infosawit

Kebijakan Sawit Ini Hanya Sesaat



Kebijakan Sawit Ini Hanya Sesaat

InfoSAWIT, JAKARTA - Instrumen kebijakan dalam suatu negara menjadi salah satu penyebab tumbuh atau tidaknya suatu industri, tidak terkecuali industri perkebunan kelapa sawit nasional. Awalnya, industri kelapa sawit nasional didukung dengan kebijakan yang mendorong untuk tumbuh.

Misalnya pada tahun 1970-an, guna mengembangkan industri kelapa sawit pemerintah Indonesia yang kala itu di pimpin Presiden Soeharto, menerbitkan kebijakan bantuan pendanaan untuk pengembangan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN). Era itu, lahan dengan mudah didapat demikian pula bantuan dana dari perbankan yang difasilitasi pemerintah.

Berlanjut pada tahun 1980 an, tatkala muncul program transmigrasi, pemerintah pun menggandeng program transmigrasi dengan pelaku swasta untuk membuka kebun sawit dengan pola inti-plasma.

Hasilnya, pertumbuhan lahan kelapa sawit nasional sangat pesat, bahkan pada 2006 silam mampu menjadi jawara produsen nomor wahid CPO di dunia, meninggalkan Malaysia.

Sayangnya, paska 2006 hingga saat ini pemerintah seolah gamang dan kurang memahi industri kelapa sawit nasional. Industri yang berkontribusi besar pada pendapatan devisa negara itu acap dihadapkan pada regulasi yang salah sasaran, dan terkesan hanya menjadi sapi perahan.

Disaat kebijakan Bea Keluar (BK) sawit yang belum tuntas digugat lantaran tidak memiliki implikasi positif terhadap kemajuan industri kelapa sawit nasional, kini telah muncul kebijakan baru berupa CPO Support Fund (CSF), yang pada akhirnya menjadi dasar dibentuknya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Kabarnya kebijakan itu sebagai salah satu upaya untuk mengerek harga CPO yang semenjak akhir 2014 silam terus melemah. Namun, sayang kebijakan CSF faktanya memiliki implikasi yang sangat luas sampai tingkat petani, serta kebijakan itu terkesan sebagai kebijakan sesaat.

Lantaran, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani bakal terkoreksi tajam. Namun dengan dalih butuh dana pengembangan pasar biodiesel domestik, supaya pasokan CPO global menyusut, lantas harga CPO terkerek naik, seolah menutup resiko yang bakal dirasakan para petani. Apakah CSF memang menjadi solusi meningkatnya harga?

Selain CSF, pelemahan harga CPO saat ini telah mengundang kekhawatiran pelaku usaha, apa iya industri kelapa sawit nasional telah memasuki masa kritis? Tentu saja kemungkinan itu ada jika harga CPO terus terjun bebas dibawah US$ 500/ton, bisa dipastikan banyak perkebunan kelapa sawit yang gulung tikar atau di lego.

Tapi tunggu dulu, faktanya ada juga perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bakal mampu bertahan, lantas bagaimana cara perusahaan perkebunan kelapa sawit itu bisa bertahan? Untuk ulasan lengkapnya bisa dibaca pada InfoSAWIT edisi Juni 2015. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit