infosawit

Soedjai Kartasasmita, Sang Maestro Komoditas Sawit



Soedjai Kartasasmita, Sang Maestro Komoditas Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Pengetahuannya di sektor agribisnis khususnya perkebunan tidak bisa dipandang sebelah mata lantaran lamanya berkecimpung di perusahaan perkebunan dari karet, teh maupun kelapa sawit. Apalagi sosok kelahiran Cipari, Cilacap, 90 tahun lalu merupakan pionir program perkebunan plasma untuk kelapa sawit.

Kendati usianya terbilang tidak muda, namun untuk urusan informasi Soedjai Kartasasmita tak pernah mau ketinggalan. Setiap pagi rutinitas yang dijalani ialah membaca surat kabar khususnya terkait informasi harga untuk komoditi minyak sawit mentah (CPO), kakao dan karet.

Ini sejalan dengan filosofi hidup yang selalu dipegangnya yakni selalu melihat kedepan. “Pada dasarnya setiap orang harus melihat kedepan dan jangan melihat ke belakang artinya kita harus membaharui pengetahuan dan mengikuti perkembangan,” tutur Soedjai saat bertemu InfoSAWIT beberapa waktu lalu.

Dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki membuat Soedjai kerap dipercaya guna memimpin organisasi maupun perusahaan, oleh karenanya ia cukup dikenal dikalangan birokrat, peneliti, pengusaha baik dalam negeri maupun luar negeri.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, mencuat keprihatinan terhadap bobroknya dunia pendidikan saat ini. “Pendidikan di jaman Belanda lebih baik daripada sekarang,” ungkap pria lulusan Sekolah Pertanian Menengah Tinggi di Malang pada 1947 dan Middlebare Landbouw School di Bogor pada 1949.

Padahal pendidikan adalah modal penting guna melangkah dan mengembangkan diri, Soedjai beranggapan selama ini bisa berhasil akibat didikan ala kolonial.

Rupanya di jaman kolonial ada pelajaran tentang karakter, pelajaran inilah yangmenjadi modal Soedjai guna mengenal orang lewat jaringan komunikasi. “Dengan membangun komunikasi dan jaringan, saya banyak mengenal pimpinan perusahaan besar asing,” paparnya.

Awal karier Soedjai diawali dari perusahaan perkebunan karet milik Belanda Tiedeman & van Kerchem di Miramare, Garut dari tahun 1950 hingga 1954 dengan menjabat Asisten Senior kebun, dan Soedjai adalah orang Indonesia satu-satunya yang menduduki jabatan asisten.

Bekerja diperusahaan Belanda memberi kesempatan kepada Soedjai guna lebih mengetahui karakteristik orang Belanda termasuk kelemahan mereka yang dijadikan modal untuk bergaul. “Di perusahaan tersebut bisa mempelajari kelemahan mereka, sehingga bisa bergaul dengan mereka,” papar kakek yang telah dikaruniai beberapa cucu.

Sayangnya akibat kejadian pemberontakan DI/TII mengharuskan Soedjai mesti pindah ke Sumatera dengan alasan faktor keamanan. Lantas pada 1955 kembali bekerja di perusahaan perkebunan teh Marjandi milik Bank Industri Negara sebagai Wakil Administratur, yang bertempat di Pematang Siantar.

Kembali Soedjai memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mendalami ilmu budidaya teh, apalagi saat itu di Pematang Siantar adalah lokasi perkebunan teh terbesar. “Saya mulai mendalami ilmu budidaya teh,” katanya sambil mengenang.

Pasca Indonesia merdeka, terjadi nasionalisasi perusahaan perkebunan milik Belanda ke Indonesia, tak terkecuali tempat Soedjai bekerja yang berubah nama menjadi Perusahaan Perkebunan Nasional (PPN) Aneka Tanaman VII. Posisi Soedjai pun naik menjadi Administratur semenjak 1957.

Kerja keras Soedjai akhirnya berbuah hasil, pada tahun 1964 Soedjai dipercaya menjabat Direktur Produksi PP Dwikora III Medan, ex Sipef, setahun kemudian menjabat Direktur di PP Dwikora II Medan, ex Harrisons & Crosfield. Lantas, atas permintaan Menteri Pertanian saat itu, tepatnya tahun 1968 diminta menjadi Direktur Utama PNP/PTP VI.

Dengan sering berpindahnya mengurusi perusahaan perkebunan, menjadikan Soedjai paham betul bagaimana cara menjalankan manajemen perusahaan perkebunan. Dari tempatnya bekerja mulai mengenal kelapa sawit pasalnya PTP VI merupakan perusahaan perkebunan sawit. “Saat itu kelapa sawit termasuk barang langka, sebab pada masa itu masyarakat masih suka menanam karet dan teh,” paparnya.

Dalam menjalankan perusahaan, awal yang dilakukan Soedjai ialah pembenahan sumber daya manusia. Salah satunya dengan meminta bantuan dari pakar maupun peneliti kelapa sawit dari negara Malaysia guna menyusun program dan memberikan pelatihan khusus untuk karyawan.

Pria yang telah dikaruniai empat anak dan sempat mengenyam pendidikan di negara Kamboja tahun 1967, tidak hanya puas dengan kelapa sawit, Soedjai juga mulai mempelajari budidaya karet, akhirnya Soedjai paham benar situasi pasar karet dan kelapa sawit.

Pada tahun 1968 harga CPO jatuh dikisaran US$ 80/ton, padahal sebelumnya pernah mencapai US$ 150-200/ton. Sehingga untuk merespon kondisi tersebut pada tahun 1969 pihaknya mengirim delegasi ke luar negeri untuk mendapatkan pembeli baru ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS). “Kami berhasil meyakinkan mereka untuk membeli CPO sesuai dengan harga pasar sebab kalau tidak melakukan langkah tersebut, akan terjadi penimbunan minyak sawit besarbesaran,” ungkap Soedjai.

Namun menginjak tahun 1973 terjadi booming CPO karena Presiden AS, Richard Milhous Nixon, kala itu melakukan embargo terhadap kedelai dan imbasnya harga CPO sempat menginjak US$ 400/ton. Bullishnya harga CPO dunia berimbas pada peningkatan laba perusahaan. “Perusahaan melakukan ekspansi besar-besaran dengan melakukan pembukaan lahan sawit di Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat,” jelasnya.

Guna meningkatkan nilai tambah CPO maka pada 1974 mulai terpikirkan di kepala Soedjai guna membangun pabrik minyak goreng yang saat itu minyak goreng masih berbahan baku minyak kelapa.

Kerjasama dengan peneliti asal Malaysia pun dilakukan guna membuat minyak goreng sawit. “Kendati awalnya pesimis akhirnya pada tahun 1977 pabrik minyak goreng resmi berdiri bernama Adolina.” kata Soedjai.

Pionir Program Plasma

Terbersit kebanggaan, ketika Soedjai mengutarakan idenya tentang konsep plasma di perkebunan sawit yang dirintisnya sejak 1970 membuahkan hasil. Awalnya program plasma mengikutsertakan pensiunan TNI Angkatan Darat dari daerah Sei Baleh, Sumatera Utara.

Petani yang terlibat diperkirakanmencapai 200 hingga 300 kepala keluarga (KK), dengan luas lahan sekitar 500 hektare, yang kemudian berkembang ke daerah Sumatera Barat melalui program OPHIR.

“Program OPHIR merupakan program tersukses pemerintah saat itu, dengan dana dari bantuan Bank Dunia dan pemerintah Jerman,” ungkap penggemar fotografi ini. (T1/(Terbit di Majalah InfoSAWIT edisi Januari 2010)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit