infosawit

Prof Erliza Hambali Raih Best Inovator IPB 2017, Potret Dosen dan Pengusaha



Prof Erliza Hambali Raih Best Inovator IPB 2017, Potret Dosen dan Pengusaha

Info SAWIT, BOGOR – Senin malam (12/12/2017) lalu Institut Pertanian Bogor (IPB) secara rutin menggelar “Malam Apresiasi Inovator dan Mitra IPB 2017 (MAMI)” berlokasi di IPB Intrenational Convention Center, Bogor.

Ajang ini merupakan upaya Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk terus berusaha meningkatkan perannya dalam bidang pendidikan dan pembangunan di Indonesia dan juga dunia International.

Peningkatan peran IPB dilakukan dengan mengembangkan kerjasama strategis dengan perusahaan-perusahaan yang ada baik pada level nasional, regional dan global, atau melalui peran dari alumni IPB yang tersebar pada berbagai perusahaan terkemuka.

Dalam laman resmi IPB mencatat, penyelenggaraan MAMI 2017 diharapkan menjadi wadah yang tepat untuk lebih mendekatkan Institut Pertanian Bogor dengan para Pimpinan Perusahaan.

Selain itu IPB juga akan memberikan apresiasi terhadap perusahaan atas kerjasama dan peran aktif perusahaan dalam peningkatan kinerja IPB sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. “Acara MAMI 2017 ini mengundang lebih dari 100 Perusahaan-perusahaan Mitra IPB pada level nasional maupun multinasional,” catat pihak penyelenggara, dalam keterangan resmi didapat InfoSAWIT, belum lama ini.

Dalam MAMI 2017, salah satu pemenang Best Inovator 2017 kali ini adalah Prof. Erliza Hambali. Sosok Prof Erliza Hambali yang merupakan wanita kelahiran Kota Padang 55 tahun silam itu telah mengabdi cukup lama di almamaternya. Bahkan suka duka menjadi dosen telah disarakan.

Beberapa tahun silam, Erliza pernah bilang menjadi dosen terbilang gampang-gampang susah, apalagi bila mata kuliah yang diajarkan mesti terbukti di lapangan. Supaya tidak hanya jago diteori, Erliza akhirnya membangun bisnis berbasis teknologi industri pertanian. Contohnya, PT Erliza Chocolate Factory yang memproduksi coklat serbuk yang dikemas dalam bentuk saset.

Perusahaan ini adalah hasil riset terkait komoditas pertanian coklat yang dikemas dan diproses supaya enak dan mudah diseduh dengan air, layaknya kopi atau the yang umum ditemui.

Lantas ada PT Liza Herbal Internasional, yang memproduksi minuman berbasis komoditas jahe yang dikemas dengan berbagai rasa, seperti jahe dengan rasa susu atau coklat dan sebagainya.

Sebagai dosen, mungkin membuat perusahaan berbasis agorindustri cukup sulit dilakukan, namun guna menjadi pembuktian di lapangan dan bukti uji coba skala industri dari riset yang dilakukan, Erliza telah sukses mewujudkannya.

“Kenapa saya banyak bikin usaha, karena ketika mengajar mahasiswa tidak hanya berteori saja tetapi bisa dipraktekkan. Misalnya pada tahun 2000 mendirikan franchise Ayam Goreng Fatmawati. Lantas bikin produk herbal seperti sabun dan lotion. Sehingga dari riset bisa dikembangkan lebih lanjut sambil mentraining mahasiswa,” tutur Erliza kepada InfoSAWIT.

Tak hanya sukses membangun usaha, wanita yang memiliki hobi jogging ini juga banyak memiliki pemikiran kedepan terkait pembangunan industri hilir sawit Indonesia, maka di tahun 2004, Erliza bersama teman-temannya mendirikan Surfactant and Bioenergy Research Center di Institut Pertanian Bogor (SBRC-IPB).

Alasan mendirikan pusat riset ini menurut Erliza lebih diakibatkan produksi kelapa sawit Indonesia masih dijual dalam bentuk crude palm oil (CPO) yang relative belum memiliki nilai tambah.

Maka berdasar pemikiran Erliza, nilai tambah kelapa sawit mesti digali lebih dalam, apalagi kondisi saat ini industri hilir kelapa sawit yang dikembangkan masih berkisar di refineri, fatty acid, fatty alcohol dan biodiesel. “Hampir 70% produk kelapa sawit Indonesia diekspor dalam bentuk CPO dan sisanya diolah di dalam negeri.

Sementara yang diolahnya hanya baru sampai pada refineri, fatty acid, fatty alcohol dan biodiesel. Sedangkan speciality fats, surfaktan masih sangat sedikit padahal nilai tambahnya sangat tinggi,” kata wanita yang dikaruniai tiga anak ini.

Melalui pusat riset inilah, Erliza mengembangkan pemikiran-pemikirannya mengenai industri hilir sawit, seperti surfaktan berbahan baku kelapa sawit, padahal surfaktan saat ini masih didominasi oleh surfaktan berbasis fosil.

Sehingga dengan keunggulan surfaktan berbasis nabati yang seringkali disebut metil ester sulfonat (MES) apabila dibandingkan surfaktan berbasis fosil, lebih ramah lingkungan.

Apalagi tren dunia saat ini mengarah pada produk-produk yang dibuat dengan bahan-bahan yang berasal dari renewable resources, karena limbahnya tidak merusak lingkungan. “Sekarang yang paling menarik adalah mengembangkan MES, karena selama ini surfaktan berbahan baku petroleum dan bagaimana mensubstitusi MES dengan bahan baku yang bisa diperbaharui, sebab orang lebih banyak membutuhkan green surfaktan karena limbahnya tidak merusak lingkungan,” tandas Erliza. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit