infosawit

Apa Betul Emisi Meningkat Lantaran Sawit ?



Apa Betul Emisi Meningkat Lantaran Sawit ?

InfoSAWIT, JAKARTA - Tudingan yang memojokkan industri kelapa sawit nasional pada decade terakhir seolah tak kunjung padam, awalnya terkait isu kesehatan namun beberapa tahun terakhir masalah lingkungan pun acap kali dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Entah tudingan itu berdasarkan fakta atau tidak, namun pada akhirnya pemberitaan yang memojokkan sawit mampu membentuk opini di dunia, bahwa kelapa sawit berkontribusi besar terhadap rusaknya hutan dan meningkatnya kosentrasi karbon di atmosfer.

Semua itu bermuara pada anggapan, bahwa usaha perkebunan kelapa sawit banyak menebang hutan dan penggunaan lahan gambut yang prosesnya mengeluarkan emisi karbon. Bahkan, proses pengolahan buah kelapa sawit di pabrik dan kegiatan transportasi minyak sawit, dinilai turut berkontribusi meningkatkan emisi gas karbon.

Padahal, industri sektor nonperkebunan kelapa sawit, seperti sektor transportasi, pertambangan yang lebih boros energi (bahan bakar minyak) dari minyak bumi serta  industri manufaktur, ditengarai memiliki peran lebih besar lagi dalam mengotori udara bumi.

Maka bila alasan meningkatnya karbon akibat pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, nampaknya tudingan itu kurang tepat. Lantaran bila dilihat dari perubahan kawasan hutan menjadi areal pertanian dan perkebunan nasional dibandingkan negara lain pada periode 2000 hingga 2005, Indonesia hanya menggunakan kawasan hutan seluas 35 ribu sq km. Itupun kebanyakan digunakan untuk memenuhi pengembangan wilayah akibat pemekaran kabupaten atau provinsi.

Sementara untuk luas lahan yang digunakan perkebunan kelapa sawit hanya sekitar 9 juta ha, termasuk perkebunan sawit rakyat dan pemerintah. Selain itu sebagian besar dari kawasan yang dipergunakan tersebut berasal dari lahan penutupan bukan hutan atau semak belukar, padang ilalang, lahan terlantar dan sebagainya dari total luas daratan Indonesia sekitar 1,8 juta sq km.

Jauh dibanding dengan Rusia yang menggunakan tutupan kawasan hutan seluas 144 ribu sq km dari land area yang dimiliki sebanyak 16,3 juta sq km. Demikian pula Brazil, pada periode itu telah menggunakan kawasan tutupan  hutan seluas 164 ribu sq km dari land area yang dimiliki sejumlah 8,4 juta sq km.

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan kawasan tutupan hutan di Indonesia masih dalam takaran normal. Lantas apa benar dengan pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit nasional, pada akhirnya pula membuat peringkat kontribusi emisi Indonesia di dunia berada diurutan teratas?

Berdasarkan statistik United Nations pada 2007, mencatat Cina sebagai penyumbang terbesar emisi di dunia dengan kontribusi emisi sebanyak 6,5 miliar ton. Lantas, Amerika Serikat menghasilkan emisi karbon sampai 5,8 miliar ton. kemudian Jepang menghasilkan 1,2 miliar ton dan Jerman sebanyak 787,9 juta ton.

Lihat pula pada Annex I Kyoto Protokol (2009) yang memuat 34 negara yang sepakat sebagai penghasil emisi karbon, untuk sepakat mengurangi lajupertumbuhan emisi karbon di dunia.

Posisi Indonesia tidak termasuk dalam kesepakatan Kyoto Protocol tersebut lantaran pengeluaran emisi karbon per kapitanya hanya sekitar 1,73 ton. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki jumlah pengeluaran emisi karbon per kapitanya sebesar 17,67 ton, Australia sekitar 19,64 ton, Kanada sejumlah 16,15 ton dan Norwegia sekitar 8,49 ton. (lihat Tabel Daftar negara Annex I Kyoto Protokol).

Jelas sudah, bahwa kontribusi emisi dari Indonesia terhadap meningkatnya karbon di dunia masih sangat kecil. Namun demikian penulis sepakat penggunaan lahan hutan dan hutan gambut yang berpotensi melepas tinggi karbon ke atmosfer mesti dikurangi. Serta penerapan budidaya sawit secara lestari pun mesti diterapkan.

Terlebih, industri kelapa sawit nasional semenjak dulu memiliki aturan yang sangat ketat, apalagi kini ada kebijakan penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang sifatnya mandatori.

Dimana beleid tersebut mengacu padaperaturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Jadi adanya tudingan bahwa kerusakan hutan yang terburuk terjadi di Malaysia dan Indonesia adalah salah besar. (Teguh Patriawan/ Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Perkebunan Kadin Pusat).

 

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi April 2014

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit