infosawit

Afrika, Pasar Potensial Minyak Sawit, Pasar China Gunakan Inovasi



photo : The Malaysian Reserve
Afrika, Pasar Potensial Minyak Sawit, Pasar China Gunakan Inovasi

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Munculnya ketegangan yang meningkat dengan Uni Eropa mengenai dugaan kelapa sawit berefek negatif terhadap lingkungan, telah memaksa Malaysia mempertimbangkan tujuan ekspor baru untuk komoditas tersebut.

Namun karena Uni Eropa (UE) merupakan tujuan ekspor terbesar kedua setelah India, setiap blok produk minyak sawit diperkirakan akan mempengaruhi komoditas utama di Malaysia.

Menurut data resmi seperti dikutip The Malaysian Reserve, pasar sawit Uni Eropa mewakili 12% dari total 13,8 juta minyak sawit yang dikirim secara global sejak bulan lalu.

Tujuan baru ekspor itu ialah Afrika. Populasi benua ini diprediksi akan mencapai 2 miliar di tahun 2040. Ini menjadi pasar potensial bagi minyak sawit di dunia. Terlebih industri minyak nabati di kawasan ini terus melorot, yang akhirnya meningkatkan impor minyak sawit.

Padahal, kawasan ini sejatinya memiliki areal seluas 22 juta hektar di bagian barat dan tengah Afrika, dan cocok untuk areal perkebunan kelapa sawit dalam empat tahun ke depan.

Konsultan industri, M R Chandran mengatakan, Afrika saat ini menawarkan kesempatan baik bagi para pelaku perkebunan lokal untuk memperluas lahan mereka. Cara demikian dilakukan untuk meningkatkan pasokan minyak kelapa sawit ke benua tersebut. "Malaysia harus memiliki lebih banyak kantor perwakilan di benua ini, mengembangkan perdagangan dan membuat minyak sawit Malaysia dapat diterima oleh mereka. Ini adalah investasi yang diperlukan, "kata Chandran, seperti dilansir  The Malaysian Reserve, Selasa, (19/12/2017).

Namun, diakui Chandran, ada pula tantangan utama yang harus dihadapi sebelum ada perluasan lahan di Afrika.

Muncul kekhawatiran mengenai dampak pengembangan kelapa sawit, seperti, aspek berkelanjutan. Pemerintah pun mengontrolnya dengan lebih ketat, misalnya, setiap pinjaman diberikan oleh lembaga keuangan kepada perusahaan perkebunan.

Lebih lanjut, Chandran mengatakan, kebijakan moratorium hutan di Indonesia telah berkontribusi terhadap penurunan pembangunan kebun kelapa sawit baru di negara ini dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, Malaysia harus membuat langkah yang lebih baik di China karena penawaran pasar yang luas belum sepenuhnya terserap.

"Kita harus menerapkan strategi dan membuat China membeli lebih banyak minyak kelapa sawit. Itu perlu dilakukan, bisa dengan melalui perpaduan. Artinya, kita perlu memahami kebutuhan China dan mencoba melakukan campuran minyak nabati. Mereka menggunakan banyak minyak dari kanola, kedelai, kacang-kacangan, dan minyak biji rami. Jadi kita perlu menghasilkan minyak kelapa sawit yang bisa dicampur dengan minyak nabati tersebut dan kemudian memasarkannya,” tandas dia. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit