infosawit

Pekebun Swadaya Bisa Hasilkan Minyak Sawit Layak Lingkungan



Pekebun Swadaya Bisa Hasilkan Minyak Sawit Layak Lingkungan

InfoSAWIT, JAKARTA -Responsible Resources for Smallholder (RRS) dinilai sebagai cara jitu bagi petani swadaya yang ingin menghasilkan minyak sawit secara bertanggung jawab. Prinsip dan kriteria yang diterapkan bukanlah sebagai proses sertifikasi melainkan sebagai alat transparansi guna menjembatani bisnis supaya terus berjalan.

Adanya gap antara pekebun sawit swadaya dan plasma sudah menjadi rahasia umum. Pasalnya, keberadaan pekebun swadaya identik dengan kurangnya modal dan akses informasi. Keberadaan petani swadaya yang kian banyak, tentunya, membutuhkan solusi jitu guna membantu menghasilkan minyak sawit secara bertanggung jawab.

 

Proses sertifikasi ala Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang sudah berlangsung selama satu dasawarsa, tentunya, menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus juga diselesaikan. Salah satunya, berasal dari perbedaan kemampuan yang dimiliki pekebun swadaya dengan pekebun plasma.

 

Program Manager SNV, Dani Rahadian P Hidayat, mengatakan, RSPO tahun 2013 lalu, menemukan adanya gap antara petani swadaya dengan petani plasma. Kebanyakan pekebun sawit swadaya masih belum masuk dalam proses sertifikasi RSPO.

Artinya, hanya sebesar 0,03% luas lahan pekebun swadaya yang berhasil disertifikasi. Dengan kata lain, sebagian besar lahan pekebun sawit swadaya masih belum tersentuh proses sertifikasi.

Bila menilik dari permintaan dari pasar untuk produk sustainable yang terus tumbuh, maka dibutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengedukasi pekebun swadaya supaya melakukan praktik budidaya berkelanjutan.

 

“Secara bisnis, keuntungan pabrik kelapa sawit (PKS) juga besar. Bila berhasil mendapatkan sertifikasi RSPO, maka buah yang dihasilkan petani swadaya tersebut dapat memasok PKS secara berkelanjutan. Terlebih sensitivitas pasar akan isu-isu sustainability akan mampu teredam dengan kemampuan sertifikasi oleh petani swadaya,” kata Dani Rahadian P Hidayat kepada InfoSAWITbelum lama ini.

 

Fakta lapangan yang menyatakan bahwa sebesar 99% pekebun sawit belum tersertifikasi sustainable, tentunya, menjadi problem besar. Jika dikemudian hari, tandan buah segar (TBS) yang dihasilkannya tidak bisa terserap pasar karena tidak sustainable. Sebab itu, dibutuhkan pendampingan dan bantuan dari berbagai stakeholder guna meningkatkan kemampuan petani swadaya dalam mengelola kebun sawit milik mereka.

 

Lebih lanjut, tutur Dani, inisiatif awal bermula dari Pro Forest tahun 2013 silam, bersama beberapa stakeholder lainnya, seperti, FI, Solidaridad, Simedarby, berkumpul untuk menjembatani gap besar antara petani yang sudah berhasil tersertifikasi dan yang belum. Lalu, menunjuk Pro Forest untuk membuat Responsible Resources for Smallholder (RRS), dengan tujuan utama sebagai jembatan antara yang sudah tersertifikasi dan yang belum, sehingga bisnis bisa tetap berjalan.

 

Skim RSS inibukanlah sertifikasi baru melainkan hanya alat bantu untuk melihat secara transparan dan mengurangi resiko land conflict, hak pekerja dan deforestasi. Resiko dikurangi melalui mitigasi RSS ini. Perusahaan atau PKS yang membeli harus memberikan fasilitas pelayanan kepada petani yang mau melakukan ini.

 

Pelayanannya berupa, penguatan organisasi petani yang belum teroganisir, meningkatkan hasil produktivitas mereka, menerapkan praktik budidaya terbaik berkelanjutan, dan sebagainya. “Dukungan ini bisa dilakukan oleh perusahaan atau PKS, maupun tengkulak, yang membeli TBS dari petani swadaya. Jadi, ada timbal balik antara pembeli dan penjual TBS,” tandas Dani. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit