infosawit

Perbaikan Sawit Berkelanjutan



Perbaikan Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA - Mungkin para pelaku sawit tidak akan asing bila mendengar skim praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan yang hampir satu dasawarsa ini digaungkan, misalnya Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang begitu populer di dunia. Saat ini kabarnya anggota RSPO telah mencapai sekitar 3.422 dari 7 sektor.

Sementara menyusul sekitar hampir sewindu lalu, skim sawit berkelanjutan ditingkat domestik pun muncul, sebagai bentuk komitmen tinggi terhadap perlindungan lingkungan dan membentuk industri kelapa sawit yang layak lingkungan dan layak sosial.

Kemunculan skim berkelanjutan ini, utamanya RSPO, sempat membuat pelaku sawit dibuat senewen,  lantaran penerapan praktik budidaya yang dianggap sangat tergesa-gesa dan terkesan dipaksakan. Padahal mengubah mainset atau perilaku di perkebunan kelapa sawit bukanlah semudah membalik telapak tangan.

Anggapan sebagai agen asing pun muncul, akibat kebijakan yang muncul acap dianggap menguntungkan pihak konsumen yang secara fakta lebih banyak berada di negara-negara maju seperti di negara-negara di kawasan Uni Eropa. Sementara bagi pihak negara maju penerapan praktik berkelanjutan di sektor sawit itu masih dianggap kurang dan belum begitu memberatkan.

Jelas belum adanya kesamaan pandangan ini berakibat pada munculnya argumentasi yang berlawanan, maka wajar bila kemudian ada anggapa praktik berkelanjutan itu bagian dari upaya negara maju dalam menerapkan politik dagang.

Jelas, bila argumentasinya berkutat pada isu perdagangan tidak akan didapat solusi tuntas, terlebih pengembangan perkebunan kelapa sawit di lapangan terus berjalan. Maka bisa jadi pilihannya adalah mengambil jalan tengah dengan mengikuti secara bertahap, dan terus menginformasikan dengan baik ke konsumen mengenai perkembangan praktik budidaya dalam menghasilkan minyak sawit di dunia.

Kemunculan resolusi sawit di Parlemen Uni Eropa, menjadi salah satu contoh cobaan bagi penerapan praktik budidaya kelapa sawit di Indonesia. Sejatinya, bila semua perkebunan kelapa sawit telah menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, tudingan itu sangat mudah untuk dipatahkan.

Sayangnya, praktik di lapangan masih pula didapat praktik budidaya kelapa sawit konvensional yang akhirnya mengoreksi upaya penerapan budidaya sawit berkelanjutan. Apalagi praktik ini juga mulai dikenalkan kepada pekebun sawit plasma dan swadaya, yang notabene sedikit informasi, minim sarana, dan terbatas secara finansial.

RSPO sebagai organisasi multistakholder untuk penerapan praktik budidaya sawit berkelanjutan bisa didorong sebagai bentuk komitmen tinggi bagi para pelaku sawit baik pekebun sawit maupun perusahaan untuk mewujudkan kelapa sawit layak lingkungan dan sosial.

Guna mengetahui sejauhmana penerapan praktik berkelanjutan ini diterapkan, pada Majalah InfoSAWIT edisi Desember 2017 kali ini, akan mengupas mengenai cara kerja RSPO dan cara pengenalan praktik budidaya kelapa sawit, baik untuk perusahaan maupun pekebun sawit kecil. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit