infosawit

Awal Konglomerasi Perkebunan



Awal Konglomerasi Perkebunan

InfoSAWIT, JAKARTA - Sejak pembentukan firma dagang Belanda Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) tahun 1814, mulailah era pengontrolan terhadap kekuasaan lokal dan sumber-sumber komoditi perkebunan. Sistem prakapitalis ini mencapai puncak keemasan pada 1830-1870 di Pulau Jawa.

Setelah mengambilalih peran VOC pada 1800, Pemerintah Belanda menancapkan kekuasaannya pasca interregnum Inggris 1812-1818, membangun sistem Tanam Paksa yang lebih canggih dan terkoordinasi.

Wilayah luas dan subur di dataran rendah Jawa hanya diperuntukkan perkebunan tebu. Alhasil, tahun 1840 ekspor gula dari Hindia telah mencapai 77,4% dari total ekspor, bahkan 40 tahun setelahnya ekspor komoditi ini masih mencapai 66%.

Mulai pertengahan Abad ke-19, sifat perdagangan ekonomi kolonial berkembang ke arah perusahaan kapitalis. Untuk mengamankan masuknya kapital swasta, monopoli perdagangan negara dihapus. Investasi dalam pertanian kapitalis dibuka lebar-lebar. Regulasi agraria (1870 dan 1875) untuk mendukung sektor korporasi perkebunan baru, yakni memberi kemudahan sewa jangka panjang terhadap tanah yang “tidak terpakai” (erfpacht—sampai 75 tahun) dan sewa pendek tanah desa hingga 21 tahun.

Hasilnya, pada 1930 di Pulau Jawa ada 502 perkebunan tebu swasta yang menguasai lahan 1,47 juta hektare. Struktur sektor industri perkebunan berubah dengan tampilnya perusahaan milik investor pribadi oleh bank dan bursa komoditi. Muncullah konglomerasi perkebunan yang dikenal dengan “lima raksasa” atau “delapan raksasa” yang memegang kendali ekonomi Hindia Belanda dari Abad ke-19.

Ketika gula dan kopi, dua komoditi pencetak keuntungan terbesar di masa 1800-an, mulai melemah terhadap produksi minyak dan karet, investasi perkebunan bergeser ke luar Jawa. Terjadi gelombang besar kapital non-Belanda ke investasi bidang perkebunan, seperti karet di Sumatera. Pabrikan Barat mendirikan industri substitusi impor pada 1920-an dan 1930-an. Investor Inggris dan Amerika Serikat memusatkan diri pada perkebunan besar, seperti pabrik karet dan ban Goodyear, pabrik rokok BAT, dan pabrik minyak goreng sawit, Unilever.

Struktur ekonomi kolonial kemudian berantakan menyusul Depresi ekonomi tahun 1930-an yang memorakporandakan industri gula. Dikenal dengan istilah Depresi industri gula. Korbannya, jika pada 1929 masih ada 180 pabrik gula yang memproduksi 3 juta ton, mempekerjakan 60.000 buruh tetap dan hampir 1 juta buruh musiman, namun pada 1933 tinggal ada 45 pabrik yang memproduksi 0,5 juta ton gula. Sejak saat itu industri gula tidak pernah bangkit lagi.

Sesudah proklamasi kemerdekaan kecenderungan konsentrasi penguasaan tanah berlanjut. Bahkan, dibawah Orde Baru, diperkenalkannya Revolusi Hijau dengan program kredit perdesaan dan meningkatnya belanja negara untuk proyekproyek pembangunan wilayah pedalaman, mulai muncul kapitalisasi pertanian dalam usaha besar dan pribumi. (T1/Terbit di Majalah InfoSAWIT edisi Januari 2013)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit