infosawit

4 Kendala Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2017



4 Kendala Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2017

InfoSAWIT, JAKARTA - Sepanjang tahun 2017, kekhawatiran terhadap terjadinya kebakaran lahan tidak terbukti, lantaran pencegahan kebakaran lahan bisa diterapkan dengan baik. “Hampir tidak ada kasus kebakaran di perkebunan kepala sawit,” tutur Sekjen GAPKI, Togar Sitanggang, saat jumpa pers dengan media, yang dihadiri InfoSAWIT, Selasa, (30/1/2018).

Lebih lanjut kata Togar, GAPKI dan perusahaan anggotanya telah melakukan berbagai upaya mencegah terjadi kebakaran lahan dan hutan (karlahut) di sekitar konsesi dengan pembentukan Desa Siaga Api diberbagai daerah dan sampai pada akhir 2017 telah tercatat lebih dari 572 Desa Siaga Api yang dibentuk oleh perusahaan anggota GAPKI dengan berbagai nama. Pelatihan antisipasi dan mitigasi karlahut juga dilaksanakan di berbagai daerah. Kegiatan ini akan terus ditingkat dan dilanjutkan untuk ke depannya.

Hanya saja sepanjang tahun 2017 sejumlah masalah dalam dan luar negeri masih dihadapi industri perkebunan kelapa sawit nasional, paling tidak ada empat masalah yang kini menjadi ganjalan. Pertama, masalah ketidakpastian hukum terhadap HGU perkebunan tetap menjadi kekhawatiran paling besar disebabkan, terbitnya PP 57/2017 dan peraturan turunannya, serta penetapan kawasan hutan melalui SK-SK Penetapan Kawasan Hutan.

Kedua, Peraturan daerah (Perda) yang kontraproduktif masih bermunculan di daerah-daerah. Lantas, ketiga, kampanye negatif dari dalam dan luar negeri semakin gencar dilaksanakan LSM/NGO lokal dan asing terutama isu hak asasi manusia seperti child labour dan perampasan hak masyarakat adat.

Sementara keempat, terkait isu hambatan dagang juga bermunculan di berbagai negara seperti di Amerika Serikat yang memberlakukan antidumping untuk biodiesel Indonesia, munculnya resolusi Parlemen Eropa menyebutkan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dinilai masih menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM.

India juga menaikkan pajak impor minyak sawit dua kali lipat di tahun 2017 dibanding dengan tahun 2016. “Senat Australia kembali mengajukan RUU Competition and Consumer Amendment (Truth in Labeling – Palm Oil),” kata Togar.

Hambatan perdagangan yang dilakukan oleh berbagai negara sangat ironis dengan kinerja ekspor yang masih meningkat cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa minyak sawit masih merupakan minyak nabati yang sangat vital bagi dunia dan akan terus dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tiap tahunnya.

Berbagai upaya menghambat pertumbuhan industri ini akan terus dilancarkan karena persaingan dagang minyak nabati yang semakin ketat. “Dalam kondisi ini, pemerintah diharapkan lebih jeli dalam melihat permasalahan dan dihimbau untuk tidak mengeluarkan regulasi-regulasi yang justru menghambat perkembangan industri sawit yang notabene saat ini merupakan mesin penghasil devisa terbesar dalam menyokong perekonomian Indonesia,” tandas Togar. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit