infosawit

Deforestasi dan Tekanan Praktik Sawit Berkelanjutan



Deforestasi dan Tekanan Praktik Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA –Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan, kata ‘deforestasi’ mengandung implikasi “tekanan” internasional dalam menilai Indonesia pada capaian-capaian kerja berkaitan dengan sustainability, dan diantaranya menjadi restriksi.

Menurutnya, deklarasi Amsterdam yang mengharuskan pasokan minyak kelapa sawit ke Uni Eropa merupakan minyak sawit yang telah memiliki sertifikat berkelanjutan dan akan efektif diterapkan pada 2020, telah  ditandatangani oleh Perancis, Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia dan Inggris. “Hal tersebut merupakan sebuah komitmen politik untuk mendukung komitmen sektor swasta, terkait dengan deforestasi dan pasokan minyak sawit yang berkelanjutan (sutainable palm oil) dan hingga saat ini secara efektif bekerja dan melaksanakan monitoring, termasuk ke Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (29/1/2018).

Lebih lanjut kata Siti Nurbaya, saat ini definisi hutan dan deforestasi masih menjadi perdebatan di kalangan pakar/peneliti, maupun pengambil keputusan, baik nasional maupun internasional. Perbedaan definisi ini akan berpengaruh terhadap metode pengukuran yang akan digunakan, serta data dan informasi yang dihasilkan, baik dari akurasi maupun konsistensinya.

Berkenaan dengan hal tersebut, Siti Nurbaya menekankanpentingnya kesepahaman bersama, lokal-nasional-internasional, sehingga upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak saja untuk memenuhi mandat dan perintah konstitusi UUD 1945, tetapi juga dapat memenuhi requirement atau persyaratan internasional yang telah menjadi konvensi.

“Pembahasan tentang deforestasi ini menjadi sangat penting untuk kita melangkah, dan bekerja secara “teguh-kukuh”. Posisi ini menjadi sangat penting untuk Indonesia karena berada pada posisi menuju negara maju. Ddeforestasi bukan lagi menjadi beban citra, tetapi sebagai bagian agenda, atau yang dianggap sebagai masalah yang dapat dan kita selesaikan’, tegas Siti Nurbaya.

Upaya mewujudkan persamaan persepsi tentang definisi hutan dan deforestasi meliputi metode perhitungan, pengukuran dan pelaporan, serta tata kelola hutan yang baik, Kementerian LHK menyelenggarakan Workshop Hutan dan Deforestasi Indonesia di Jakarta (29/01/2017). Dengan didukung Pemerintah Norwegia dan Kemitraan, workshop ini merupakan bagian dari pengembangan National Forest Monitoring System (NFMS), atau Sistem Monitoring Kehutanan Nasional (SIMONTANA).

Berdasarkan hasil analisa data penutupan lahan tahun 2017 (periode Juli 2016-Juni 2017), deforestasi (netto) nasional mencapai 479 ribu hektar (ha), dengan rincian, dalam kawasan hutan mencapai seluas 308 ribu ha, dan kawasan areal penggunaan lain (APL) mencapai 171 ribu ha.

“Angka deforestasi ini turun dibandingkan dengan laju deforestasi pada tahun 2016, yaitu, 630 ribu ha. Luas hutan (forest cover) pada tahun 2017 ini meliputi 93,6 juta ha. Angka deforestasi tahun ini lebih kecil dibandingkan tahun kemarin. Hal ini menunjukkan hasil dari upaya dan kerja keras kita, untuk terus menurunkan angka deforestasi tahunan”, tuturnya.

Selain itu, Siti Nurbaya juga menyampaikan bahwa saat ini terjadi penurunan angka deforestasi dalam kawasan hutan, yaitu sebesar 64,3%, dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 73,6%. Workshop ini juga dinilai penting mengingat pengendalian deforestasi adalah salah satu isu strategis di bidang kehutanan.

“Deforestasi yang terjadi di Indonesia mengandung makna yang “blur” dan citra negatif, padahal secara teoritik dan empirik dapat berarti lain. Misalnya, ketika suatu negara atau suatu wilayah provinsi, kabupaten memerlukan kawasan hutan untuk keperluan fasilitas publik atau utilitas. Oleh karena itu term Zero Deforestation mungkin dipakai untuk kegiatan suatu entitas, tetapi tidak dapat dimaksudkan untuk pembangunan suatu wilayah administratif,”tandas dia. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit