infosawit

Peluang dan Enam Tantangan RUU Kelapa Sawit



Peluang dan Enam Tantangan RUU Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Pada akhir tahun 2016, keberadaan RUU perkelapasawitan masih dalam penyempurnaan naskah akademik, namun lantaran ada desakan untuk segera diterbitkan, maka RUU Kelapa Sawit ini pun masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2017 lalu, tetapi di tahun ini DPR-RI belum bisa mengesahkan beleid tersebut. Maka RUU KelapaSawit pun masuk di Prolegnas tahun 2018 mendatangan.

Tentunya, RUU ini perlu mendapatkan respon cepat dari pemerintah dan swasta, guna bersama-sama membahasnya sesuai dengan tenggat waktu yang ada. Terlebih, UU ini nantinya, dapat pula menjadi momentum bagi repatriasi dana hasil tax amnesty, sehingga dapat memperkokoh industri sawit di masa depan.

Namun, keberadaan RUU Perkelapasawitan justru menimbulkan perdebatan besar, antara yang pro dan kontra. Bagaimana Nasib RUU Perkelapasawitan ini dikemudian hari?

Dalam artikel yang ditulis Direktur Sustainability PT Agro Harapan Lestari, Edi Suhardi, mencatat analisa isi yang termaktub dalam RUU perkelapasawitan ini antara lain, pertama, Sawit sebagai komoditas strategis nasional. Kedua, Sawit memerlukan proteksi dan subsidi.

Ketiga, Sawit berkontribusi terhadap pendapatan negara, semisal Rp 300 Triliun di tahun 2015. Keempat, Sawit sebagai komoditas ekspor non migas terbesar Indonesia. Kelima, Sawit membuka dan menyerap tenaga kerja. Keenam, Keberadaan dan peranan petani kelapa sawit, sebagai pemilik kebun sawit dengan luasan mencapai 41% lebih dari total perkebunan kelapa sawit nasional.

Lantas, ketujuh, Keberadaan perusahaan pemerintah dan swasta, sebagai pemilik kebun sawit dengan luasan mencapai 58% lebih dari total perkebunan kelapa sawit nasional. Kedelapan, Keberadaan sektor usaha lainnya, yang menunjang pertumbuhan sawit nasional, dan kesembilan, Berbagai hal lainnya.

Dari catatan Edi, beleid ini bertujuan, satu, memberikan perlindungan kepada minyak sawit sebagai komoditas strategis nasional, memperkokoh keberadaan industri hulu hingga hilir, hingga ketahanan energi nasional yang berasal dari industri biodiesel. Sehingga industri sawit secara holistik akan kokoh dan berdaya saing kuat dibandingkan minyak nabati lainnya.

Kedua, pentingnya, serapan pasar domestik yang lebih kuat dibandingkan pasar ekspor harus dilakukan, supaya secara holistik, keberadaan suplai dan permintaan secara nasional dapat menguat dan mandiri. Suplai minyak sawit yang besar didalam negeri, dapat digunakan sebagai bahan baku pengembangan industri hilir, seperti biodiesel, farmasi, kosmetik dan personal care.

Lantas ketuga, perlindungan terhadap petani dan investor perkebunan hingga industri hilir sawit juga diperlukan. “Untuk menjamin keberadaan petani, kepastian hukum, rencana bisnis korporasi hingga suplai dan permintaan yang kian bertumbuh,” catat Edi dalam majalah InfoSAWIT edisi Februari 2017.

Lantas apa sebenarnya tantangan dari RUU Perkelapasawitan ini? Catat Edi terdapat 6 tantangan diantaranya, pertama,Kondisi governance yang masih memprihatinkan dengan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang masih marak di Indonesia.

Kedua, Adanya tumpang tindih kebijakan nasional dan daerah. Ketiga, Memperjelas dan melindungi kepemilikan bisnis kepada petani, perusahaan dan investor secara hukum yang mengatur dengan tegas hak dan kewajibannya.

Kemudian ke empat, Mengurangi porsi kepemilikan korporasi melalui pelepasan saham kepada masyarakat luas melalui IPO sehingga perusahaan menjadi transparan dan akuntabel. Kelima, Memberikan kepastian pasar domestik yang jelas melalui roadmap industri dan keberpihakan pemerintah akan penggunaan produk-produk yang ramah lingkungan dan degradable yang menggunakan bahan baku dari minyak sawit. Lantas, keenam, Meningkatkan porsi penyerapan pasar domestik akan produk-produk yang menggunakan bahan baku dari minyak sawit. (T1)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit