infosawit

(Bagian 2) 10 Perusahaan Sawit Dengan Lahan Belum Dikelola Terluas



(Bagian 2) 10 Perusahaan Sawit Dengan Lahan Belum Dikelola Terluas

InfoSAWIT, JAKARTA – Dengan masih luasnya lahan kelapa sawit yang telah diberikan oleh pemerintah tapi tidak dilakukan kegiatan, tentu saja berujung pada nilai investasi yang terus tergerus. Nilai agunan menjadi lebih rendah dan permodalan perusahaan kelapa sawit pun bisa melorot.

Melanjutan, pembahasan sebelumnya tanggal Senin (11/12/2017) lalu yang diambil dari hasil riset Chain Reaction Research, berikut adalah beberapa perusahaan yang masih memiliki lahan sawit terluas yang sudah berizin hanya saja belum dilakukan pengelolaan atau belum dilakukan kegiatan penanaman.

Posisi Keempat diduduki, PT Gandasawit Utama, perusahaan perkebunan kelapa sawit ini merupakan milik keluarga Sitorus bersaudara, yakni Ganda Sitorus dan Martua Sitorus. Hingga saat ini perusahaan telah menjadi pemasok utama untuk kebutuhan baku untuk industri yang dikelola Wilmar internasional.

Merujuk penelusuran InfoSAWIT, Gandasawit Utama diperkirakan meiliki lahan seluas 350 ribu ha, yang berlokasi di beberapa wilayah di Indonesia. Dari luasan itu sekitar sekitra 150 ribu ha telah tertanam dengan luas areal yang belum menghasilkan sekitar 50 ribu ha, sisanya seitar 150 ribu belum ada dilakukan kegiatan.

Kelima, PT Hardaya Inti Plantation, merujuk laman resmi perusahaan, Hardaya Inti Plantation didirikan tahun 1995. Perusahaan ini sejatinya adalah anak usaha dari Central Cipta Murdaya. Merujuk data yang ditampilkan perusahaan telah menanam di lahan seluas 12.218 ha. Operasi perkebunan kelapa sawit ini berada di empat kecamatan yakni Kecamatan Bukal, Tiloan, Momunu dan Lipunoto, Kabupaten Buol, Privinsi Sulawesi Tengah.

Perusahaan ini adalah milik Siti Hartati Murdaya, yang sempat didera kasus suap dengan melibatkan Bupati Buol tahun 2012 dan telah diproses oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Diperkirakan lahan yang sudah mendapatkan izin dan belum dilakukan kegiatan penanaman seluas sekitar 90 ribu ha.  

Keenam, Salim Group dan IndoAgri, perusahaan yang merupakan masih satu group dengan perusahaan terigu dan makanan PT Indofood Sukses Makmur Tbk., ini terbagi dalam beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit, yakni PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) Tbk. dan PT PP London Sumatra Tbk. Sementara grup lainnya dari Salim grup memiliki lahan perkebunan tersendiri. Dimana lahan yang masih belum dilakukan kegiatan penanaman diperkirakan sekitar seluas 80 ribu ha.

Ketujuh, PT Genting Plantation, perusahaan yang berbasis d Malaysia ini memliki lahan seluas 227 ribu ha, baik yang berlokasi di Malaysia maupun di Indonesia. Di Indonesia lokasi perkebunan kelapa sawit Genting Plantation berada di Kalimantan Barat dengan lahan landbank seluas 77.088 ha bernama Palmindo Estate, dengan satu perkebunan kelapa sawit. Sementara lokasi kedua berada di Kalimantan Tengah bernama Asianindo Estate seluas 45 ribu ha dengan satu pabrik kelapa sawit (PKS), dan Globalindo Estate dengan lahan seluas 40.993 ha dengan satu PKS. Diperkirakan lahan yang belum dlakukan kegiatan penanaman seluas 75 ribu ha.

Kedelapan, PT Eagle High Plantation Tbk, dengan mayoritas investasi dari PT Rajawali Capital Internasional. Perusahaan ini memiliki sebanyak 25 konsesi perkebunan kelapa sawit dengan total landbank 337.482 ha, berlokasi di Kalimantan dan Papua.

Dari total landbank tersbut menurut catatan Chain Reaction Research, lahan yang belum dilakukan kegiatan penanaman diperkirakan seluas 77.503 ha, dimana seluas 27.790 ha berupa lahan konversi, 34.870 lahan gambut dan 14.844 ha lahan hutan gambut.

Di Papua, PT Eagle High Plantation Tbk., memiliki lahan seluas 33.694 ha, pada laporan yang dipublikasikan pada tahun 2015 lalu dari kegiatan pembukaan lahan tercatat terdapat lahan HCS Forest seluas 500-1000 ha. Pengembangan di Papua ini dilakukan oleh anak usaha PT Varia Mitra Andalan’s dengan lahan konsesi yang dibuka untuk sawit seluas 20.318 ha.

Masih merujuk informasi dari penelitian Chain Reaction Research, di Kalimantan perusahaan memiliki alokasi lahan sekitar 303.788 ha, yang salah satunya dikembangkan oleh anak usaha PT Arrtu Energi Resources dengan luas konsesi sekitar 18.240 ha, dimana saparuh dari lahan itu masih belum dilakukan kegiatan penanaman.

Kesembilan, PTT Green, perusahaan kelapa sawit yang dimiliki investor  energi terbesar di Thailand, PTT Pcl,. Sejatinya pada awal bulan September 2015 lalu, perusahaan ini telah menjual saham bisnis kelapa sawit nya di Indonesia lewat undisclosed sum sebagai bagian dari rencana untuk divestasi aset non-inti.

Merujuk laporan perusahaan, yang dikutip Reuters, menyebutkan anak perusahaan PTT Green Energy Pte menjual seluruh sahamnya di PTT Energi Hijau (Belanda) Cooperatief UA (PTTGE) untuk bermitra dalam operasi, Sindopalm Pte Ltd, sebuah afiliasi dari PT Kalpataru Investama.

PTT telah berinvestasi sejak 2010 di PTTGE, yang memiliki kepentingan dalam tujuh perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Timur dengan total luas 78.877 ha. Pada bulan Juni 2015, PTT menjual saham bisnis kelapa sawit di Indonesia sebesar 95% atau mencapai US$ 35 juta. Diperkirakan lahan yang belum dikelola seluas 70 ribu ha.

Kesepuluh, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk., (ANJ) perusahaan ini berencana membangun PKS di Papua, dikatakan Direktur Keuangan PT ANJ Tbk., Lucas Kurniawan, pihaknya telah bersepakat untuk melakukan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di Papua Barat, dengan kapasitas terpasang mencapai 45 ton TBS/jam, dan membangun Pabrik Kernel Crushing (pabrik pengolahan inti sawit), dengan kapasitas terpasang sekitar 40 ton/hari. Lebih lanjut tutur Lucas, pembangunan kedua pabrik ini akan di mulai pada September tahun depan, dan diperkirakan akan rampung di 2019. “Investasinya diperkirakan mencapai US$ 21,3 juta,” katanya dalam Media Gathering di Jakarta belum lama ini. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit