infosawit

Mengenal Sejarah Perkebunan di Nusantara



Mengenal Sejarah Perkebunan di Nusantara

InfoSAWIT, JAKARTA –Menarik. Itu yang tersirat saat membaca pengantar buku “182 Tahun Perkebunan di Indonesia  (1830-2012)”, yang disampaikan Iman Budhi Santono, seorang sastrawan dan budayawan Yogyakarta. Dalam anggapan budaya Jawa, mahluk yang paling “jujur” di dunia adalah tumbuhan. Bahkan saking pentingnya, tumbuhan pun dijadikan nama dusun atau kampung. Tumbuhan pun ternyata bisa diartikan sebagai perlambangan kekuatan, kesabaran, kejujuran, keihklasan dan kesetiaan.

Faktanya, berbagai jenis tumbuhan di Indonesia pula seolah telah menjadi juru selamat bangsa. Betapa tidak, melimpahnya berbagai tumbuhan di Indonesia telah mendorong industri perkebunan di nusantara ini.

Bahkan industri komoditas itu, selain semakin tumbuh, pula membentuk Indonesia sebagai negara agraris yang semakin diperhitungkan di tingkat dunia. Berbagai komoditas di Indonesia sejatinya telah dikembangkan semenjak abad 18 silam. Bahkan sampai saat ini, sektor perkebunan tercatat menjadi salah satu penopang ekonomi bangsa. Indonesia pun acapkali menjadi jawara produsen komoditas, misalnya kelapa sawit, karet atau pun kakao, serta masih banyak lainnya.

Nah, buku yang ditulis oleh Renville Siagian, seorang praktisi perkebunan, menggambarkan,  betapa melimpahnya sumber daya alam Indonesia utamanya dari beberapa komoditas yang saat ini terus tumbuh. Sekaligus menggambarkan perkembangan sejarah komoditas-komoditas yang ada di Indonesia.

Dengan didukung data-data akurat dan penyampaian yang lugas, buku ini layak untuk dibaca, apalagi dalam buku ini menggambar situasi perkebunan semenjak masa Pra- Cultuurstelsel (1800 an), masa Cultuurstelsel (1830-1870), masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, masa jaman Orde Baru dan masa reformasi. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit