infosawit

Kerugian FELDA Paska Akuisisi Saham Eagle High Plantation



foto: Istimewa
Kerugian FELDA Paska Akuisisi Saham Eagle High Plantation

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Menjadi kabar yang mengejutkan tatkala Federal Land Development Authority (FELDA) membeli saham  sebanyak 37% dari perusahaan sawit, PT Eagle High Plantations Tbk, yang merupakan group dari Rajawali, milik kampiun Peter Sondakh, yang ditutup dengan nilai sekitar US$ 505,4 juta atau RM 2,26 miliar pada April 2017 lalu.

Dipihak lain, FELDA berupaya melakukan pembenaran atas pembelian saham tersebut, diantaranya dengan mengatakan bahwa pembelian saham itu telah mendapat potongan 30% dari Grup Rajawali, padahal kebanyakan pengamat pasar bursa, analis dan pelaku industri mempertanyakan manfaat dari kesepakatan tersebut.

Dikutip InfoSAWIT dari The Edge Markets, Senin (1/1/2017), ada selentingan bahwa kesepakatan itu terjadi lantaran Peter Sondakh dikenal memiliki hubungan baik dengan para petinggi di Malaysia, sehingga menimbulkan kabar bahwa kesepakatan tersebut bisa jadi bermotif politik.

Sebelumnya pada Juni 2015 lalu, saat FGV menandatangani kesepakatan dengan Rajawali untuk mengakuisisi sekitar 37% saham di Eagle High seharga US$ 680 juta dalam bentuk campuran uang tunai dan saham.

Pada saat itu, rata-rata harga minyak sawit mentah (CPO) mencapai  RM 2.258 per ton, lebih rendah dibandingkan saat ini yang mencapai RM 2.670 untuk sepanjang tahun 2017, artinya tulis The Edge Markets, kesepakatan itu terindikasi terlalu mahal kalaupun sampai didiskon hingga 30%.

Fakta lainnya ialah FELDA Investment Corp (FIC) Properties Sdn Bhd - yang awalnya diberikan mandat untuk mengakuisisi aset non perkebunan - kini menjadi pelaku akuisisi saham tersebut, di internal perusahaan kegiatan ini menjadi pertanyaan besar.

Dengan pembelian saham Eagle High Plantation senilai US$ 505,4 juta dengan porsi 37% atau sekitar Rp 580 per saham. Nilai tersebut sangat tinggi, terlebih saham Eagle High Plantation, emiten dengan kode BWPT itu, diperdagangkan sekitar Rp 180/lembar. Tulis The Edge Markets, dengan demikian FELDA sedang dalam kondisi yang merugi lebih dari US$ 326 juta.

Saat ini setelah delapan bulan aksi akuisisi, kapitalisasi pasar Eagle High Plantation berada di bawah US$ 420 juta, dengan demikian saham FELDA sebanyak 37% setara dengan US$ 155,4 juta, atau lebih rendah dari jumlah yang dibayarkan sewaktu awal akuisisi diakukan senilai US$ 505,4 juta.

Hingga saat ini  FELDA berusaha mempertahankan kesepakatan dengan mengatakan bahwa harga saham bukanlah tolok ukur yang akurat, tidak seperti nilai perusahaan per hektar (ev/ha). Dimana nilai Eagle High's ev/ha sekitar US$ 16.000.

Hanya saja sebagai perbandingan, saat Sime Darby Bhd melakukan pembelian New Britain Palm Oil Ltd dengan nilai perusahaan sekitar US$ 27.000 ev/ha, sementara Kuala Lumpur Kepong Bhd menawarkan US$ 15.500 ev/ha untuk MP Evans Group plc, yang akhirnya penawaran pembelian saham itu ditolak. Lantaran, penilaian independen MP Evans menaksir nilai perusahaan mencapai US$ 17.300 ev/ha, sementara dewan menila US$ 24.000 ev/ha.

Pihak FELDA berdalih bahwa MP Evans, dengan luas lahan tertanam 31.400 ha, jauh lebih kecil dari pada luas lahan Eagle High Plantation yang seluas 125.000 ha. Itu berarti membeli akses ke lahan empat kali ukuran yang dimiliki oleh MP Evans, lebih rendah dari penilaian independen MP Evans.

Namun, pendapat FELDA diperdebatkan oleh banyak analis lantaran kasus aksi akuisisi yang dilakukan Sime Darby dan KLK sangat berbeda, sebab kedua perusahaan itu melakukan akuisisi saham dengan porsi mayoritas (pengendali).

Sedangkan akuisisi yang dilakukan FELDA, tidak melakukan pembelian saham mayoritas, atau hanya sekitar 37%, dimana kelompok Rajawali masih memiliki saham mayoritas sebanyak 37,07%. Dengan demikian FELDA memiliki pengaruh yang kecil di Eagle High Plantation.

Lantas, dalam laporan sembilan bulan yang berakhir pada September 2017, Eagle High dilaporkan mengalami kerugian bersih sebesar US$ 6,33 juta, dengan pendapatan hanya mencapai US$ 55,45 juta. Kerugian ini belum memasukan laba buku semenjak 2015 lalu. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit