infosawit

Kontribusi Pelaku Sawit Terhadap Kelestarian Lingkungan



Kontribusi Pelaku Sawit Terhadap Kelestarian Lingkungan

InfoSAWIT, JAKARTA - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk sebagai salah satu pemain tangguh bisnis perkebunan kelapa sawit di Indonesia senantiasa mengedepankan aspek lingkungan dalam pengelolaan perkebunan hingga proses pengolahan minyak sawit.

Praktik budidaya kelapa sawit secara lestari, menjadi harga mati, dan komitmen ini terus dijunjung tinggi. Bahkan, menurut Direktur Utama PT SMART Tbk Daud Dharsono, ketika perusahaan mulai membangun perkebunan kelapa sawit sekitar tahun 1980-an, telah diterapkan praktik agronomi terbaik dengan melindungi lingkungan berdasarkan ketentuan dan teknologi saat itu. “Upaya tersebut terus berlanjut dan berkembang sampai sekarang,” katanya saat dijumpai InfoSAWIT, di Jakarta.

Perusahaan pun senantiasa taat terhadap regulasi yang ada. Maka itu, anak usaha Grup Sinar Mas ini sejak awal 2010 menyetop penanaman kelapa sawit di areal lahan gambut. Keputusan ini tertuang dalam surat perusahaan bernomor 026/ SMD OPS/II/2010. Langkah demikian sebagai bentuk kontribusi PT SMART Tbk terhadap upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

Selain itu, kontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati diwujudkan dengan tidak menanam kelapa sawit di areal yang memiliki nilai konservasi tinggi (high conservation value/HCV). Berbagai upaya pelestarian lingkungan tersebut tanpa sedikit pun mengganggu proses produksi. Bahkan, perseroan berhasil meningkatkan produktivitas kelapa sawit milik perusahaan maupun petani plasma. Bahkan, jauh-jauh hari perusahaan telah sepakat untuk tidak membuka kebun baru dengan cara membakar. Komitmen ini telah berlangsung sejak tahun 1997.

Pada 9 Februari 2011 lalu, perusahaan kembali menegaskan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dengan memprakarsai keterlibatan industri untuk konservasi hutan. Langkah tersebut dilakukan oleh induk usaha PT SMART Tbk, Golden Agri-Resources (GAR), yang bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan The Forest Trust (TFT), guna mencari solusi untuk konservasi hutan serta memprakarsai Kebijakan Konservasi Hutan (KKH) yang terangkum dalam High Carbon Stock Forest Conservation (HCSFC).

Menurut Daud, HCSFC merupakan bagian Forest Conservation Policy dari PT SMART Tbk, dimana PT SMART Tbk berupaya mencari suatu kriteria arealareal yang memiliki stok karbon yang masih tinggi, sehingga terlarang untuk dibuka menjadi areal perkebunan sawit maupun perkebunan non-sawit. Dalam kebijakan itu PT SMART Tbk telah menentukan angka sementara sebesar 35 tC/ha. “Angka itu masih bisa berubah,” kata dia.

Selain itu, perusahaan telah mencanangkan kebijakan bernama zero tolerance terhadap binatang yang dilindungi. Dengan demikian, karyawan, kontraktor dan pekerja dilarang mencelakai, menganiaya, melukai, maupun memelihara aneka jenis satwa yang dilindungi. Seandainyanya ada satwa dilindungi yang nyasar masuk ke kawasan kebun sawit, maka staf perusahaan harus segera melaporkannya kepada instansi terkait. “Siapa pun yang melanggar kebijakan ini bakal dikenakan sanksi berat,” tandas Daud. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit