infosawit

Rapat Pertama Inisiatif Gambut Dunia (GPI) di Jerman



(Dari kiri-kanan) Gerald Schmilewski (president of International Peat Society), Anggota; Dr. Tina Vahanen (Deputy Director of Forestry Department, FAO), Anggota; Dr. Alue Dohong (Deputy for Construction, Operation & Maintenance, BRG), Anggota; Tim Christophersen (UNEP), Ketua SC; Prof. Dr. Hans Joosten (Greifswald University).
Rapat Pertama Inisiatif Gambut Dunia (GPI) di Jerman

InfoSAWIT, BONN – pada Rabu 20/12/2017 lalu pada acara Global Landscapes Forum (GLF), yang digelar di Bonn, Jerman. Untuk pertama kalinya rapat yang dilakukan Global Peatlands Initiative (GPI) Steering Committee (SC) di Bonn, Jerman.

Dalam informasi yang didapat InfoSAWIT, belum lama ini Deputi Konstruksi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG), Alue Dohong mengatakan, untuk saat ini komposisi Steering Committee, Global Peatlands Initiative (Dewan Pengarah, GPI) diisi oleh para peneliti, dari berbagai lembaga penelitian gambut di dunia. Dimana Ketua SC ditempati Tim Christophersen (UNEP), sementara anggota terdiri dari Gerald Schmilewski (president of International Peat Society), Dr. Tina Vahanen (Deputy Director of Forestry Department, FAO), Dr. Alue Dohong (Deputy for Construction, Operation & Maintenance, BRG), Prof. Dr. Hans Joosten (Greifswald University) dan Jonathan Hughes (IUCN).

Lebih lanjut tutur Alue Dohong , SC GPI ini mempunyai masa waktu kerja 1 tahun sampai tahun 2018 dan memberikan pengarahan untuk Persiapan the 3rd Partners Meeting of GPI yang akan dilaksanakan di Brazzaville, Kongo, tahun 2018 mendatang.

Sekadar informasi, Global Peatlands Initiative (GPI) merupakan organisasi terdiri dari berbagai peneliti dan lembaga penelitian gambut di seluruh dunia, didirikan di Marrakesh bulan November 2016 lalu. 

Pembentukan GPI bertujuan untuk melindungi gambut dari kerusakan berdasarkan pada hasil penelitian di lapangan dalam jangka waktu panjang. GPI akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap status gambut di dunia serta carbon yang tersimpan dimana gambut dapat membantu dalam pencapaian mitigasi perubahan iklim  dalam Perjanjian Paris. 

Selain itu GPI akan membantu negara dengan cara memperkuat pengetahuan  dan menemukan opsi-opsi pengurangan kerusakan dan meningkatkan pengelolaan gambut berkelanjutan. Indonesia, Peru, Kongo merupakan tiga negara berkembang yang menginisiasi bersama dengan the UN Environent Programme (UNEP), the Ramsar Convention on Wetlands, the Joint Research Center of European Commission,  Wetlands International, UNEP-WCMC, GRID-Arendal, the European Space Agency, World Resources Institute, Greifswald Mire Centre and satelligence.

Disela-sela pelaksanaan Bonn Climate Change Center, Pada Tanggal 9 Mei 2017 lalu, di Ruang Berlin World Climate Change Conference di Bonn, GPI mengadakan side event yang diberi tema “Advancing to protect Peatlands from degradation,  loss and fire”.  Pada acara ini,  Indonesia,  Kongo,  the Joint Research of European Commission dan FAO menjadi pembicara utama.  Peserta umumnya dari peneliti senior berbagai negara yang berjumlah 70 orang termasuk para ahli gambut dari Indonesia. 

Merujuk informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), FAO menyampaikan infromasi tentang peran dari gambut di dunia yang walaupun hanya memiliki luas 3% dari luas daratan di dunia, namun menyimpan karbon dua kali lebih banyak dari seluruh biomassa di hutan di seluruah dunia.  Dimanan Gambut yang kering berkontribusi sampai 5% emisi carbon karena ulah manusia.

Disaat dunia sedang mengembangkan inisitaif gambut dunia (GPI), justru didalam negeri muncul anggapan pelarangan sebagian lahan gambut untuk budidaya bakal berdampak negatif bagi sektor perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Dengan penerapan kebijakan penggunaan laha gambut yang ketat dikhawatirkan bakal mendorong tergerusnya pengembangan kedua komoditas tersebut.

Bahkan Ketua Masyarakat Perkelapasawitan, Darmono Taniwiryono mengusulkan, PP Gambut perlu dilakukan kajian ilmiah dan harus melihat dari sisi budidaya komoditasnya. “Tinggi muka air 0,4 m bisa diterapkan untuk tanaman semusim karena perakarannya pendek. Sementara itu perkebunan kelapa sawit idealnya muka air tanah antara 0,6-0,8 m,” kata dia dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit