infosawit

Produksi Minyak Sawit Dunia Pada 2030 Diprediksi 127 Juta Ton



Produksi Minyak Sawit Dunia Pada 2030 Diprediksi 127 Juta Ton

InfoSAWIT, JAKARTA - Masih melandainya harga minyak sawit mentah (CPO) di dunia, akibat harga minyak mentah yang terus tergerus tidak lantas membuat pertumbuhan industri kelapa sawit di dunia pada umumnya dan Indonesia, menjadi terhenti.

Untuk beberapa negara, malah bakal lebih fokus dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit, seperi negeranegara di wilayah Afrika dan Filipina. Kedua wilayah tersebut bahkan telah membuat skema strategis pembangunan perkebunan kelapa sawit.

Kondisi demikian ditengarai lantaran permintaan CPO dunia tidak bakal berkurang, merujuk prediksi Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), permitaan CPO bakal terus meningkat sejalan dengan terus melonjaknya populasi dunia, dan adanya pergeseran penggunaan sumber energi dari bahan bakar berbasis fosil ke minyak nabati (biofuel).

Disamping, penggunaan produk minyak nabati berbasis lemak (butter, lard, fish oil, tallow and greese) di dunia yang sangat terbatas. Sehingga kemampuannya guna memenuhi kebutuhan dunia cenderung tergerus.

Jika tahun 2010 silam permintaan lemak sebanyak 14,3% atau sebanyak 24,6 juta ton dari total permintaan minyak dan lemak dunia sekitar 171 juta ton, maka di tahun 2030 diprediksi bakal turun hanya sekitar 11,2% atau sebanyak 39 juta ton dari total kebutuhan dunia mencapai 355 juta ton.

Kondisi demikian dikatakan Wakil Ketua I DMSI, Sahat Sinaga, akibat dari  roduktivitas soft oils per tahun per ha berkisar 0,2 sampai 0,5 ton, atau produktivitasnya relatif rendah.

Demikian pula ketersediaan lahan di daerah sub tropis yang juga terbatas, sebab itu tumpuan harapan dunia akhirnya tertuju pada minyak nabati yang memiliki produktivitas tinggi.

Wajar bilamana, sektor perkebunan kelapa sawit di dunia terus tumbuh, demikian pula produksi CPO yang meningkat sejalan dengan terkereknya permintaan. Jika tahun 2010 lalu produksi CPO dan CPKO baru mencapai 51 juta ton, maka di tahun 2030 produksi CPO dan CPKO diperkirakan bakal mencapai 127 juta ton.

Pengembangan perkebunan kelapa sawit pun akhirnya tertuju pada dua produsen CPO dunia, Indonesia dan Malaysia. Hanya saja untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Negeri Jiran diprediksi bakal stagnan, akibat terbatasnya lahan lantaran hanya memiliki areal pengembangan perkebunan kelapa sawit seluas 5 juta ha saja.

Adanya keterbatasan lahan itu mendorong pemerintah Malaysia untuk lebih banyak mengarahkan pertumbuhan industri kelapa sawitnya pada peningakatan produktivitas, guna memperoleh kandungan minyak lebih tinggi, atau ekspansi perkebunan kelapa sawit ke luar Malaysia, seperti ke Indonesia atau wilayah Afrika. “Sebab itu harapannya tertuju pada Indonesia dan 12 negara penghasil minyak sawit diluar Indonesia,” tutur Sahat.

Justru kondisi sebaliknya dialami Indonesia. Lantaran Indonesia masih memiliki potensi lahan yang bisa ditanami kelapa sawit, maka pengembangan areal tertanam kelapa sawit pun terus dilakukan.

Tercatat setiap tahunnya areal perkebunan kelapa sawit nasional terus tumbuh, menyusul adanya penambahan areal tertanam yang dimiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, atau pembangunan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan masyarakat, atau perluasan areal perkebunan kelapa sawit milik pemerintah.

Merujuk data dari Kementerian Pertanian yang diperoleh InfoSAWIT, diperkirakan pertumbuhan luas lahan rata-rata perkebunan kelapa sawit per tahun yang dilakukan pada periode 2000 sampai 2014, terbanyak dilakukan oleh petani dengan pertumbuhan luas areal rata-rata per tahun mencapai 9,05%, disusul pelaku swasta yang mencapai 4,78%, dan pertumbuhan rata-rata luas areal perkebunan kelapa sawit setiap tahun milik pemerintah sekitar 0,72%.

Secara nasional pertumbuhan ratarata per tahun luas areal perkebunan kelapa sawit mencapai 6,12%. Atau ada penambahan luas lahan perkebunan kelapa sawit setara 400 ribu ha setiap tahunnya.

Pesatnya pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit ini pun menjadi perhatian bagi para pegiat lingkungan, lantaran pertumbuhan tinggi perkebunan kelapa sawit itu dikhawatirkan bakal memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan rusaknya hutan.

Maish berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, pertumbuhan areal tertanam perkebunan kelapa sawit tertinggi terjadi pada periode tahun 2005 sampai 2006, dimana dalam setahun luas perkebunan kelapa sawit bertambah sekitar 1,1 juta ha. Sementara pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit terendah terjadi pada periode 2006 sampai 2007, yang hanya terjadi penambahan sekitar 171 ribu ha.

Hanya saja untuk saat ini kekhawatiran pegiat lingkungan itu sedang dicari jalan tengahnya, salah satunya dengan menerapkan budidaya kelapa sawit secara berkelanjutan yang sesuai dengan standar prinsip dan kriteria Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), bersifat sukarela dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bersifat mengikat. (T2/Terbit di Majalah InfoSAWIT Edisi Februari 2015)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit