infosawit

Alex Noerdin: Komitmen Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan



Alex Noerdin: Komitmen Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA - Sosok pejuang yaitu sang ayah, H.M. Noerdin Pandji merupakan sosok pejuang kemerdekaan, yang pantang menyerah kepada penjajah kolonial. Keteladanan sang ayah, bagi Alex Noerdin, untuk berbuat banyak kebaikan bagi masyarakat Sumatera Selatan, sebagai bagian dari kewajiban menyejahterakan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

Sebagai Gubernur Sumsel, Alex Noerdin telah meraih kesuksesan diri yang berasal dari pendidikan, organisasi dan pemerintahan, yang tercermin sebagai rekam jejak kehidupannya. Keberhasilan Alex memimpin, juga menjadikan petahana ini terus memimpin Sumsel pada periode kedua.

Sebagai pemimpin daerah yang kaya akan sumber daya alam dan mineral, pria yang dikaruniai 3 orang anak ini, memiliki visi kuat membangun daerahnya. Melalui karya pembangunannya, Alex banyak membangun berbagai infrastruktur dan fasilitas umum di Sumatera Selatan. Bahkan, keberhasilan pembangunan Sumsel telah tersiar hingga ke manca negara.

Pola pembangunan yang dilakukan, menurut Alex, merupakan pembangunan hijau berkelanjutan yang berorientasi kepada hasil. Supaya keberadaan pembangunan dapat selaras dengan keberadaan alam sekitarnya, kata Alex, diperlukan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pembangunan hijau lewat minyak sawit berkelanjutan.

Seperti pola pembangunan hijau industri sawit yang telah berhasil dilakukan. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit, bisa ikut membantu mengelola limbahnya untuk menghasilkan bio energi, yang digunakan sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga bio-gas.

Alhasil, listrik yang dihasilkan, dapat mendukung program pemerintah untuk menyediakan listrik bagi masyarakat luas. Sehingga Sumsel tidak lagi bergantung kepada pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar dari petroleum semata. “Bio-energi menjadi masa depan bagi pembangkit listrik di Sumsel,” kata Alex, kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Imbuhnya, keberadaan suplai listrik yang sering nyala-padam, bisa banyak terbantu, dengan beroperasinya pembangkit listrik tenaga biogas yang berlokasi dekat dengan PKS di daerah-daerah perkebunan kelapa sawit. “Supaya Sumsel bisa swasembada listrik di masa depan,” tukasnya.

Komitmen Pembangunan Hijau

Gebrakan terbaru dari kepemimpinan Alex, di Provinsi Sumatera Selatan, juga melakukan terobosan yang terbilang baru, yang menyatakan sebagai daerah lumbung pasokan minyak sawit berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini dilakukan, melalui pemberdayaan perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat didaerahnya.

“Sumatera Selatan menjadi provinsi yang memiliki komitmen untuk pertumbuhan hijau dengan mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” katanya menegaskan.

Perkebunan kelapa sawit, menurut dia, harus melakukan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan, supaya mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi. Maka, hasil terbaik pun akan didapat, sehingga kesejahteraan petani kelapa sawitpun akan meningkat.  

Menurutnya, keberhasilan pembangunan dapat dirasakan, apabila keberadaan penduduk Sumsel menjadi lebih sejahtera. Perkebunan kelapa sawit di Sumsel, yang mencapai lebih dari 820 ribu hektar, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit yang mengelola perkebunan.

Dengan total produksi minyak sawit mentah (CPO) setiap tahunnya sebanyak 2 juta ton lebih, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Sumsel mendorong seluruh pemangku kepentingan minyak sawit berkelanjutan untuk bersama-sama membangun daerahnya menjadi lumbung pasokan minyak sawit berkelanjutan.

Melalui komitmen bersama itu, maka pembangunan hijau di daerahnya dapat segera tercapai. Sebab, dengan bekerjasama antara perusahaan perkebunan kelapa sawit, organisasi masyarakat sipil, pemerintah pusat dan daerah, serta pemangku kepentingan lainnya, maka dapat mewujudkan hasil nyata bagi pembangunan.

Pembangunan hijau Sumsel, juga dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi bersama, seperti pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan dan perlindungan lahan gambut, hutan dan daerah aliran sungai. “Sebab itu, evaluasi rencana dan kinerja tata ruang, legalitas dan alokasi lahan, juga pendanaan dibutuhkan, terutama bagi petani kecil dan swadaya,” ujarnya menjelaskan. (T1)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit