infosawit

Laba Bersih Astra Agro di 2017 Diprediksi Anjlok 14,69%



Laba Bersih Astra Agro di 2017 Diprediksi Anjlok 14,69%

InfoSAWIT, JAKARTA - Bersumber data perusahaan yang diolah Pusat Data InfoSAWIT, pertumbuhan luas lahan inti PT Astra Agro Lestari Tbk., dari tahun 2011 hingga 2015 lalu, ekspansi lahan inti mencapai 29,390 hektar, dan lahan plasma sebesar 5,191 hektar. Sehingga total ekspansi lahan sepanjang moratorium berlaku hingga tahun 2015 sebesar 34,581 hektar.

Besarnya ekspansi lahan yang dilakukan PT Astra Agro Lestari Tbk., sejak diberlakukannya Inpres Moratorium, tentunya sangat mengejutkan. Pasalnya, keberadaan Inpres Moratorium merupakan regulasi yang dibuat pemerintah guna menjaga hutan dan gambut yang ada di Indonesia.

Sayangnya, Inpres Moratorium hutan dan gambut yang digadang-gadang dapat menjaga tersebut, menjadi luluh lantah, tatkala melihat kehebatan ekspansi emiten AALI ini, yang dalam kurun waktu bersamaan mampu menambah luas lahannya sebesar 34,581 hektar.    

Pihak perusahaan, ketika dikonfirmasi mengenai ekspansi lahan yang dilakukan, tidak mau memberikan komentar. “Silahkan melihat data yang ditampilkan perusahaan di website,” ujar Manajer Humas Astra bagian timur Indonesia, Muhammad Husni, seperti tertulis pada InfoSAWIT edisi September 2016 lalu.

Lantas sampai akhir tahun 2017 ini bagaimana kondisi emiten dengan kode AALI tersebut, apakah akan ada ekspansi baru? Dikatakan Analis UOB Kay Hian, Edward Lowis, kenaikan pajak impor India untuk minyak nabati, termasuk CPO dan minyak sawit olahan, dapat berdampak jangka pendek bagi emiten kebun, termasuk PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). "Kenaikan pajak kemungkinan akan membuat volume penjualan minyak sawit olahan lebih rendah mulai awal tahun depan," ujar Edward dalam riset pada awal Desember 2017, seperti dikutip Kontan.co.id.

Apalagi, China dan India merupakan konsumen terbesar produk hilir AALI. "Penjualan minyak sawit olahan AALI biasanya mencapai 30%–35% dari total volume penjualan," sebut Edward.

Karena itu, Edward memprediksi AALI akan mengalami penurunan laba bersih sebesar 14,59% year on year (yoy) pada tahun depan menjadi Rp 1,66 triliun. Atas kondisi tersebut, dia menurunkan rekomendasi AALI menjadi sell dengan target harga Rp 12.000 per saham. Target harga itu mencerminkan price to earning ratio (PER) tahun depan 14 kali. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit