infosawit

Layakkah Budidaya Sawit di Lahan Gambut



Layakkah Budidaya Sawit di Lahan Gambut

InfoSAWIT, JAKARTA - Kendati regulasi pemerintah Indonesia membolehkan pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit, nampaknya ada beberapa elemen masyarakat yang masih belum bisa menerima kebijakan tersebut.

Lantaran menurut lembaga swadaya masyarakat (LSM), budidaya diatas lahan gambut berpotensi merusak lingkungan. Apalagi lahan gambut menyimpan karbon yang cukup tinggi, sehingga bila dibuka akan berkontribusi pada meningkatnya gas rumah kaca (GRK).

Sayangnya informasi mengenai jenis gambut masih belum banyak dipahami dan dipelajari, akibatnya ada perbedaan pendapat yang sangat signifikan. Padahal menurut periset Tropical Peat Research Laboratory yang berlokasi di Sarawak, Lulie Melling, menilai lahan gambut yang ada di Indonesia dan Malaysia adalah jenis lahan gambut tropika.

Berbeda dengan jenis lahan gambut temperate yang ada di negara-negara Eropa. Sehingga kedua jenis lahan gambut ini mesti dibedakan. Melling, mencontohkan untuk lahan gambut jenis temperate banyak terdapat tumbuhan lumut-lumutan (Sphagnum moses), dan belukar (ericaceous shrubs). “Lebih mengandung bahan karbon sejenis selulosa, biasanya lebih rapuh,” kata Melling kepada InfoSAWIT, saat berjumpa dalam sebuah diskusi.

Sementara untuk lahan gambut jenis tropika lebih banyak terdapat tanaman kayu yang memiliki lignin, sehingga tidak mudah rapuh seperti selulosa. Berdasarkan pandangan Melling, tanah gambut tropika lebih liat dan lebih keras. Sementara untuk pengeluaran karbon dioksida lebih ditentukan oleh faktor suhu.

Asalkan kelembaban lahan gambut bisa dijaga, berdasar pandangan Melling, tidak masalah digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Caranya dengan menjaga ketinggian  muka air dengan ketat, karena harus selalu lembab, yang kedua, tanah mesti dibuat padat supaya bisa meningkatkan kelembaban tanah. “Artinya kita dapat mengurangi jumlah pengeluaran karbon,” tutur Melling.

Berbicara kedalaman, Melling berpendapat bahwa penggunaan lahan gambut tidak dipengaruhi oleh kedalamannya. Diakui bahwa semakin dalam kandungan karbon semakin tinggi, tetapi tidak mempengaruhi jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan.

Yang terpenting, masih kata Melling, jenis-jenis tanah gambut yang ada mesti dipahami terlebih dulu, pasalnya ada lahan gambut yang berkayu dan tidak berkayu. “Kita harus mencari parameternya dan mengidentifikasi, perhatikan mana parameter yang penting untuk mengontrol pelepasan karbon, supaya yang dikeluarkan tidak tinggi. Jadi kedalaman tidak penting,” katanya.

Tak hanya berkelakar, Melling mencontohkan di daerahnya Sarawak, Malaysia, kondisi lahan yang tersedia hampir semuanya berlahan gambut, akhirnya pengembangan kelapa sawit terpaksa ditanam di lahan gambut.

Kalaupun ada lahan mineral kondisinya berbukit tinggi, akibatnya kalau musim penghujan tiba terjadi masalah pada ekosistem, maka lahan gambut menjadi pilihan. “Sarawak tidak mempunyai tanah yang mempunyai kesesuaian yang tinggi. Terpaksa menggunakan gambut untuk meningkatkan ekonomi,” kata Melling sambil tersenyum lebar. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit