menjadi areal lanskap bentang alam hingga ke Taman Nasional Gunung Palung.

Sebab itu pihak perusahaan sedang berupaya mengajukan areal konservasi tersebut untuk mendapatkan SK Gubernur sebagai areal KEE, sehingga statusnya bukan lahan tak bertuan, melainkan berstatus lahan konservasi yang dikelola perusahaan untuk melindungai keragaman hayati.

Cara demikian kata Nardiyono, guna mencegah terjadinya perambahan, yang sekaligus supaya areal konservasi tersebut memiliki kepastian hukum. “Langkah ini supaya pengelolaan kawasan konservasi menjadi lebih pasti,” tandas Nardiyono. (T2)

 

Lebih lengkap baca InfoSAWIT edisi Oktober 2017


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit