infosawit

Tumbuhnya Industri Oleokimia di Indonesia



Tumbuhnya Industri Oleokimia di Indonesia

InfoSAWIT, JAKARTA - Sebagai produsen dan eksportir terbesar minyak sawit mentah (cpo) di dunia, indonesia juga masih berpeluang besar untuk mengembangkan industri turunannya. supaya mendapatkan nilai tambah secara ekonomi bagi pembangunan nasional, maka pembangunan industri turunannya harus selalu dilakukan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi didaerah.

Industri oleokimia nasional yang masih di dominasi industri oleokimia dasar, memang masih jauh dari harapan banyak pihak. Kendati pertumbuhan produksi CPO setiap tahunnya meningkat lebih dari 10%, namun kapasitas terpasang industri oleokimia nasional nyaris tak bergerak tumbuh sepanjang lima tahun terakhir.

Pertumbuhan industri oleokimia dasar, sejak dikenalnya industri biodiesel sebagai bahan bakar aternatif dan terbarukan, memang nyaris tak terdengar. Sejak tahun 2008 silam, pembangunan industri biodiesel memang masif terjadi di Indonesia. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja, industri biodiesel telah memiliki kapasitas terpasang yang jauh lebih besar dari industri oleokimia nasional.

Sebagai gambaran, tahun 2011, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional telah mencapai lebih dari 3 juta ton/tahun. Dibandingkan dengan industri oleokimia nasional yang hanya memiliki kapasitas terpasang sekitar 1 juta ton/tahun.

Padahal, pengembangan industri oleokimia nasional sudah dimulai sejak tahun 1980an silam, dimana untuk pertama kalinya dimulai oleh PT Cisadane Raya Chemicals yang mampu produksi fatty acids hingga sabun cuci batang.

Dara penelusuran InfoSAWIT, kendati, sejak tahun 2013 akhir, hampir semua industri turunan CPO global dan Indonesia kembali mengalami kelesuan. Memang, lesunya pertumbuhan industri turunan CPO tidak bisa terlepas dari tingginya fluktuasi harga bahan baku. Swing harga naik dan turun dari harga CPO yang terlalu besar, senantiasa berpengaruh besar terhadap harga jual produk oleokimia.

Kondisi tidak stabilnya harga jual CPO tersebut, memang bukan satu-satunya alasan dari kelesuan industri hilir CPO. Lantaran, yang utama dari bisnis industri turunan CPO selalu mengacu kepada ketersediaan permintaan pasar global termasuk Indonesia. Tak heran, jika kondisi regulasi di Indonesia, sempat juga memiliki pengaruh terhadap harga jual CPO.

Banyaknya strategi bisnis CPO yang diterapkan para pelaku usaha, pada akhirnya juga harus kembali berpijak kepada inti dari bisnis itu sendiri, dimana ketersediaan pasar, tidak hanya berasal dari yang ada, melainkan juga harus dilakukan dengan membuat permintaan pasar sendiri.

Sejak tahun 2014 silam, berbagai strategi pengembangan industri hilir CPO mulai kembali dilakukan oleh Grup-grup perusahaan minyak sawit besar. Semisal Grup Wilmar melalui pengembangan Kawasan Industri Dumai dan Gresik, juga Grup Sinar Mas yang mengembangkan Industri turunan CPO di daerah yang sama.

Tahun 2017 ini, industri oleokimia nasional akan kembali diperkuat, melalui kehadiran industri fatty alcohols baru yang berhasil dibangun Grup Sinar Mas bekerjasama dengan Grup CEPSA dari Uni Emirat Arab. Perusahaan patungan yang digagas antara Golden Agri Resources Ltd (GAR) dengan CEPSA Ltd ini, diberi nama Sinar Mas CEPSA.

Berlokasi di Kota Dumai, Provinsi Riau, pabrik fatty alcohols baru ini akan memproduksi asam lemak dan lemak alcohol dengan kapasitas terpasang sebesar 160 ribu Ton/Tahun, dimana bahan baku yang digunakannya berasal dari CPO yang telah tersertifikasi berkelanjutan.

Kehadiran pabrik fatty alcohols baru ini, merupakan bagian dari penguatan industri turunan CPO nasional yang akan mampu memperbesar serapan pasar domestik akan CPO dan menambah nilai keekonomian dari produk turunan CPO nasional. Jika industri turunan CPO menguat, maka secara langsung akan memperkokoh keberadaan industri CPO nasional. Semoga. (Ditulis, Kris Hadisoebroto/Dewan Redaksi InfoSAWIT/Pengamat Industri Hilir Sawit)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit