infosawit

Kebijakan Resolusi Sawit Uni Eropa Berdampak Buruk Bagi Petani



Dari kiri: Ketua Sekretariat ISPO, Azis Hidayat; Sekjen Apkasindo, Asmar Arsjad, Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar; Didiek Hadjargoenandi
 Kebijakan Resolusi Sawit Uni Eropa Berdampak Buruk Bagi Petani

InfoSAWIT, JAKARTA – Dikatakan Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asmar Arsjad, pelarangan minyak sawit untuk penggunaan biodiesel di Eropa sama dengan kejahatan sistematis untuk membunuh 5,3juta petani Indonesia yang hidupnya tergantung dari kelapa sawit. “Kami, meminta Uni Eropa untuk menghentikan upaya pelarangan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel.  menghimbau masyarakat Indonesia dan mendorong pemerintah untuk memboikot produk-produk Eropa,” katanya kepada InfoSAWIT, Jumat, (26/12018), dalam sebuah acara diskusi di Jakarta.

Proposal larangan minyak sawit sebagai biodiesel di Eropa ini akan memukul Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dan para petani sawit Indonesia akan terkena dampak sangat serius.

Upaya Parlemen Eropa melarang penggunaan biodisel berbasis minyak kelapa sawit dilatarbelakangi isu sustainability dandeforestasi di perkebunansawit di Indonesia. Padahal pada kenyataannya Pemerintah Indonesia besertaAsosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) sudah melakukan perbaikan kelemahan-kelemahan yang terjadi di masa lalu.

Seperti diketahui, kelapa sawit yang merupakan komoditi utama perkebunan telah menjadi motor pengentasan kemiskinan dan pendorong pembangunan pedesaan. Prestasi pemerintah Indonesia bersama dengan petani sawit dalam mencegah kebakaran hutan dan mengedepankan tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan sudah semestinya dihargai dan dipercayai oleh dunia.

Arsjad menyatakan bahwa telah massif dilakukan pelatihan-pelatihan good agricultural practices yang mendorong praktik berkelanjutan yang mampu meningkatkan produktivitas. Dengan peningkatan produktivitasini, para petani cenderung menghindari perluasan lahan sawit.

Padahal dunia juga mengakui bahwa kelapa sawit merupakan tanaman paling feasible memenuhi permintaan global minyak nabati tanpa memerlukan lahan besar. Untuk menghasilkan 1 ton minyak nabati, kelapa sawit membutuhkan areal seperempat (0,25 hektar) dibandingkan dengan kedelai maupun rapeseed yang membutuhkan areal yang lebih luas 1-1,5 hektar.  “Maka, rencana pembatasan sawit sebagai biodiesel oleh Parlemen Uni Eropa adalah kejahatan serius bagi petani kelapa sawit Indonesia,” tandas Asmar. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit