infosawit

Jika Kanola dan Kedelai Terapkan Bioteknologi, Semestinya Sawit Juga



Peneliti Purna Bakti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Prof Herman
 Jika Kanola dan Kedelai Terapkan Bioteknologi, Semestinya Sawit Juga

InfoSAWIT, JAKARTA - Genetically Modified Organisms (GMO) atau yang dikenal juga dengan teknologi berbasis Bio engineering, merupakan salah satu teknologi yang memanfaatkan organisme lain guna memperbaiki kualitas organisme tertentu.

Atau secara bahasa artinya adalah proses perubahan genetik dari suatu organisme dengan teknik rekayasa genetik. GMO memodifikasi berbagai jenis pangan dan bisa juga untuk penelitian ilmiah non pangan. GMO bisa juga disebut organisme hidup yang dimodifikasi (living modified organism).

Cara demikian dikatakan Peneliti Purna Bakti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Prof Herman, menjadi salah satu jalan untuk melakukan perbaikan kualitas, untuk tanaman atau ternak hewan.

Sejatinya, tutur Prof Herman, bioteknologi bukan suatu cara yang sulit atau justru ditakuti. Lantaran bioteknologi secara tradisional telah dilakukan manusia sudah sejak ribuan tahun silam, sehingga tidak ada alasan untuk ditakuti atau malah dilarang pengembangannya.

Proses membuat tempe atau minuman beralkohol menjadi segelintir contoh produk yang dihasilkan dari proses bioteknologi. Sementara di dunia kini produk makanan atau hewan hasil bioteknologi sudah sangat berkembang. “Terlebih bioteknologi tradisional kini telah berganti ke bioteknologi modern,” tutur Prof Herman, menjelaskan saat acara Media Gathering CropLive yang hadiri InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta.

Dari sekian ribuan produk pertanian yang di produksi di dunia, ternyata terdapat produk hasil bioteknologi. Apalagi kini kabarnya terdapat sebanyak 20 negara yang telah mengembangkan dan menerapkan bioteknologi ini dalam menghasilkan produk pertanian atau hewan.

Tutur Prof Herman, bioteknologi sangat membantu sektor pertanian dalam menghadapi berbagai kendala, semisal penyakit atau hama. Dengan terus bertambahnya populasi manusia maka kebutuhan pangan sangat tinggi sebab itu diperlukan produk pertanian yang tahan dengan hama atau penyakit. Guna menghasilkan produk tersebut bisa dilakukan lewat boteknologi.

Sebelumnya pengembangan bioteknologi hanya dilakukan oleh 6 negara di tahun 1996, dan lahan pertanian yang ditanami produk hasil bioteknologi mencapai 1,7 juta ha, kini tutur Prof Herman, telah ada sebanyak 21 negara yang mengembangkan bioteknologi diataranya 7 negara maju dan 19 negara berkembang, dengan lahan yang ditanami produk hasil bioteknologi mencapa 185 juta ha. “Peningkatannya hingga mencapai 11 kali lipat,” tutur Prof Herman.

Produk pertanian yang umum telah menggunakan bioteknologi diantaranya, kedelai, kapas, kanola dan masih banyak produk pertanian lainnya. “Saatnya Indonesia berani untuk mengembangkan produk pertanian berbasis bioteknologi, kini sudah ada 32 produk pertanian yang lolos tinggal di sahkan,” katanya.

Jika produk pertanian sudah umum dikembangkan lewat bioteknologi, maka kedepan tidak menutup kemungkinan bibit sawit didapat dari cara bioteknologi, sehingga hasil produksi pun bisa mendekati potensi minyak yang dikandung pohon sawit. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit