infosawit

Kasus Dumping Fatty Alcohol Sawit Sejatinya Belum Tuntas



Kasus Dumping Fatty Alcohol Sawit Sejatinya Belum Tuntas

InfoSAWIT, JAKARTA –Sebelumnya Kementerian Perdagangan pada Kamis (14/12/2017) lalu menyampaikan rilis tentang kembalinya pasar turunan minyak sawit, fatty alcohol ke Uni Eropa karena Bea Masuk Anti Damping (BMAD) ke benua biru tersebut telah dicabut.

Namun menurutAppellate Body Reports, kasus tersebut sejatinya adalah  penerapan Council Implementing Regulation (EU) No 1138/2011 tertanggal  8 November 2011 yang mengenakan suatu bea anti dumping yang defenitif pada impor atas lemak alkohol sawit (fatty alcohol) tertentu dan campurannya yang berasal dari India, Indonesia dan Malaysia, OJ L 293, 11.11.2011, p.1. 

Aturan provisional yang dipersoalkan oleh Indonesia, dikenakan sesuai dengan Commission Regulation (EU) No 446/2011 tertanggal 10 Mei 2011 yang mengenakan suatu bea anti dumping provisional pada impor atas lemak alkohol tertentu  dan campuran-campurannya yang berasal dari India, Indonesia, and Malaysia, OJ L 122, 11.5.2011, p. 47. 

Penyelidikan dilakukan sesuai dengan pemberitahuan diadakannya proses anti dumping mengenai impor atas lemak alkohol  tertentu dan campuran-campurannya dari India, Indonesia and Malaysia, OJ C 219, 13.8.2010, p. 12.

Sebelumnya pada 20 Juli 2012 lalu, Indonesia kemudian memutuskan untuk maju ke Dispute Settlement Body(DSB) WTO dengan isu yang menjadi poin keberatan atas interpretasi Uni Eropa. Isu-isu tersebut, yaitu, status eksportir Indonesia dalam lingkup Single Economic Entity (SEE), keberatan atas hasil penyesuaian (adjustment) yang dilakukan Uni Eropa, ketidaksesuaian penerapan ADA WTO terkait krisis ekonomi Eropa, dan kendala bahan baku sebagai faktor lain di luar dumping yang menyebabkan kerugian bagi industri domestik fatty alcohol di Uni Eropa. Selain itu, pihak Otoritas Uni Eropa pada saat verifikasi (on the spot investigation) tidak mempublikasikan hasil pemeriksaan dan tidak dipergunakan oleh Uni Eropa untuk menentukan BMAD.

Merujuk laporan tersebut tercatat hanya ada satu klausul yang dimenangkan yakni pada 23 September 2016, Panel DSB WTO mengeluarkan keputusan yang memenangkan posisi Indonesia atas gugatan "terkait dengan hasil " verifikasi. Keputusan tersebut dikuatkan kembali oleh Panel AB WTO. Dalam menentukan keputusan pengenaan BMAD kepada Indonesia, Uni Eropa tidak menggunakan hasil verifikasi yang telah dilakukan. Padahal, dalam proses investigasi anti-dumping, hasil verifikasi digunakan sebagai dasar penentuan margin dumping dan ada/tidaknya injury.

Sejatinya pertempuran anti dumping ini tidak dikenakan untuk seluruh perusahaan produsen fatty alcohol di Indonesia, dalam laporan itu hanya menyebut  pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) kepada PT. Musim Mas. Padahal ada perusahaan lain yang dibebaskan dari BMAD, yaitu Ecogreen. Dalam penyelidikan oleh Uni Eropa hanya dua perusahaan Indonesia yang diselidiki, PT. Musim Mas dan Ecogreen. Jadi BMAD itu bukan kepada Indonesia tetapi hanya kepada PT. Musim Mas.

Nah, yang dianggap menang oleh Indonesia adalah karena Panel WTO mempersalahkan Uni Eropa tidak membuka informasi hasil penyelidikan kepada PT. Musim Mas.

Sementara klaim pokok Indonesia berdasar Pasal 2.4 gagal total. Ini menyangkut mark up yang dibayar oleh PT. Musim Mas kepada ICOF-S, sebuah perusahaan singapura untuk setiap penjualan fatty alcohol ke Uni Eropa. 

Informasi yang didapat InfoSAWIT, panel dan Appellate Body WTO, telah sependapat dengan pihak Uni Eropa bahwa pembayaran Mark-up dari PT. Musim Mas kepada ICOF-S adalah pembayaran kepada agen yang bekerja atas dasar komisi. Dalil Indonesia bahwa PT. Musim Mas dan ICOF-S adalah suatu single economic entity dengan tegas ditolak. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit