infosawit

Minyak Goreng Sawit dan Industri Substitusi Impor 1920-an



Minyak Goreng Sawit dan Industri Substitusi Impor 1920-an

InfoSAWIT, JAKARTA -Depresi ekonomi global tahun 1930-an tidak saja memukul produk perkebunan, terutama gula, di wilayah Hindia Belanda (Indonesia), tetapi seluruh komoditi ekspor yang rata-rata harganya rontok tinggal hanya 30% dibandingkan periode 1923-1927. Nilai ekspor pun tergerus. Pada 1935 tinggal hanya 25% dibandingkan tahun 1925.

Minyak bumi dan timah menjadi barang ekspor penting sejak permulaan abad ke-20, namun produk manufaktur tetap diimpor atau diproduksi lokal dalam skala terbatas (hanya seukuran rumah tangga) hingga tahun 1930-an. Investasi manufaktur Belanda secara besar-besaran di Indonesia hingga saat itu lebih ditujukan pada pemrosesan  produkpertanian perkebunan.

Bersamaan dengan melemahnya kinerja ekspor akibat rontoknya harga barang-barang  ekspor, kekuatan negara untuk melakukan impor produk manufaktur pun juga anjlok. Pabrikan Eropa yang secara tradisional memasok barang-barang ke Hindia Belanda harus menghadapi kompetisi tajam dengan barang-barang produksi Jepang, baik barang dasar, seperti, kapas untuk industri tekstil maupun pelbagai barang konsumsi.

Dari penelusuran InfoSAWIT belum lama ini, pada tahun 1933 lalu, Belanda memberlakukan “Undang- Undang Krisis” dengan mematok tarif diskriminatif dengan tujuan, melindungi diri menghadapi barang-barang impor tersebut.

Selain itu, pabrikan Barat mendirikan industri substitusi impor di Indonesia pada 1920-an dan 1930-an. Investor Inggris dan Amerika Serikat (AS) berkonsentrasi pada perkebunan besar, tambang minyak, serta bidang usaha dalam skala besar, seperti, pabrik perakitan mobil milik General Motor, pabrik karet, dan ban Goodyear, pabrik rokok BAT, pabrik minyak goreng sawit, sabun Unilever, serta pabrik semen di Padang. Tahun 1940 industri-industri ini membukukan 430 juta gulden dibandingkan 252 juta  gulden untukproduksi tambang dan 593 juta gulden untuk produk perkebunan.

Sebaliknya, para investor domestik, khususnya Belanda dan China, masih mengabaikan usaha manufaktur. Ini dibuktikan bahwa hanya ada investasi swasta sebesar 27 juta gulden tahun 1940.

Khusus pabrik minyak goreng sawit, investor Belanda mendirikanZeepfabrieken NV Lever pada 5 Desember 1933 dengan akta No. 33 dan dibuat oleh  AH van Ophuijsen, seorang notaris di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal van  Negerlandsch-Indie dengan surat No. 14 tanggal 16Desember 1933, dan terdaftar di Raad van Justitie di Batavia dengan No. 302 tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada 9 Januari 1934 Tambahan No 3.

Dalam perkembangannya, NV Lever diubah menjadi PT Unilever Indonesia pada 22 Juli 1980. Terakhir Unilever tidak saja memproduksi minyak goreng sawit atau makan dan sabun, tetapi merambah produk deterjen, margarin, makanan berbahan susu, es krim, makanan dan minuman dari teh, serta produk-produk kosmetik. (T1)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit