infosawit

Hak Paten Sawit Dikuasai Amerika Serikat



Hak Paten Sawit Dikuasai Amerika Serikat

InfoSAWIT, JAKARTA - Kendati Indonesia telah menjadi pengekspor utama minyak sawit mentah dunia (CPO), tidak demikian dengan hasil kegiatan penelitian di sektor hilir sawit masih banyak dikuasai bangsa asing. Padahal semenjak 2006 silam Indonesia tercatat telah menjadi negara pengekspor CPO nomor wahid di dunia, yang sebelumnya di dominasi Malaysia.

Ketersediaan sumber daya lahan dan kecocokan iklim menjadikan Indonesia salah satu tujuan investasi yang menguntungkan bagi pengembangan industri kelapa sawit di dunia. Pesatnya pertumbuhan luas lahan sawit berimplikasi positif terhadap hasil produksi CPO Indonesia, demikian pula pada volume ekspor CPO Indonesia.

Menurut catatan Kementerian Pertanian pertumbuhan rata-rata volume ekspor CPO Indonesia dan turunannya mencapai 12,3%, dengan pertumbuhan rata-rata nilai ekspor CPO dan turunanya mencapai 14,1%.

Dengan demikian sektor sawit sudah bisa dipastikan memiliki kontribusi besar dalam mendorong pendapatan negara. Terlebih semenjak dulu skema Pajak Ekspor (PE) yang saat ini berganti menjadi Bea Keluar (BK) pun tetap diterapkan dan menjadi salah satu ladang pendapatan pemerintah yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah, kendati kini untuk dua tahun terakhir diterapkan nol persen lantaran tidak melapau ambang batas yang ditentukan.

Sementara itu, disaat bersamaan di tahun 2015 lalu muncul pungutan ekspor yang dananya kemudian di kumpulkan di Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit.

Hanya saja sayangnya kontribusi sawit yang begitu besar terhadap negara tidak sebanding dengan kegiatan pengembangan penelitian yang dilakukan. Padahal kegiatan penelitian bisa menjadi salah satu pendorong tumbuhnya industri dan meningkatnya nilai tambah (value added) produk sawit.

Indonesia hingga saat ini belum begitu fokus dalam mendorong inovasi pada industri kelapa sawit. Sehingga wajar bila kemudian, daftar paten inovasi kelapa sawit kini lebih banyak dikuasai oleh negara yang bukan sebagai produsen kelapa sawit.

Merujuk pada data base PatentScope® World Intellectual Property Rights Organization (WIPO), bila ditelusuri dengan kata kunci “palm oil” pada deskripsi paten, terdapat 7.459 inovasi untuk industri kelapa sawit.

Namun demikian kebanyakan dari inovasi itu kebanyakan didominasi pengembangannya oleh negara Amerika Serikat sebanyak 55%, lantas disusul Belanda sebanyak 7%, Inggris sekitar 6% serta Swiss dan Jerman masing-masing mencapai 4% dan 3%.

Lebih menyedihkan lagi bila dilihat dari pemohon aplikasi paten, lantaran sebagian besar inovasi kelapa sawit itu banyak dikuasai perusahaan Amerika Serikat, Procter & Gamble (P&G) tercatat sebanyak 14,35%.

Sementara berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, untuk negara-negara Asean yang paling banyak menghasilkan inovasi kelapa sawit ialah Malaysia dan Singapura masing-masing mencapai 1,06% dan 0,46% dari total inovasi kelapa sawit yang dihasilkan di dunia.

Untuk Indonesia sendiri baru menghasilkan inovasi sebanyak 0,04% masih di atas Thailand yang mencapai 0,05%. Sementara di kawasan Asia Tenggara, Malaysia menjadi negara penghasil inovasi kelapa sawit terbanyak mencapai sekitar 65,83%. (T2/Terbit di Majalah InfoSAWIT edisi Desember 2012)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit