infosawit

Petani Sawit Please Jangan konsumtif



Petani Sawit Please Jangan konsumtif

InfoSAWIT, JAKARTA  - Cerita manis berkebun sawit terkadang bisa saja berubah menjadi duka tatkala petani sawit dihadapkan dengan segunung hutang yang telah jatuh tempo dan mesti segera dibayar.

Kejadian ini, faktanya, banyak menimpa kalangan petani kelapa sawit. Tahun 2008 silam bisa menjadi contoh. Ddisaat harga minyak sawit mentah (CPO) terkerek naik, yang disusul meningginya harga TBS, banyak petani berduyun-duyun mengubah lahan pertaniannya menjadi kebun sawit.

Harapannya untuk mendapatkan untung besar dari berkebun sawit. Nyatanya memang bukan sekadar isapan jempol. Berkebunsawit telah banyak memunculkan Orang Kaya Baru (OKB), diberbagai wilayah di sentra sawit diseluruh Nusantara. Apalagi, dengan hanya bermodalkan 2 hektar (ha) saja, petani dipastikan memperolehpenghasilan sekitar Rp 5 sampai 6 juta kala itu.

Sayangnya, booming-nya kelapa sawit juga mendorong munculnya sifat konsumtif dikalangan petani. Untuk membeli produk elektronik, mobil mewah, membangun rumah, sampai menunaikan ibadah haji berulangkali ke Tanah Suci, para petani tidak segan-segan mendapatkan pinjaman melalui kredit atau utang. Bahkan, kalau lagi panen, petani sawit bisa mengajak keluarganya melancong ke Jakarta atau malah ke luar negeri.

Menurut penuturan petani plasma Zulkifli Ritonga, perilaku konsumtif dan boros acapkali menjadi faktor penyebab utama yang mengakibatkan kegagalan petani dalam berbudidaya kelapa sawit.

Namun demikian berdasarkan pengamatan Zulkifli, kegagalan itu bukan terletak pada proses usahanya (berkebun sawit), melainkan adanya “biaya kelakuan” yang cukup tinggi dikalangan petani.

Akibatnya, tidak jarang banyak petani yang terjerat utang yang kian semakin melilit, bahkan kondisinya bisa menjadi lebih buruk, seperti, kehilangan kepemilikan kebun sawit yang selama ini menjadi sandaran perekonomian keluarga.Jika kondisinya demikian, perilaku aneh dikalangan petani muncul, seperti, menjadi gila atau keinginan menghabisi nyawa sendiri.
 

Salah seorang petani sawit dari Desa Sungai Pagar, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Marwanto, mengatakan, anjloknya harga sawit yang terjadi membuat petani sawit di desanya menjadi stres. “Ada di antara kami yang mendadak gila dan ada pula yang berusaha bunuh diri,” ujarnya.

Kondisi demikian lantaran petani merasa tidak sanggup lagi memikul beban hidup yang semakin berat, dengan tingginya utang yang harus dibayar, padahal cicilan utang itu bisa dibayarnya dari hasil panen sawit. Namun, karena harga TBS anjlok, dia tidak sanggup lagi membayar cicilan.

Kendati selama dua tahun terakhir ini harga TBS berangsur membaik dan cukup stabil, tetap saja perilaku konsumtif petani mesti selalu dijaga, apalagi gangguan iklim yang tidak menentu bisa saja berimplikasi menurunkan hasil produksi TBS dari kebun yang dimiliki petani.

Maka itu, butuh perhitungan matang sebelum menentukan pilihan guna membuka kredit untuk membeli barangbarang mewah. Jangan sampai pada akhirnya berbagai kredit itu menjadibumerang bagi petani. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit