infosawit

Minyak Sawit Disukai Industri Makanan



Minyak Sawit Disukai Industri Makanan

InfoSAWIT, JAKARTA - Selain memiliki potensi besar di sisi agronomi dan sosial dalam membantu perekonomian masyarakat, faktanya, produk minyak sawit mentah (CPO) termasuk turunannya, sangat disukai produsen makanan di seluruh dunia. Jadi jangan heran bila setiap industri makanan, baik di Eropa maupun Amerika Serikat, sangat dominan menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, atau pencampur.

Menurut ahli teknologi makanan yang berbasis di United Kingdom (UK), Kurt E Berger, dalam sebuah wawancara dengan theoilpalm. Org.,mengatakan, kendati kandungan oleic acid di sunflower sedikit memberikan rasa yang lebih gurih kepada makanan, dibanding menggunakan minyak sawit, namun performa kedua minyak itu sama baiknya karena memberikan rasa gurih.

Hanya saja bila menggunakan minyak sawit, daya simpan suatu produk makanan bakal lebih tahan lama setelah di - packing, dibandingkan menggunakan minyak nabati lainnya. “Ini alasan mengapa sebagian besar industri makanan di dunia dominan menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku. Selain itu harganya murah,” kata Kurt.

Dari sisi teknologi makanan, minyak sawit termasuk minyak dengan kekentalan semi-solid pada suhu ambient, memiliki titik cair pada suhu 35 derajat Celcius. Padahal dibawah suhu itu, semua minyak nabati pada umumnya berbentuk cair. “Ini terjadi karena 50% kandungan minyak sawit berupa saturated acids, umumnya palmitic dan stearic,” kata Kurt yang telah mempelajari minyak sawit untuk aplikasi makanan semenjak tahun 1950 lalu.

Tercatat pula, minyak sawit memiliki peran penting sebagai campuran dalam pembuatan kue kering. Biasanya dalam setiap pembuatan kue kering, dibutuhkan tepung terigu, minyak lemak dan gula. Setiapkomponen itu bakal memberikan rasa yang spesifik. Dalam pembuatan kue kering juga, biasanya liquid oil dicampur dalam jumlah yang banyak. Ini hanya bisa dipenuhi oleh hydrogenated dari minyak sawit dan palm stearin.

Dalam setiap proses membuat roti, biasanya terbentuk struktur aerated. Ini akan menimbulkan gelembung dengan lapisan yang tipis serta melekat. Ini terjadi akibat komponen protein yang terkandung di dalam terigu, yang semakin menguat dikala proses pembakaran dilakukan.

Di dalam kue dan biskuit, tentu saja, timbulnya bagian yang mengerassangat dihindari. Padahal kue mesti renyah, lembut, dan mudah dimakan. “Liquid oil yang cenderung mampu menjaga secara efektif dari pengerasan bisa dilakukan minyak sawit,” kata Kurt yang juga tercatat sebagai salah satu peneliti di London Research Laboratory milik perusahaan makanan terbesar di UK.

Selain baik digunakan sebagai bahan campuran dalam membuat kue, minyak sawit juga, faktanya, sangat umum digunakan dalam proses frying. Terlebih produk olein dari minyak sawit merupakan salah satu minyak yang sangat baik digunakan, apalagi bisa digunakan tidak hanya sekali pakai.  Minyak sawit juga memiliki kandungan antioksidan yang mampu sebagai penetral racun saat proses frying. “Wajar bila kemudian banyak industri, seperti,instant noodles, doughnuts, frozen fried foods dan  snacks, seperti potato crisps, menggunakan minyak sawit,” tandas Kurt. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit